Bandara Adi Sumarno Jadi Percontohan Dunia

185
Bandara Adi Sumarno, Solo - Foto: Wikipedia

HONG KONG — Organisasi Bandar Udara Internasional (Airport Council International/ACI) memilih Bandara Adi Sumarno, Solo, Jawa Tengah, menjadi salah satu proyek percontohan untuk pengembangan bandara ramah lingkungan di dunia.

Direktur Pelayanan dan Pemasaran PT Angkasa Pura I, Devi W Suradji, mengatakan tim dari ACI telah meninjau Bandara Adi Sumarno pada akhir Agustus 2018 untuk menjadikan bandara tersebut sebagai proyek percontohan program Airport Excellence (APEX) dari ACI.

ACI, organisasi terkemuka yang mengatur mengenai bandara di dunia, sebelumnya hanya memiliki standarisasi praktik terbaik melalui APEX untuk bidang keamanan dan keselamatan.

Pada 2018, ACI sedang menyusun APEX untuk program lingkungan dan memilih Bandara Adi Sumarno sebagai proyek percontohan pertama di Asia Pasifik, dan kedua di dunia selain bandara di Ekuador.

“Saat ACI datang ke Solo, kami selayaknya mendapatkan konsultasi. Apa yang belum kami terapkan dan apa yang sudah kami terapkan. Apa juga sudah ‘advance’ (lebih dulu) kami terapkan. ACI juga mendapat masukan dari pengembangan Bandara Adi Sumarno,” kata Devi di kantor ACI Asia Pacific, Hong Kong, Jumat (21/9/2018).

Saat ini, kata Devi, AP I sedang menunggu hasil lengkap rekomendasi dari ACI untuk pengembangan bandara ramah lingkungan. “Bandara di Solo sudah dievaluasi selama tujuh hari. Kita sedang menunggu rekomendasi dari mereka,” imbuhnya.

Devi menuturkan upaya pengembangan bandara menjadi infrastruktur yang ramah lingkungan sedang menjadi topik utama industri penerbangan dunia.

Tidak mudah untuk menerapkan bandara yang ramah lingkungan. Salah satu hal yang paling mendasar adalah karena bahan bakar pesawat yang menggunakan avtur. Bahan bakar ini memiliki kandungan karbon yang tinggi.

Namun pengembangan bandara menjadi lokasi yang ramah lingkungan harus terus dilakukan. AP I yang mengelola 13 bandara di kawasan tengah dan timur Indonesia juga berencana untuk mengembangkan prinsip ramah lingkungan dalam pembangunan dan pengembangan bandara.

Di dunia, berbagai otoritas sedang menyusun solusi untuk menangani dampak buruk kegiatan bandara pada lingkungan, seperti emisi karbon yang tinggi, polusi suara hingga sampah dan air. “Bandara yang nampak bersih belum tentu ramah lingkungan, bandara yang nampak hijau juga belum tentu berkelanjutan (suistanable),” ujar Devi.

AP I juga berjanji akan lebih aktif di dalam Komite Lingkungan ACI agar mampu turut menyusun kebijakan mengenai bandara yang ramah lingkungan.

Kepala Bidang Teknik dan Industri ACI Asia Pasifik S.L Wong, dalam pertemuan dengan para jurnalis, menekankan mengenai pentingnya penyelenggaraan bandara yang mampu mengurangi dampak buruk terhadap lingkungan.

Untuk menerapkan bandara ramah lingkungan, kata Wong, dapat diupayakan dengan pengurangan emisi karbon dengan memanfaatkan energi ramah lingkungan dan terbarukan, dan pengelolaan tumbuhan di sekitar bandara. (Ant)

Baca Juga
Lihat juga...