BKIPM Kembangkan Sistem Cara Karantina Ikan yang Baik

Editor: Satmoko Budi Santoso

180

LAMPUNG – Balai Karantina Ikan, Pengendalian Mutu (BKIPM) dan Keamanan Hasil Perikanan Lampung, rutin melakukan kegiatan monitoring dan surveilance (pengawasan) sistem mutu cara Karantina Ikan Yang Baik (CKIB).

Joni Darmawansyah, S.St.Pi, selaku fungsional pengendali hama dan penyakit ikan (PHPI) BKIPM Lampung menyebut, bersama tim melakukan monitoring selama satu bulan sekali pada sejumlah perusahaan penyedia pakan benur udang jenis artemia dan perusahaan pembenihan udang (hatchery).

Monitoring dan surveilance sistem mutu cara Karantina Ikan Yang Baik, disebut Joni Darmawansyah, dilakukan untuk mengetahui upaya perusahaan menjaga konsistensi dari jaminan mutu terutama kesehatan ikan.

Joni Darmawansyah, S.St.Pi selaku fungsional pengendali hama dan penyakit ikan BKIPM Lampung [Foto: Henk Widi]
Berdasarkan data, ada sebanyak 13 perusahaan di Provinsi Lampung berkaitan dengan komoditas perikanan yang secara konsisten melakukan sistem CKIB dan mendapat sertifikat. Sertifikat diberikan kepada sejumlah hatchery yang dipantau karena telah memenuhi persyaratan dalam biosecurity dan pengendalian hama serta penyakit ikan karantina (HPIK) maupun hama penyakit ikan karantina (HPI) tertentu.

“Monitoring dan surveilance tersebut dilakukan rutin satu bulan sekali dengan pengecekan kesesuaian antara dokumen mutu dan form rekaman yang diisi oleh petugas CKIB dan perusahaan yang dikunjungi,” terang Joni Darmawansyah, S.St.Pi selaku fungsional pengendali hama dan penyakit ikan (PHPI) BKIPM Lampung, saat ditemui Cendana News, Selasa (25/9/2018).

Joni Darmawansyah menyebut, setelah pengecekan dilakukan, maka hasil produk perikanan bisa dikirim ke berbagai wilayah di Indonesia untuk sumber pakan alami ikan. Pengecekan secara rutin akan memberi jaminan hasil produk perusahaan memiliki sertifikat sehat dan layak dikonsumsi oleh manusia.

Selain melakukan pengecekan keabsahan dokumen, tim monitoring dan surveilance juga melakukan pengecekan ke lokasi budidaya artemia yang dilakukan oleh perusahaan PT. IANDV BIO INDONESIA pada lahan seluas 3200 meter persegi di Desa Way Muli Kecamatan Rajabasa Lampung Selatan.

Tim monitoring dan surveilance BKIPM Lampung yang didampingi Catur S. Udiyanto dari Stasiun Karantina Wilayah Kerja Bakauheni tersebut juga meninjau dua perusahaan hatchery di Kecamatan Rajabasa.

Pemantauan rutin diakuinya sekaligus melakukan observasi keberadaan hama dan penyakit yang kemungkinan ada melalui pengambilan sampel. Melalui kegiatan tersebut juga perusahaan akan memperoleh laporan hasil uji (LHU) hasil surveilance yang menyatakan bahwa komoditas ikan bebas dari HPIK.

Artemia yang sudah ditetaskan dan siap untuk menjadi pakan benur dikemas kemudian dikirim ke sejumlah pemesan [Foto: Henk Widi]
Zakaria, selaku Manager Produksi PT. IANDV BIO INDONESIA menyebut, mengapresiasi monitoring dan surveilance rutin yang dilakukan oleh tim BKIPM Lampung. Ia juga menyebut, pemeriksaan rutin tersebut sekaligus menjadi cara perusahaan untuk selalu meningkatkan produk yang dibudidayakan, khususnya artemia yang merupakan pakan alami untuk pembudidayaan benih udang atau benur di sejumlah lokasi pembenihan udang.

Zakaria menyebut, pemeriksaan rutin dilakukan oleh petugas melalui pemanfaatan laboratorium yang dimiliki untuk pengawasan mutu artemia yang merupakan plankton sebagai pakan alami untuk benur udang.

Melalui monitoring dan surveilance tersebut, ia memastikan akan terus melakukan cara karantina ikan yang baik. Budidaya artemia untuk pakan udang pada usaha hatchery  merupakan hasil impor dari negara lain. Selanjutnya ditetaskan di Lampung Selatan dan dipergunakan untuk kebutuhan perusahaan hatchery di Indonesia.

“Selain secara mandiri melakukan pengawasan mutu produk artemia, kami juga mendapat saran dan masukan dari BKIPM Lampung untuk menjaga produk perikanan yang kami budidayakan,” beber Zakaria.

Hasil pembesaran artemia hingga menetas bisa dikirim ke sejumlah hatchery melalui sejumlah prosedur yang ketat. Sejumlah bak khusus digunakan untuk pengembangan artemia  mendapat pengawasan secara maksimal. Sekaligus menggunakan teknologi canggih termasuk penggunaan aplikasi terkoneksi internet dalam menghasilkan artemia berkualitas.

Hasil budidaya artemia yang dijadwalkan, bisa dipanen pada waktu yang sudah terjadwal. Saat ini mampu memenuhi pangsa pasar lokal wilayah provinsi Lampung. Selain itu, ia menyebut, artemia yang sudah dikemas dalam stryfoam dikirim ke wilayah Aceh, Anyer provinsi Banten, Gianyar provinsi Bali hingga ke Makassar Provinsi Sulawesi Selatan.

Kualitas produk yang dihasilkan sudah mendapat pemeriksaan dari tim BKIPM Lampung sehingga bisa dikirim ke berbagai wilayah di Indonesia dalam usaha budidaya benih udang.

Baca Juga
Lihat juga...