Batan, Turun Gunung Sosialisasikan Teknologi Nuklir dan Dampaknya

Editor: Satmoko Budi Santoso

255
Deputi Bidang Teknologi Energi Nuklir Batan, Suryantoro - Foto Ranny Supusepa

JAKARTA – Semakin berkembangnya fasilitas pemanfaatan teknologi nuklir yang dikelola oleh Badan Tenaga Atom Nasional (Batan) di daerah Puspiptek Serpong, mendorong Batan bekerja sama dengan Pemerintah Daerah Tangerang Selatan melakukan sosialisasi tentang apa yang dilakukan Batan dan apa manfaatnya bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Salah satu yang menjadi sorotan dalam acara sosialisasi adalah terkait jalur evakuasi masa kedaruratan.

“Kami menganggap penting untuk memberikan sosialisasi tentang apa yang dilakukan Batan pada masyarakat sekitar, yaitu kota Tangerang Selatan, Kabupaten Tangerang dan Kabupaten Bogor. Tujuannya untuk memberikan informasi kepada masyarakat manfaat fasilitas Batan kepada Indonesia, dampak-dampak dan risiko yang mungkin terjadi, jika ada kedaruratan dan menunjukkan reaktor secara langsung kepada masyarakat sekitar,” kata Deputi Bidang Teknologi Energi Nuklir Batan, Suryantoro, di Kawasan Nuklir Puspiptek Serpong, Selasa (25/9/2018).

Sebagai salah satu pemenuhan persyaratan dalam perizinan pembangunan Reaktor Daya Eksperimental (RDE) dari Badan Pengawas Tenaga Nuklir (Bapeten), Batan juga memaparkan kerja sama jalur evakuasi masa kedaruratan dengan Kota Tangerang Selatan.

“Seluruh fasilitas di Batan, baik desain maupun operasional mengikuti SOP Kedaruratan, yang diawasi oleh Bapeten dan IAEA. Hal ini dilakukan untuk menjamin semua hal dilaksanakan dengan sebaik-baiknya. Sejauh ini, belum pernah ada kesalahan dalam operasional dan semoga seterusnya juga begitu,” kata Kepala Pusat Pendayagunaan Informatika dan Kawasan Strategis Nuklir Batan, Yusi Eko Yulianto.

Terkait jalur evakuasi ini, Sekretaris Bappeda Kota Tangerang Selatan Ir. Lisherni, M.Si, menyatakan akan mengakomodir dalam pengajuan revisi Perda No.15 Tahun 2011 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Tangerang Selatan tahun 2011-2031.

“Kita akan merevisi status Puspiptek dari kawasan teknologi menjadi kawasan strategi nasional, sehingga akan mampu mengakomodir keberadaan Batan. Juga akan membantu kami mempersiapkan jalur kedaruratan untuk masyarakat dan para pekerja dalam radius 5 km,” papar Lisherni.

Lisherni menyampaikan, ada 17 jalur evakuasi dalam radius 5 km, meliputi Jalan Alam Sutera Boulevard, Jalan Benda Raya, Jalan Bhayangkara Raya, Jalan Cisauk, Jalan Dr. Setiabudi, Jalan Jalur Sutera, Jalan Lingkar CBD BSD, Jalan Lingkar Puspem, Jalan Lingkar Selatan, Jalan Pahlawan Seribu, Jalan Parakan, Jalan Pondok Cabe Raya, Jalan Raya Puspitek, Jalan Raya Serpong, Jalan Siliwangi, Jalan Sodetan Muncul dan Jalan Surya Kencana.

“Sosialisasi harus dilakukan secara terus menerus, sehingga jika terjadi masa kedaruratan maka tidak akan ada kepanikan dan tim penyelamat akan mudah mengakses daerah kejadian. Untuk revisi perda, kemungkinan sebelum akhir tahun sudah rampung dalam bentuk perda baru. Tentunya untuk keputusan final akan ada di pemerintah pusat, jika sudah ada perubahan status menjadi kawasan strategis nasional,” ujar Lisherni.

Baca Juga
Lihat juga...