BBM Langka di Lembata, Antrian Mencapai Dua Kilometer

Editor: Mahadeva WS

250

LEWOLEBA – Ratusan kendaraan bermotor roda dua dan roda empat, Selasa (25/9/2018), sejak pukul 02.00 WITA, mengantri di AMPS, satu-satunya Stasiun Pengisian Bahan bakar Umum (SPBU) di kota Lewoleba, Kabupaten Lembata. SPBU terdekat lainnya, berada di dekat pelabuhan Lewoleba.

“Sejak sebulan terakhir, warga mulai mengantri di SPBU sejak dinihari, agar bisa mendapatkan BBM jenis preminum dan solar. Pengisian juga dibatasi, dan saya setiap hari harus antri hingga enam jam untuk mendapatkan bensin,” ungkap Martin Making, warga Lewoleba, Selasa (25/9/2018).

Kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang terjadi sebulan terahir, diduga karena ulah mafia. Lembata sedang menyelenggarakan festival tiga gunung pada 22 sampai 29 September, sehingga kebutuhan BBM dipastikan meningkat. “Pasokan BBM untuk Lembata diperoleh dari Pertamina Larantuka, dan kami sebagai warga sangat kecewa dengan sikap pemerintah, yang seolah-olah masa bodoh saja terhadap situasi yang terus terjadi ini,” tandasnya.

Yohanes Kia Nunang, Warga Lewoleba lainnya meminta, Pemda Lembata harus lebih fokus ke hal yang urgen seperti persoalan kelangkaan BBM. Setiap hari, antrian kendaraan terjadi sampai satu hingga dua kilometer menjadi pemandangan umum. “Soal festival tiga gunung yang menelan biaya yang katanya hampir Rp17 Miliar lebih, lebih baik dana sebesar itu diprioritaskan bangun satu buah SPBU milik Pemda Lembata, agar masyarakat tidak kesulitan BBM dan roda ekonomi pun bisa berputar,” tandasnya.

Kia Nunang menyesalkan sikap Pemkab dan DPRD Lembata, yang seharusnya menjadi representasi masyarakat, namun tidak ada seorang pun yang berbicara mengenai kelangkaan BBM. “Ini yang selalu saja terjadi dan mungkin sudah dianggap wajar oleh pemerintah dan DPRD,” keluhnya lebih lanjut.

Lembata sudah 20 tahun menjalani otonomi, namun pembangunan masih berjalan di tempat. Bahkan sejumlah pihak menilai, yang terhadi pembangunan berjalan mundur. “Kita kalah dari kabupaten lain yang sudah semakin maju. Lebih baik kita kembali saja bergabung dengan kabupaten Flores Timur,” tambahnya.

Antrian BBM di SPBU Lewoleba, kabupaten Lembata. -Foto: Ebed de Rosry

Dari pantauan Cendana News, ratusan kendaraan baik roda empat, maupun sepeda motor, truk maupun bis, berbaris rapi di samping trotoar, di sepanjang jalan raya utama di Kota Lewoleba di depan SPBU. Antrian terjadi sejak pukul 01.00 WITA. Sementara itu di sepanjang jalan di dalam Kota Lewoleba, Ibukota Kabupaten Lembata, penjual bensin eceran menjamur. Bensin atau premium ukuran satu liter dijual Rp15 ribu dan pertalite dijual Rp20 ribu perliter.

Simon Bonefasius Baon, Kepala Syahbandar Larantuka, yang dituding membatasi distribusi BBM ke Lembata menjelaskan, pihaknya hanya ingin, aspek keselamatan pelayaran dikendepankan. Hal itu mempertimbangkan, pernah terjadi kebakaran kapal pengangkut BBM saat mengisi bahan bakar di dermaga Larantuka.

“Kapal Lembata Jaya yang mengangkut BBM ke Lembata hanya mampu mengangkut 10 ton BBM dari yang terjadi selama ini 20 ton BBM. Bila memuat BBM lebih banyak tentu sangat berisiko karena tidak sesuai kapasitas,” ungkapnya.

Permasalahan tersebut, pernah dibahas dalam rapat gabungan Sahbandar Larantuka, Pemkab Lembata, APMS Lewoleba, pemilik kapal dan Depo Pertamina. Pada pertemuan yang berlangsung di Februari 2018 lalu, didapatkan dua kesepakatan. Pertama, perlu ada penambahan armada kapal pengangkut BBM ke Lembata. Dan kesepakatan kedua adalah, penambahan trayek dari sekali sehari menjadi dua kali sehari sehingga BBM bisa cukup tersedia.

Sales Manajer Pertamina, Wilayah Flores dan Lembata, Adimilyara Aqil menyebut, stok BBM di terminal BBM Maumere mencukupi untuk melayani Kabupaten Sikka, Flores Timur dan Lembata. Berapapun kebutuhan masyarakat, akan dilayani oleh Pertamina. “Pertamina menjamin stok BBM selalu tersedia, dan selalu ada stok untuk satu minggu ke depan di setiap TBBM di wilayah Flores. Untuk Lembata berapapun permintaan kami layani, namun semuanya terkendala keterbatasan kapal pengangkut BBM ke Lembata,” ungkapnya.

Permasalahannya, stok BBM sangat tergantung ketersedian kapal dan daya angkutnya. Selain itu, kondisi cuaca, juga mempengaruhi distribusi BBM ke pulau Adonara, Solor dan Lembata.

Baca Juga
Lihat juga...