Biografi Pemulung

CERPEN UMI SALAMAH

412

NAMAKU Tohirin. Anak semata wayang dari pasangan Kusman dan Santi. Aku terlahir dari pasangan pemulung. Kata Bapak, pemulung adalah pekerjaan yang terbaik. Tidak ada pekerjaan di dunia ini yang mengalahkan seorang pemulung. Setiap malam Bapak selalu menanamkan kalimat itu di benakku.

Aku percaya dengan perkataan Bapak. Tidak ada keraguan sedikit pun padanya. Bapakku adalah segalanya. Dia mengajariku cara salat dan mengaji. Selepas Maghrib, Bapak tidak pernah absen mengajariku mengaji. Sembari menunggu Ibu yang tengah memasak makan malam sederhana.

Bapak tahu segalanya tentang sifat dan kepribadianku. Aku memang paling susah untuk mengaji. Malas rasanya mempelajari bahasa asing itu. Tapi Bapak mengakalinya dengan sengaja menyuruh Ibu agar memasak makan malam di saat jam mengaji.

Aku dilarang makan malam sebelum selesai mengaji. Terpaksa aku melakukannya. Tapi lambat laun, aku terbiasa untuk mengaji. Tanpa diembel-embeli makan malam.

Di siang hari, saat Bapak dan Ibu memulung, aku bermain bersama tetangga. Teman-temanku cukup banyak. Rumah tempat tinggalku memang berada di kawasan padat penduduk. Kata Bapak, semua orangtua di kawasan ini bekerja sebagai pemulung. Dusun pemulung Bapak sematkan pada kawasan ini.

Aku bahagia hidup seperti ini. Siang hari bermain bersama kawan-kawan dan malam hari bersama Bapak dan Ibu. Jika aku dan kawan-kawan bosan bermain di kawasan ini, kami akan mencari tempat lain. Kami akan berjalan melintasi sungai dan bermain di tanah lapang. Di sana kami bermain sepak bola.

Kami memang merencanakan bermain sepak bola jauh-jauh hari. Sebenarnya tanah lapang itu ada aktivitasnya. Batang-batang besi tersusun rapi di pinggir tanah lapang itu. Ada mesin besar yang tidak aku ketahui namanya. Banyak orang yang sibuk di sana saat siang hari. Entah apa yang mereka lakukan. Mereka akan pergi saat petang hari.

Nah, aku dan kawan-kawanku mencuri tanah lapang itu saat orang-orang itu pergi. Kami patungan untuk membeli bola. Ternyata jauh lebih mengasyikkan bermain sepak bola di tanah lapang. Walaupun kami hanya bermain setengah jam saja. Tapi kami akan bermain seharian saat orang-orang sibuk itu tidak ada di hari minggu.

Jika kami bosan menunggu orang-orang sibuk itu meninggalkan tanah lapang, kami akan berjalan-jalan mencari tempat lain. Kami menyusuri sepanjang jalan. Menjauh dari kawasan tempat tinggal kami, ternyata sulit menemukan tempat bermain yang cocok. Hanya ada deretan rumah dan gedung yang menjulang tinggi.

Lelah dan tidak menemukan tempat yang bagus, kami berbalik pulang. Saat itulah, kami berjumpa dengan anak-anak sebaya dengan kami yang berjalan berlawanan arah. Aku tertarik dengan mereka karena pakaian mereka yang unik.

Mereka memakai baju putih dan celana merah. Di punggung mereka ada benda yang kuyakini bernama tas. Aku tahu nama benda itu karena Bapak pernah mendapatkan itu saat memulung. Bapak lalu menjadikan tas itu sebagai bantal. Kaki mereka juga terbungkus oleh sepatu. Ya, aku juga mengetahui nama benda itu karena Bapak juga punya.

Kami saling bertatapan. Tapi tidak ada yang bersuara. Aku mengernyitkan dahi saat mereka menatap kami dengan tatapan berbeda. Seolah mengejek kami. Tapi tetap mereka tidak berkata apa-apa.

Setelah kami melewati mereka, aku bertanya-tanya siapa mereka. Apa yang mereka lakukan? Apakah mereka juga tengah mencari tempat bermain sama seperti kami? Jika benar, tadi harusnya aku mengajak mereka bergabung bersama kami. Lebih banyak anak lebih mengasyikkan.

“Guntur, siapa mereka?” tanyaku pada kawanku yang paling tua.

“Anak-anak sekolah.”

“Anak sekolah? Apa itu?”

