Berkat Tabur Puja, Harti Terbebas Jeratan Rentenir

Editor: Mahadeva WS

838

YOGYAKARTA – Keberadaan koperasi Unit Tabur Puja, Kelompok Posdaya Angrek di Dusun Cabeyan, Panggungharjo, Sewon, Bantul, begitu dirasakan manfaatnya oleh Harti Tri Ningsih. 

Sejak adanya Koperasi Tabur Puja di dusunya, ibu rumah tangga dengan tiga anak tersebut, kini bisa terlepas dari jeratan rentenir atau bank plecit. Pinjaman dari rentenir telah membelenggunya sejak beberapa tahun terakhir. Ditemui Cendananews, Harti menyebut, bergabung dengan Koperasi Tabur Puja Posdaya Angrek, empat tahun silam.

Ia tertarik bergabung karena berbagai kemudahan yang ditawarkan. “Anak saya tiga, sementara suami hanya kerja serabutan. Sehingga untuk membantu mencukupi kebutuhan keluarga, saya harus usaha kecil-kecilan. Karena tidak punya modal, maka mau nggak mau harus pinjam. Sebelum ikut koperasi, dulu saya sempat terjerat rentenir,” tuturnya, Rabu (26/9/2018).

Sebelum ada koperasi Tabur Puja, Harti tidak memiliki pilihan lain, selain meminjam modal usaha ke rentenir. Pasalnya, jika harus meminjam ke bank, Dia tidak memiliki jaminan, yang menjadi syarat pengajuan kredit.  “Untung sekarang ada Koperasi Tabur Puja. Sangat membantu sekali, apalagi buat warga seperti saya. Syarat-syaratnya mudah, tanpa perlu jaminan, selain itu bunganya juga kecil. Jauh jika dibandingkan bank plecit,” ungkapnya.

Harti menyebut, meminjam modal Rp1 juta di koperasi Tabur Puja, Dia hanya perlu mengeluarkan uang angsuran sebesar Rp100 ribu per bulan, selama satu tahun. Sehingga totalnya Dia hanya dikenai bunga Rp200 ribu saja. Sementara jika meminjam ke rentenir dengan jumlah yang sama, Dia harus membayar bunga hingga Rp500 ribu atau separuh dari uang yang dipinjam.

Selain itu, masa waktu pembayaran angsuran di rentenir juga lebih singkat, yaitu setiap satu minggu sekali. “Kalau rentenir itu kita kan harus bayar mingguan. Jadi rasanya seperti selalu dikejar-kejar. Beda dengan Koperasi, yang dibayar setiap bulan. Jadi waktu kita lebih longgar,” ungkapnya.

Mendapatkan alokasi pinjaman Rp1 juta di tahun pertama, kini Harti telah mendapatkan alokasi pinjaman hingga Rp4 juta. Peningkatan tersebut diperoleh di tahun ke empat menjadi anggota. Dia menggunakan pinjaman tersebut untuk modal usaha warung angkringan. “Dulu saya sempat usaha pembuatan mebel dan perabot rumah tangga dari bahan limbah kayu. Tapi karena sepi, kemudian saya beralih buka warung angkringan. Ya belum genap setahun ini,” katanya.

Meski tergolong masih baru, usaha warung angkringan milik Harti mulai berkembang. Dalam sehari ia mampu mendapatkan penghasilan kotor hingga Rp300 ribu. “Mudah-mudahan bisa berkembang. Apalagi saya sudah tidak pusing lagi dikejar-kejar rentenir. Justru sekarang saya malah bisa nabung sedikit-sedikit di koperasi,” tuturnya.

Baca Juga
Lihat juga...