Batan Fokus Jaga Keamanan Nuklir

Editor: Satmoko Budi Santoso

207
Kepala Pusat Informatika dan Kawasan Strategis Batan Yusi Eko Yulianto - Foto Ranny Supusepa

JAKARTA – Faktor keamanan dalam pembangunan instalasi nuklir selalu menjadi sorotan semua pemangku kepentingan. Hal ini juga ditekankan kembali saat Konferensi IAEA (The International Atomic Energy Agency) ke-62 di Wina minggu lalu, walaupun sifatnya hanya promosi kepada anggota-anggotanya.

Badan Tenaga Atom Nasional (Batan) sebagai salah satu anggota IAEA juga sedang mengembangkan sistem ini di Indonesia dengan supervisi dari IAEA, baik berupa training atau workshop yang diadakan di Indonesia, mengirimkan tim Indonesia ke luar negeri dan simulasi.

Kepala Pusat Informatika dan Kawasan Strategis Batan, Yusi Eko Yulianto, menjelaskan, sejak tahun 2017, sudah mulai disusun standar program keamanan nuklir oleh IAEA untuk diaplikasikan oleh para anggotanya.

“Program baru ini adalah tentang keamanan bahan nuklir. Mencermati tentang bahan radioaktif dan bahan nuklir untuk memperkecil kemungkinan penggunaannya sebagai barang trading. Jadi sekarang semakin ketat,” kata Yusi di Puspitek Serpong, Selasa (25/9/2018).

Sebagai contohnya adalah pembelian Cesium dan Iridium 192 untuk NDT (Non Destructive Test) yang membutuhkan surat izin. Begitu pula untuk unsur Cobalt yang biasa digunakan pada industri kesehatan.

“Sistem keamanan ini adalah akutansi bahan nuklir, yang memastikan jumlah sebelum dan penggunaan, serta rumus peluruhan juga akan digunakan untuk memastikan bahan-bahan radioaktif tidak akan tersebar secara sembarangan di area lingkungan. Semua pengemasan dan penyimpanannya harus aman,” kata Yusi lebih lanjut.

Faktor perkembangan teknologi cyber juga dicermati sebagai potensi kedaruratan. “Bagaimana penggunaan internet tidak boleh sembarangan sehingga menutup potensi yang akan menimbulkan kejahatan cyber,” ujar Yusi.

Yusi menekankan bahwa seluruh fasilitas di Batan, baik desain maupun operasionalnya mengikuti pada SOP Kedaruratan, yang diawasi oleh Bapeten dan IAEA.

“Hal ini dilakukan untuk menjamin semua dilaksanakan sebaik-baiknya. Sejauh ini belum pernah ada kesalahan dalam operasional dan semoga seterusnya juga begitu. Seperti fasilitas kita di Bandung, yang sudah berumur cukup tua, tidak pernah ada kejadian darurat,” tegas Yusi.

Salah satu bentuk partisipasi Batan terkait keamanan nuklir adalah pengiriman staf Batan ke International School on Nuclear Security yang berada di bawah koordinasi International Nuclear Security Education Network (INSEN)- Division of Nuclear Security IAEA yang digelar rutin setiap tahun sejak tahun 2011. Pada tahun 2017, Batan juga berkontribusi sebagai Pengajar Tamu.

Baca Juga
Lihat juga...