Batan: Indonesia Miliki Pengalaman dalam Teknologi Nuklir Sektor Pertanian

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

303

JAKARTA — Kepala Badan Tenaga Atom Nasional (Batan), Djarot Sulistio Wisnubroto menyatakan, Indonesia masuk sebagai penyusun rancangan resolusi penguatan peran IAEA karena memang sudah memiliki pengalaman dalam pengembangan teknologi nuklir di sektor pertanian.

“Bukan hanya berfokus pada pertanian. Sejauh ini pengembangan teknologi nuklir yang dilakukan oleh Batan sudah masuk ke bidang peternakan, pangan, lingkungan, industri, kesehatan dan energi,” sebutnya saat dihubungi Cendana News melalui jaringan telpon ke Wina, Sabtu (22/9/2018).

Dengan adanya pengalaman tersebut, Indonesia bersama dengan China dan Afrika Selatan dipercaya menyusun rancangan resolusi penguatan peran IAEA untuk mendukung negara-negara anggota di bidang pertanian.

Konferensi Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA) ke-62 pada 17-21 September 2018 diakhiri dengan resolusi untuk menguatkan peran IAEA dalam seluruh ilmu nuklir dan teknologi, keamanan dan kerjasama teknis yang anggotanya berjumlah 170 negara.

“Langkah yang akan kita lakukan adalah memperkuat kerjasama selatan-selatan yang sebelumnya sudah kita tanda-tangani dengan IAEA pada 5 Februari 2018 di Jakarta. Salah satunya adalah menerima fellow dari negara-negara Afrika dan Asia Tenggara dan mengirim tenaga ahli Batan ke negara-negara tersebut,” kata Djarot

Lebih lanjut Djarot menyampaikan Batan saat ini, juga fokus pada pemuliaan shorgum, yang merupakan makanan pokok bagi sebagian masyarakat Afrika.

“Untuk pertanian, Batan memiliki kerjasama dengan banyak negara. Misalnya Mozambique, Burkina Faso, Tanzania, Mauritius, Myanmar dan Laos,” ujar Djarot.

Sementara itu, salah satu contoh kinerja Batan di bidang peternakan, yang juga disampaikan saat Konferensi IAEA ini adalah kerjasama dengan Sekolah Peternakan Rakyat dalam bidang pengaplikasian teknologi nuklir peningkatan produktivitas ternak.

Dipaparkan, melalui teknik diagnostik molekuler dengan isotop dapat diketahui riwayat ternak dan juga teknik nuklir digunakan untuk mengetahui hormon ternak betina terkait siklus reproduksi. Sehingga inseminasi dan transfer embrio ternak menjadi lebih efisien.

Selain Batan juga sudah melakukan Irradiasi Sinar Gamma untuk membantu sistem pengawetan makanan yang akan diekspor ke Eropa, Amerika dan Timur Tengah.

“Penggunaan sistem irradiasi saat ini akan lebih mengakomodir kebutuhan konsumen akan pengawetan dan keamanan makanan. Irradiasi akan membasmi serangga, mikroba patogen dan bakteri. Maka mutu bahan pangan dapat terjamin selama kemasannya tidak rusak,” kata Djarot melanjutkan.

Baca Juga
Lihat juga...