Bantuan Busuk Mlecca Eropa kepada PKI Musso, 70 Tahun Lalu

OLEH THOWAF ZUHARON

1.983
Thowaf Zuharon. Foto: Dokumentasi CDN

TERLALU miris jika membayangkan kebinatangan perilaku Gembong PKI Musso bersama anak buahnya sepanjang September hingga akhir Oktober 1948 di Madiun dan sekitarnya.

Bagi yang tidak mengakui keberadaan Republik Indonesia Soviet berhaluan komunis yang diproklamirkan Musso, dengan Amir Syarifuddin Harahap sebagai Perdana Menteri, maka siapa pun pasti disembelih secara massal.

Pedang pancung Algojo Musso menyasar leher penduduk tak bersalah, membantai para santri-kyai-ulama di pesantren, bahkan banyak ulama yang dikubur hidup-hidup oleh Musso dan pengikutnya.

Saat itu, Musso lebih jahanam dari binatang buas manapun, di dunia ini. Kebiadaban Musso dalam membantai manusia, tentu sudah terlatih oleh guru ideologi komunisnya bernama Lenin dan Stalin (Presiden Uni Soviet saat itu) yang sudah lebih dulu merayakan pesta pora banjir darah atas pembantaian jutaan warganya sendiri pada awal abad 20 di Uni Soviet.

Begitu jauh Musso lari ke Eropa, ternyata ia belajar untuk sempurna menjadi binatang buas yang memangsa bangsanya sendiri dengan cara sangat keji!

Melihat kebinatangan Musso, jika kita mau berpulang kepada amanat serat yang ditulis Sunan Kalijaga kepada Susuhunan Agung Hanyokrokusumo (Raja Mataram Islam yang ke-3) mengenai jenis manusia menurut perilaku dan kastanya, maka Musso telah belajar untuk menjadi manusia dengan golongan bersifat Mlecca dari Rusia dan Belanda.

Dalam sebuah serat yang ditulis oleh Sunan Kalijaga, golongan manusia bersifat Mlecca adalah yang paling jahat dan keji. Dalam serat tersebut, Sunan Kalijaga berpesan kepada Sultan Agung, bahwa akan datang ke nusantara, sebuah bangsa asing yang bisanya hanya menghisap kekayaan bangsa lain dan menginjak-injak harkat-martabat bangsa di Nusantara dengan sangat asusila.

Sebagaimana juga tercantum dalam kitab Sarasamuscaya, Mlecca adalah golongan yang jauh lebih nista dibanding Brahmana, Kstaria, Waisya, Sudra, Paria, dan Tucca. Padahal, Paria adalah orang yang hidup dengan meminta dan mengemis.

Di bawah Paria, masih ada kasta pencopet, namanya kasta Tucca. Dibawah Tucca, ada golongan sebuah bangsa yang bisanya hanya maling, mencuri, membunuh dan menghisap kekayaan bangsa lain, namanya kasta Mlecca. Sedangkan golongan paling biadab adalah begal, perampok, namanya kasta Candala.

Ketika sifat Mlecca ini tampil sebagai politikus, ia akan menjadi penjahat yang berlindung di balik kekuasaan. Ketika Mlecca ini hinggap pada golongan pedagang, maka akan tampil sebagai pengusaha yang rakus dan mencari keuntungan sendiri, tanpa memperhatikan sekitarnya.

Apabila segala sesuatu dihinggapi sifat Mlecca, maka hancurlah segalanya. Saat itu, manusia bisa menjadi binatang yang paling buas melebihi binantang apapun di dunia ini.

Berangkat dari perspektif amanat dari Sunan Kalijaga, para Mlecca dari Eropa ini terus membuat onar dan menjarah kekayaan nusantara. Sejak kedatangan penjajah Portugis, Prancis, Inggris, maupun VOC Belanda ke Nusantara, mereka menyatakan berdagang, tapi akhirnya menjadi Mlecca dengan menjarah, mencuri, dan sebagainya.

Bahkan, mereka membuat kreasi ideologi bernama komunisme, lalu diinfiltrasikan kepada para pemuda Indonesia untuk melakukan pemberontakan dan menghalalkan segala cara dengan membantai, merampok, memperkosa, berdusta, dan berbagai kebiadaban lain.

Melalui ideologi komunis beraliran Leninis-Stalinis, Musso dicetak untuk berwatak Mlecca oleh para Mlecca di Eropa, lalu menjadi binatang penjagal bagi bangsanya sendiri.

