Batik Ciprat, Sarana Pembelajaran Wirausaha Bagi Siswa Disabilitas

Editor: Mahadeva WS

170

JEMBER – Batik menjadi pilihan sebagian masyarakat Indonesia, dalam pengembangan ekonomi kreatif. Tidak terkecuali oleh para penyandang disabilitas, seperti yang dilakukan oleh Sekolah Luar Biasa (SLB) Patrang Kabupaten Jember.

Sekolah tersebut, memilih batik ciprat, sebagai produk unggulan hasil karya anak berkebutuhan khusus yang menjadi siswa di sekolah tersebut. Di samping sebagai upaya melestarikan budaya, kerajinan batik ciprat juga memperkaya jenis dan motif batik. Sekaligus menciptakan potensi ekonomi yang masih tergolong luas peluangnya.

Ruba’iyah ((kiri) dan Riva Akmaliah (kanan) guru pendamping kerajinan batik ciprat SLB Patrang Jember. Foto: Kusbandono.

Ruba’iyah, Guru SLB Patrang mengatakan, batik ciprat merupakan salah satu bentuk pembelajaran vokasional, untuk anak didik di SLB Patrang. Pendidikan tersebut, diharapkan menjadikan alumni SLB Patrang bisa mandiri. Sehingga siap bersaing di lingkungan masyarakat masing-masing. “Kami berharap agar nanti setelah lulus anak-anak dapat mandiri dan tidak tergantung lagi pada orang lain khususnya orang tua mereka,” kata Ruba’iyah, Selasa (25/9/2018).

Ruba’iyah menyebut, jenis dan motif batik cukup banyak. Namun pada umumnya, batik berjenis tulis dan cetak, memiliki pola jelas. Berbeda dengan batik ciprat yang tidak mempunyai pola jelas. “Kalau batik biasanya menggunakan cap dan tulis, sedangkan batik ciprat kreasi itu perpaduan dari membatik dengan menyipratkan malam (bahan batik) ke kain dan batik tulis (menggunakan canting),” jelas Ruba’iyah.

Guru pendamping kerajinan batik ciprat, Riva Akmaliah mengatakan, pembuatan batik ciprat oleh siswa SLB Patrang dilakukan secara berkelompok. Setiap kelompok terdiri dari 20 siswa, mulai SD kelas lima sampai SMA. Mereka memerlukan pantauan dan bimbingan guru secara rutin dan berkesinambungan untuk menciptakan karya. “Mereka bergiliran tiap hari, semangat juga luar biasa. Terkait motifnya kita memberi kebebasan kepada siswa untuk dijadikan kreasi, kami hanya mengarahkan,” kata Riva.

Sekolah juga mengajarkan wirausaha. Dengan memproduksi batik ciprat dengan menciptakan kreasi, serta mengaplikasikannya untuk dipasarkan ke masyarakat. “Kegiatan pembelajaran berwirausaha ini sudah berlangsung sejak 2012, untuk batik cipratnya, sedangkan batik tulis sejak 1990,” tambahnya.

Produktifitas pembuatan batik ciprat juga masih bergantung pada cuaca. Bila cuaca panas, satu hari bisa menghasilkan 10 kain batik ciprat. Dengan teknik ciprat, setiap hasil karya memiliki keunikan sendiri-sendiri. Setiap karya tidak akan pernah sama dengan karya lainnya.

Kepala SLB Patrang, Umi Salmah mengatakan, sekolah yang dipimpinnya telah lama menjadikan batik tulis maupun ciprat, sebagai metode vokasi pembelajaran. Termasuk sebagai bentuk pembelajaran berwirausaha. “Ini sebagai wadah belajar berwirausaha bagi semua siswa yang sekolah di sini. Modal pembuatan batik ciprat diambilkan dari unit usaha produksi sekolah,” kata Umi.

Hasil produksi dipasarkan melalui online, promo dengan mengikuti pameran serta dipajang di ruang promosi yang ada di sekolah. “Kita kerjasama dengan RS Jember klinik untuk seragam karyawannya, Dinas Pendidikan Jatim, Bank Jatim, Perwira (persatuan wanita wirausaha), dan lions club untuk pemasarannya. Harganya Rp125.000 untuk ukuran dua meter persegi,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...