“Kau tidak tahu? Bapakmu tidak pernah cerita?”

“Tidak. Kau tahu apa itu anak sekolah?”

“Kata Bapakku mereka anak yang belajar di sekolah.”

“Belajar? Seperti belajar mengaji seperti yang Bapak ajarkan kepadaku?”

“Hmmm… beda.”

“Apanya yang beda?”

Guntur memutar bola matanya. “Enggak tahu. Bapakku juga bilang begitu. Kau tanyakan saja pada Bapakmu.”

“Oh begitu. Baiklah, nanti aku tanyakan pada Bapakku.”

Hari ini kami bermain sepak bola seperti biasanya. Malam harinya, setelah selesai mengaji, aku bertanya perihal sekolah pada Bapak.

“Sekolah? Kenapa Tohirin tiba-tiba menanyakannya?”

“Tohirin penasaran saja. Bapak tahu apa itu sekolah?”

Bapak menghela napas panjang. “Tohirin, sekolah itu tempat yang buruk. Di sana, anak-anak yang sekolah, nantinya hanya akan menjadi orang-orang yang mencuri. Tohirin jangan pernah sekali-kali dekat pada anak sekolah. Mengerti?”

“Tapi kenapa? Mereka kelihatan anak baik-baik.”

“Tidak. Itu hanya dari luarnya saja. Tohirin masih ingat cerita Bapak kemarin kan?”

Aku mengangguk. Aku masih mengingat jelas Bapak mengeluh tentang orang-orang kaya yang mencuri.

“Nah, orang-orang itu dulu sekolah. Lihatlah hasil dari sekolah. Dari sana tercipta orang-orang yang korupsi dan maling. Kau tidak boleh mendekati mereka. Jauhi sekolah!” seru Bapak berapi-api.

Aku percaya dengan perkataan Bapak. Mulai hari ini, rasa benci pada sekolah bertumbuhan di benak dan hatiku. Aku benci dengan sekolah. Sama seperti Bapak yang membencinya.
Kehidupanku terus berjalan. Hingga aku berusia lima belas tahun, aku bosan untuk bermain.

Dulu aku sempat ingin sekolah karena Sardi, kawanku sekolah. Kata Sardi, enak bersekolah. Di sana banyak kawan dan hal-hal baru.

Aku menjadi penasaran. Kusampaikan keinginanku untuk bersekolah pada Bapak. Bapak melarang keras aku bersekolah. Dia marah dan menasihatiku berkali-kali. Akhirnya aku mengurungkan niat.

Akhirnya aku ikut bergabung bersama Bapak dan Ibu untuk memulung. Bapak menyambutnya dengan suka cita.

“Tohirin, akhirnya kau sadar di mana tempatmu seharusnya,” kata Bapak kala itu.

Aku sengaja ikut memulung selain bosan, juga ingin melihat seperti apa pekerjaan Bapak. Pekerjaan yang begitu dibangga-banggakan Bapak. Kata Bapak, mengambil sampah dan memasukkan ke dalam keranjang adalah suatu kehormatan. Lalu menukarnya ke tempat penjualan sampah menjadi uang adalah hasil yang setimpal.

Seperti aku yang biasa, aku percaya dengan perkataan Bapak. Memulung adalah pekerjaan yang mengasyikkan. Walaupun kami harus bergumul dengan sampah yang baunya minta ampun. Bahkan saat pertama kali aku memulung, aku sempat muntah saking tidak tahan dengan baunya. Lambat laun aku bisa menyesuaikan diri.

Aku terus memulung. Mengais sampah dan menukarkannya menjadi uang. Bapak menyuruhku untuk menabung uang hasil memulung. Kata Bapak, aku harus memikirkan masa depan. Maksudnya menyimpan uang demi berkeluarga nanti. Bapak ingin aku seperti Bapak dan Ibu. Hidup berkeluarga dan mempunyai anak.

Tujuh tahun kemudian, aku berhasil membangun rumah. Semuanya lewat uang hasil memulung. Tidak hanya itu, sebagian berkat aku yang berhemat dalam pengeluaran sehari-hari. Dulu, aku akan makan tiga kali sehari. Makan dengan nasi dengan lauk ikan asin dan sayur kangkung.

Sejak kutahu uang begitu berharga, aku mengganti pola makan. Dalam sehari aku hanya makan dua kali. Pagi hari sebelum pergi memulung dan sore hari setelah pulang memulung. Itu pun aku mengganti makanannya. Aku terbiasa makan dengan nasi dengan lauk tempe atau tahu, ditambah kecap manis.

