BBKSDA Riau, Buru Pemasang Jerat

142
Ilustrasi BKSDA - Dokumentasi CDN

PEKANBARU – Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Provinsi Riau, menggelar operasi penegakan hukum, untuk menindak setiap pemasang jerat maut. Keberadaan jerat tersebut bisa mematikan satwa dilindungi.

Kebijakan tersebut diambil setelah ada insiden Harimau Sumatera liar yang mati, akibat jerat kawat baja, di Kabupaten Kuantan Singingi pada Rabu (26/9/2018). “Kita akan turunkan tim operasi terhadap pemasang jerat di Riau,” kata Kepala BBKSDA Riau, Suharyono, Kamis (27/9/2018).

Menurutnya, BKSDA sudah cukup sering melakukan sosialisasi mengenai perlindungan satwa. Empat bulan terakhir, sosialisasi kepada masyarakat difokuskan pada larangan memasang jerat. Dan, ketika imbauan tidak dilaksanakan, maka harus diberikan sikap tegas, untuk mencegah semakin banyak satwa dilindungi menjadi korban jerat maut.

Sebelum, insiden Harimau malang di lanskap Rimbang Baling di Kabupaten Kuantan Singingi, seekor anak Gajah Sumatera juga menjadi korban jerat di kaki kanannya, di Kabupaten Pelalawan. Gajah itu beruntung masih bisa diselamatkan, namun harus terpisah jauh dari induk dan kawanannya. “Ini sudah dua kali ada yang kena. Bulan Agustus lalu gajah juga kena jerat. Karena itu, saya harapkan seluruh aparat keamanan untuk ikut membantu kami yang akan segera turunkan tim operasi untuk menindak siapa saja yang menjadi penjerat,” tegasnya.

Khusus untuk kasus harimau yang terjerat, BBKSDA Riau telah menemukan pelaku pemasang jerat, yang telah menewaskan Harimau Sumatera liar beserta janin yang dikandungnya di Kabupaten Kuangan Singingi. Pelaku berinisial E, dan statusnya masih sebagai saksi, karena hingga kini mengaku memasang jerat itu untuk menangkap babi.

Suharyono menyebut, pelaku layak dihukum berat, karena perbuatan tersebut sangat mengerikan. Berdasarkan Undang-undang No.5/1990, tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, pelaku bisa dihukum penjara selama lima tahun dan denda Rp100 juta. (Ant)

Baca Juga
Lihat juga...