Belasan Tahun Wisnu Nurcahyo Teliti Orang Utan

Editor: Koko Triarko

1.546
Wisnu Nurcahyo. –Foto: Ist
YOGYAKARTA – Belum lama ini, dosen Parasitologi Fakultas Kedokteran UGM Hewan, Dr. drh. R. Wisnu Nurcahyo, mendapat penghargaan dari Kemenristekdikti sebagai penulis dan peneliti terproduktif tingkat Perguruan Tinggi Negeri di Pulau Jawa. Ia dinilai sebagai peneliti yang paling banyak melakukan kerja sama dan bermitra dengan peneliti asing untuk kegiatan publikasi internasional. 
Ditemui di ruang kerjanya di FKH UGM, Wisnu, menyampaikan apresiasinya atas penghargaan yang diberikan pemerintah. Bagi Wisnu, penghargaan tersebut merupakan hasil atas dedikasi dan ketekunannya selama 18 tahun menggeluti riset satwa liar yang bisa dikatakan selama ini minim pendanaan dari dalam negeri.
Sebagaimana diketahui sejak 2000-an, Wisnu telah aktif meneliti perilaku dan penyakit parasitologi pada orang utan. Ia bercerita, mulai tertarik meneliti orang utan, karena rasa penasarannya pada kehidupan satwa liar.
Setelah diterima menjadi dosen pada dekade 1990-an, ia mulai mengikuti berbagai seminar dan dikusi tentang satwa liar. Dari seminar ke seminar, ia pun mendapat banyak rekan peneliti dari luar negeri yang memiliki perhatian yang sama pada satwa orang utan.
Hingga akhirnya mereka sepakat melaksnakan kolaborasi riset bersama dengan mengajukan pendanaan dari lembaga dan mitra dari luar negeri.
“Awalanya tidak banyak orang yang tertarik menekuni riset ini. Bayangkan, sejak 1992 saya rela naik turun kereta ekonomi dan bis menghadiri setiap kali ada seminar di Jakarta,” kenang Wisnu.
Saat ia menempuh pendidikan doktor di Jerman pada 1994-1998, Wisnu memiliki sahabat yang mengajaknya berkolaborasi riset untuk meneliti tentang orang utan. Wisnu juga memiliki mitra kerja dari Republik Ceko, Amerika Serikat, Perancis, dan Belgia.
Selama 18 tahun menekuni riset tentang orang utan, sedikitnya sudah 17 publikasi internasional yang telah dihasilkan, bahkan beberapa di antarannya telah dibukukan yang diterbitkan oleh Universitas Oxford.
“Semua publikasi ini mengenai kehidupan primata, ada orang utan, ada Makaka dan Gibbon. Umumnya primata semua,” kata pria kelahiran Klaten, 53 tahun silam ini.
Wisnu bercerita, meneliti kehidupan orang utan tidaklah mudah. Ia harus rela keluar masuk hutan di pedalaman Kalimantan dan Sumatra. Bersama dengan peneliti asing lainnya, mereka berbagi tugas untuk mengawasi satu orang utan untuk satu peneliti saat berada di dalam hutan.
Untuk mencari keberadaan orang utan di hutan lebat Kalimantan, mereka tidak segan-segan menyewa pemandu lokal yang tidak lain suku asli orang Dayak. Apalagi, orang utan suka tinggal di pohon yang tingginya mencapai 20-30 meter.
“Kita  menyewa orang lokal, orang Dayak. Mereka punya kemampuan magic, bisa mencium bau orang utan. Dengan membakar kemenyan, mereka menunjuk arah yang ada orang utan. Kita pun naik perahu klotok, karena masih banyak rawa, kita tunggu di lokasi yang disebutkan hingga sampai ada suara orang utan,” kenangnya.
Dikarenakan penelitian yang mereka lakukan untuk mengidentifikasi penyakit orang utan, mereka pun harus menunggu waktu defekasi (buang air besar) orang utan yang biasanya terjadi pagi hari. Sehingga pada subuh, mereka sudah berangkat, agar bisa mendapatkan feses orang utan.
“Setelah  buang air besar, kita ambil fesesnya, lalu kita teliti apa yang ia makan, daun apa. Kita ambil daun itu, kita ambil, kita korelasi dengan hasil feses,” kata pria yang mendapat penghargaan Best Young Scientist dari Masaryk University Brno, Republik Ceko pada 2015 lalu itu.