Pada 1948 itu, para Mlecca di Eropa yang berhaluan komunis, ternyata juga memberikan berbagai bantuan uang dalam jumlah besar maupun persenjataan lengkap kepada Musso dan Amir Syarifuddin.

Misalnya, kira-kira tahun 1942, Dr. Charles Van der Plas yang menjadi Gubernur Belanda wilayah Jawa Timur, membantu uang sebesar 25.000 gulden kepada Amir Syarifuddin (Wakil Ketua Gerindo yang berhaluan komunis) melalui P.J.A. Idenburg. Jika dikonversikan dengan uang rupiah sekarang, uang itu bisa mencapai lebihi dari Rp2.000.000.000 (2 milyar rupiah). Perbandingannya, saat itu, 1 gulden bisa untuk membeli 7 kg gula premium (data 1 kg gula pada 20 September 2018 adalah Rp11.500).

Uang tersebut diserahkan kepada Amir, guna mengorganisir gerakan bawah tanah melawan Jepang, melalui organisasi Gerindo yang berhaluan kiri. Itulah yang membuat Amir menjadi bandar dari berbagai gerakan kiri sejak jaman Jepang hingga masa revolusi pasca proklamasi kemerdekaan.

Berbagai bantuan busuk dari para Mlecca Belanda tersebut, juga diterima oleh Musso pada Mei 1947, di Praha, Cekoslowakia, Eropa. Saat itu, Musso, Soeripno, dan Paul de Groot (Ketua Communistische Partij Nederland di Parlemen Belanda), bertemu secara rahasia di Praha Cheko untuk membahas Rencana Kudeta Revolusioner Komunis di Indonesia.

Berbagai strategi, uang, persenjataan, sudah disiapkan oleh golongan Mlecca Eropa Belanda yang tergabung dalam Partai Komunis Internasional (KOMINTERN).

Sehingga, kita seharusnya tidak heran ketika pada 10 Agustus 1948, Musso mendarat di Tulungagung menggunakan Pesawat Catalina Royal Dutch Airforce 1941 milik Belanda. Dalam berbagai riset dan penelisikan, ternyata diketahui pada tahun 1950, pesawat Catalina dengan merk yang sama juga digunakan Capt Raymond Westerling untuk kabur ke Singapura.

Jadi, dari data yang tercatat, Belanda adalah pemesan Catalina terbanyak di Eropa saat WWII, Military Aircraft of WWII (Paperback, April 1, 2003, by Ole Steen Hansen sebagai Author).

Dari penelusuran data lainnya, pada 25 September 1948, saat pasukan TNI Divisi Siliwangi melakukan operasi pemberantasan PKI Madiun, ditemukan beberapa peti M1 Garand berbendera Belanda di Hotel dekat Danau Sarangan (data dari Buku Komunisme Dan Kegiatannya Di Indonesia, Dinas Sejarah TNI AD, 1985).

Artinya, kudeta berdarah Madiun 1948 yang didalangi oleh Musso, banyak dibantu oleh para Mlecca berhaluan komunis dari negeri Belanda.

Tak lama setelah Musso melakukan pemberontakan pada 18 September 1948, maka pada 20 September 1948, Hatta yang saat itu menjadi Wakil Presiden, memberi Keterangan Pemerintah kepada Badan Pekerja Komite Nasional Pusat (KNP).

Keterangan yang diberikan Hatta pada saat itu, terkait dengan pemberontakan Madiun yang dilakukan PKI. Karena pemberontakan Madiun, Hatta meminta KNP mensahkan Undang-Undang tentang Pemberian Kekuasaan Penuh Kepada Presiden Dalam Keadaan Bahaya selama tiga bulan.

Hatta menuturkan, pemberontakkan PKI dimaksudkan menjadikan Musso menjadi presiden dan Amir Syarifuddin sebagai Perdana Menteri Republik Indonesia Soviet.

Dalam pertemuan itu, Hatta menjelaskan, Muso dengan Front Demokrasi Rakyat (FDR) sudah melakukan aksi legal dan ilegal untuk merebut kekuasaan. Amir Sjarifuddin memang, yang membentuk FDR guna melancarkan oposisi terhadap pemerintahan Kabinet Hatta.

FDR merupakan gabungan partai dan organisasi kiri yang terdiri dari Partai Sosialis (PS), Partai Komunis Indonesia (PKI), Pemuda Sosialis Indonesia (Pesindo), Serikat Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI), dan Barisan Tani Indonesia (BTI).

