Bandara Ngurah Rai Masih Mencari Solusi Perluasan Apron

Editor: Mahadeva WS

233

BADUNG – Manajemen Bandar Udara (Bandara) Ngurah Rai, Bali, mengirim surat kepada Kepala Desa Adat Kuta. Hal itu untuk mencari solusi terbaik, dari rencana perluasan apron yang mendapatkan tentangan dari masyarakat.

Namun demikian, belum ada jawaban dari pihak desa adat, karena saat ini masih terjadi transisi pemilihan Bendesa Adat. “Kami akan segera mengagendakan ulang pertemuan tersebut,” ucap Humas Bandara Ngurah Rai, Arie Ahsanurrohim, Minggu (16/9/2018).

Dia memastikan, pihaknya tetap memperhitungkan dampak dari perluasan tersebut,  baik dari segi lingkungan maupun sosial. AP I tetap berkomitmen untuk penghidupan yang berkelanjutan, jika nanti ada dampak terutama bagi para nelayan yang ada di sekitar Bandara terutama Desa Adat Kuta. “Kami sudah mempertimbangkan semua itu. Namun kami perlu bertemu dengan masyarakat Desa Adat Kuta terelbih dahulu,” kata pria asli Malang tersebut.

Sebelumnya, perluasan Apron Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali menuai protes dari sejumlah nelayan yang berada di Pantai Jerman, Kuta, Bali. Pasalnya proyek tersebut berdampak negatif terhadap aktivitas nelayan, karena habitat mencari ikan sehari hari hilang, sejak adanya pengerukan sebagian kawasan pantai tersebut.

Nyoman Bila salah seorang nelayan di Pantai Jerman, Kuta, Badung saat memperbaiki jaring miliknya.-Foto: Sultan Anshori

Nyoman Bila, salah seorang nelayan di Pantai Jerman menyebut, perluasan apron Bandara Ngurah Rai menyebabkan jumlah ikan tangkapan berkurang. Habitat berbagai jenis ikan, tertutup material pengerukan pasir. “Sebelum adanya pengerukan, hasil tangkapnya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.

Berbagai jenis ikan yang bisa di dapat di areal lokasi proyek itu diantaranya, ikan, gurita, cumi-cumi, dan kerang. “Dulu tempat pengerukan itu, tempat banyak tangkapan, sekarang sudah tidak ada lagi. Kegiatan itu juga mempengaruhi jalur lintas para nelayan. Dimana kita berlayar harus memutar sepanjang kerusakan tersebut jika mau mencari ikan di kawasan Pantai Jimbara, karena ombak juga lumayan besar, tentu itu sangat membahayakan bagi kami,” tambah Nyoman Bila.

Oleh sebab itu, diharapkannya, ada perhatian kepada nelayan-nelayan kecil, karena aktivitas yang sudah mulai berkurang. Dibutuhkan sosialisasi bersama antara bendesa adat dan pihak Bandara. Dari data yang ada, di Pantai Jerman terdapat tiga kelompok nelayan, yang jumlahnya mencapai ratusan orang. Mereka berasal dari 88 Kepala Keluarga (KK).

Baca Juga
Lihat juga...