Menurut Wisnu, dedaunan dan buah-buahan yang dikonsumsi oleh orang utan mempengaruhi jenis penyakit parasit yang diderita orang utan. Bahkan, dari dedaunan yang tumbuh di alam juga ternyata mengandung senyawa anti parasit yang bisa mengobati orang utan sendiri.
”Setelah mengetahui penyakitnya, kita ingin mengidentifikasi bahan obat alam yang ada di alam yang bisa mengobati orang utan dengan sendirinya. Misalnya, Orang utan kalau tubuhnya bengkak karena digigit lebah, lalu ia turun dari pohon mengambil daun mirip pandan, dikunyah, lalu ditempel di tempat yang digigit, sepuluh menit kempes,” tuturnya.
Menurut Wisnu, dedaunan yang dikonsumsi orang utan diambil untuk didientifikasi dan diteliti kandungan senyawanya di laboratorium. Banyak dari tumbuhan yang dikonsumi tersebut mengandung obat anti parasit.
”Kita teliti lagi, kita kerja sama dengan fakultas kehutanan (UGM) untuk identifikasi tanaman hutan, lalu di LIPI kita teliti kandungan senyawanya,” katanya.
Wisnu juga mengaku, memiliki pengalaman unik saat mengambil sampel orang utan di pedalaman Sumatra. Ia bersama dengan salah satu mahasiswa yang kebetulan berada di urutan belakang rombongan, tiba-tiba tas ransel yang ada di punggungnya ditarik oleh orang utan yang berada di atas pohon, dengan begitu mahasiswa tersebut terangkat hingga 1-2 meter.
“Saya meminta mahasiswa itu untuk melepaskan  tas ranselnya, hingga ia terjatuh ke tanah. Tas itu dibawa orang utan ke atas pohon, ia hanya mengambil stabilo di dalam tas, tasnya dibuang, ternyata orang utan tertarik dengan warna yang kelihatan mencolok,” katanya.
Penelitian terhadap perilaku, jenis penyakit dan pakan alam yang dikonsumi ini, menurut Wisnu bisa diterapkan untuk kepentingan kegiatan rehabilitasi orang utan.
Menurutnya, di pusat rehabilitasi nantinya bisa ditanami tumbuhan dan jenis buah-buahan yang mengandung bahan obat-obatan yang ada di hutan, sehingga bermanfaat bagi orang utan ketika suatu saat dilepas kembali ke hutan.
Dari penelitian yang dilakukannya selama 18 tahun ini, Wisnu mengaku bisa mendapatkan data soal perilaku, pola makan, kegiatan harian orang utan hingga kebiasan orang utan membuat sarang.
Ada pun penyakit yang  paling dominan dan bersifat Zoonopsis diderita orang utan d iantaranya tbc, bakteri pada buah seperti salmonella, ecolli yang patogen, virus hepatitis dan ada juga virus yang belum teridentifikasi pada orang utan.
“Namun kalau untuk parasit, paling banyak diderita adalah malaria, cacing, dan penyakit yang disebabkan protozoa,” katanya.
Meski tetap setia menekuni riset tentang orang utan, Wisnu dalam tiga tahun terakhir juga menginisiasi gerakan konservasi Gajah Sumatra. Ia bekerja sama dengan pusat rehabilitasi Gajah, melatih para dokter hewan dan pawang gajah untuk meningkatkan kemampuan mereka merawat kesehatan gajah.
“Kita temukan banyak gajah yang mati, karena parasit cacing,” paparnya.
Kepeduliannya pada konservasi orang utan dan gajah, menurut Wisnu akan terus berlanjut. Pasalnya, populasi kedua hewan langka ini semakin terancam akibat berkurangnya jumlah habitat akibat pembukaan lahan dan kebakaran hutan serta perburuan liar.
“Popualsi orang utan di alam liar diperkirakan masih sekitar 10.000-an di Kalimantan dan Sumatra, sementara gajah jinak ada 249 ekor di pusat penangkaran, gajah liar di alam sekitar 2.000-an,”  pungkas Wisnu.
Baca Juga
Lihat juga...