Di hadapan KNP, Hatta memaparkan empat cara FDR merencanakan aksi-aksinya. Pertama, yaitu dengan rapat-rapat besar dan tertutup dengan mengadakan berbagai demostrasi. Kedua, yaitu mengadakan pemogokan-pemogokan. Ketiga, yaitu mengadakan kekacauan dengan menganjurkan perampokan, penculikan, dan terakhir perampasan kekuasaan.

Keempat fase itu dijalankan oleh FDR dengan cara teratur sekali. Perampasan kekuasaan di Madiun pun dilakukan dengan menggunakan barisan garong yang habis merampasi harta benda pegawai-pegawai Pemerintah di sana.

Namun, atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa, TNI dan khususnya Pasukan Siliwangi berhasil menghabisi kudeta berdarah Musso. Apa yang direncanakan oleh para Mlecca Eropa untuk merenggut kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berlandaskan Pancasila melalui tangan kotor Musso, akhirnya kandas.

Bagaimanapun, yang perlu kita catat bersama, kudeta Berdarah 1948 oleh Musso, merupakan Proxy War pertama yang terjadi di Indonesia. Sebuah perang yang didesain oleh kepentingan asing dengan menggunakan pion lokal sekaligus boneka keji yang bernama Musso.

Sederhananya, proxy war merupakan sebuah perang yang dalam istilah jawa disebut sebagai perang dengan nabok nyilih tangan (memukul dengan memakai tangan orang lain). Pertanyaan kita, apakah para Mlecca dari asing berhenti hanya di tahun 1948? Tentu saja tidak.

Pasca kudeta berdarah yang dilakukan oleh Musso, para Mlecca dari negara asing masih bermain dengan cara halus dan sangat tidak kelihatan. Mereka masih terus bermain untuk menghisap kekayaan negeri ini dengan cara investasi, mengirimkan bantuan ke Indonesia melalui LSM dengan dalih kemanusiaan tapi berujung onar, memasang pion-pion lokal di berbagai lini pemerintahan, mengganti Undang-Undang negara Indonesia menjadi pro kepentingan asing melalui pion-pionnya di legislatif maupun eksekutif, dan sebagainya, dan sebagainya.

Kurang lebih dua tahun lalu, para Mlecca di Eropa kembali membuat skenario proxy war dengan mengajak Nursyahbani Katjasungkana dan Todung Mulya Lubis pada Rabu, 20 Juli 2016, pukul 14.00 WIB (09.00 waktu Belanda), dengan membuat Pembacaan Keputusan Pengadilan Rakyat Internasional (International People’s Tribunal/IPT) 1965. Hal itu dilakukan di negeri Belanda yang merupakan negara tempat tinggal para Mlecca Eropa yang dulu menjarah kekayaan nusantara, bahkan dibiayai oleh berbagai Mlecca Eropa lainnya.

Melalui para pionnya, mereka mengungkit bahwa Kudeta PKI yang dikomandani oleh DN Aidit dan Letkol Untung, bukanlah kudeta. Bahkan, malah menuduh para tentara dan Banser NU melakukan pembantaian yang dianggap melanggar HAM. Artinya, serangan para Mlecca masih terus berlangsung dengan berbagai skenario, entah sampai kapan akan berakhir.

Para pembaca tentu menyadari, bahwa para Mlecca dari negara asing masih terus akan mencari boneka dan pion di Indonesia untuk menjadi seperti Kutil Gembong Komunis Tegal pada 1946, Musso tukang jagal di Madiun pada 1948, DN Aidit yang membunuh para Jenderal pada 1965, dan berbagai perilaku Mlecca Indonesia lainnya.

Jika masih ada yang mau jadi antek kepentingan asing dan berbuat keonaran berdarah, mari kita sebut mereka sebagai golongan Mlecca yang dilaknat oleh Sunan Kalijaga dan Sultan Agung. Para Mlecca berkebangsaan Indonesia tersebut, para pembaca tentu lebih tahu siapa yang dimaksud dalam tahun 2018 ini.

Menjelang pemilu pada 17 April 2019 besok, para Mlecca Asing maupun Mlecca Dalam Negeri tersebut, tentu telah membuat berbagai skenario busuk, tipu muslihat, siasat penjarahan dan pencurian keji terselubung atas berbagai kekayaan Indonesia.

Yang harus kita waspadai, bukan tidak mungkin, para Mlecca dari negeri asing membuat skenario adu domba melalui pesta demokrasi, memberikan berbagai bantuan busuk kepada orang Indonesia yang bisa dijadikan golongan Mlecca, agar Indonesia menjadi pecah berkeping-keping! Kalau itu sampai terjadi, terlalu miris! ***

Thowaf Zuharon, pemimpin redaksi Cendana News

Baca Juga
Lihat juga...