Miskin. Memang aku miskin. Bapak pernah berkata, kemiskinan adalah takdir seorang pemulung. Hidup serba kekurangan dan berhemat. Bapak selalu menasihatiku untuk tidak berkecil hati. Buktinya walaupun Bapak dan Ibu seorang pemulung, mereka dapat membesarkanku dengan baik.

Aku pun tidak masalah hidup miskin. Bahkan dulu aku tidak tahu apa itu miskin. Aku tidak merasa aku hidup miskin. Aku sudah terbiasa hidup seperti ini, serba kekurangan. Seperti kata Bapak, itulah takdir seorang pemulung.

Rumah yang aku bangun memang sederhana. Luasnya sama seperti rumah Bapak dan Ibu. Sengaja aku beri sekat pemisah. Untuk kamar dan dapur.

Setelah rumah yang aku bangun selesai, kini giliran mencari pendamping hidup. Kata Bapak, lelaki dikatakan sejati jika sudah hidup mandiri dan berkeluarga. Aku bukannya tidak pernah merasakan cinta. Bahkan aku sudah punya incaran. Dia gadis sepermainanku sejak kecil. Dia juga berasal dari keluarga pemulung.

Aku mencintainya karena dia memiliki kemiripan yang sama denganku. Dia juga membenci sekolah. Beruntungnya aku karena dia juga menaruh hati padaku. Mungkin kebersamaan kami yang selalu bertemu kala memulung, membuat dia terbiasa denganku. Aku langsung meminangnya. Dengan mahar semampuku.

Hidup baru aku jalani bersama isteriku. Tapi keseharian kami tetap sama. Setiap hari memulung bersama. Aku meminta isteriku berhenti memulung kala dia hamil. Aku tidak ingin isteriku lelah bekerja.

Aku begitu bahagia akan menjadi seorang Bapak. Saat anakku lahir nanti, aku berjanji akan menjadi Bapak yang hebat. Sama seperti Bapakku yang hebat.

Sembilan bulan berlalu, isteriku melahirkan bayi laki-laki. Dia begitu lucu. Kata Bapak, bayi memang seperti itu. Sangat menggemaskan dan kecil. Aku resmi menjadi Bapak. Bapak dan Ibu menjadi Kakek dan Nenek.

Setiap bayiku tumbuh, bertambah semangat aku bekerja. Rasanya capek sehabis memulung kandas saat melihat muka manis bayiku. Dan waktu berlalu cepat. Anak laki-laki tumbuh sehat.
Aku menjadi ingat sewaktu kecil.

Bapakku akan mengajari salat dan mengaji. Sekarang aku gantian mengajari anak laki-lakiku salat dan mengaji. Aku dan isteriku juga merasakan kesulitan dalam mengajari anak kami. Aku menjadi sedih karena dulu aku nakal kepada Bapak dan Ibu. Tapi kerja keras tidak akan berbohong. Aku dan isteriku tidak mau menyerah untuk selalu mengajari anak kami salat dan mengaji.

Satu hal yang baru aku ingat. Aku harus mengajari anak laki-laki satu hal. Hal yang begitu penting yang harus dia ingat.

“Nak, kau tidak boleh mendekati sekolah. Tempat itu begitu terkutuk. Di sanalah orang-orang pencuri lahir,” nasihatku.

Ya, aku menanamkan semua yang Bapak ajarkan padaku. Tidak terkecuali kebencian dengan sekolah. Setelah hidup berpuluh-puluh tahun, aku akhirnya menemukan alasan yang tepat kenapa Bapak melarangku sekolah. Bahkan aku akan menjadikan anak laki-lakiku sebagai pemulung.

Kenapa pemulung? Karena jika tidak ada pemulung, bagaimana nasib kota ini? Bagaimana nasib negeri ini? Bagaimana juga nasib peradaban ini? ***

Kebumen, 9 Mei 2018

Umi Salamah lahir di Kebumen, 21 April 1996. Menulis novel, cerpen, puisi, dan artikel. Karyanya termuat dalam berbagai antologi cerpen dan puisi dan di berbagai media cetak. Buku terbarunya Because You Are My Star (novel remaja kontemporer, Alra Media 2017).

Redaksi menerima cerpen. Tema bebas tidak SARA. Karya belum pernah tayang di media mana pun baik cetak, online, juga buku. Kirim karya ke editorcendana@gmail.com

Baca Juga
Lihat juga...