Bubur Suro Simbol Berbagi Warga Padan

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

324

LAMPUNG — Muharram menjadi salah satu bulan yang penuh makna bagi umat Islam yang diisi dengan berbagai kegiatan, mulai dari berpuasa hingga Idul Yatama (hari raya anak anak yatim).

Mursih (53) warga Desa Padan, Kecamatan Penengahan, Kabupaten Lampung Selatan menyebutkan, kegiatan tersebut dilakukan dengan membuat beragam makanan atau kuliner setiap 10 Muharram (Asyura).

Pada 10 Muharram yang jatuh pada Kamis (20/9/2018) menu berbuka puasa sudah disiapkan oleh kaum wanita dengan sejumlah sajian. Waktu tersebut bersamaan dengan momen menyantuni, berbagi kebahagiaan bagi anak anak yatim.

“Tradisi membuat makanan spesial, salah satunya bubur dikenal dengan bubur Suro telah ada turun temurun. Selain itu, bubur ini sekaligus bentuk kepedulian kepada anak yatim yang tinggal di pesantren,” terang Mursih saat ditemui Cendana News baru baru ini.

Hasanah, salah satu warga Desa Padan, Kecamatan Penengahan, Kabupaten Lampung Selatan melakukan proses memasak bubur Suro [Foto: Henk Widi]
Bubur yang hanya muncul saat 10 Muharram dibuat secara berkelompok berdasarkan Rukun Tetangga (RT). Beras yang dikumpulkan secara patungan selanjutnya dicuci bersih dan diolah menjadi bubur menggunakan wajan besar secara gotong royong. Proses pembuatan dilakukan secara bergantian sembari membuat kuliner pelengkap.

Hasanah, warga lainnya menyebutkan, bahan pelengkap bubur berupa bumbu sop yang terdiri dari bawang merah, bawang putih, merica serta santan. Semua bahan tersebut diaduk hingga kental.

Bubur juga kerap dikreasikan dengan warna-warna tertentu, di antaranya warna kuning kunyit yang diberi rasa pedas. Bubur warna putih yang diberi garam dan bumbu lain  hingga bubur warna merah menggunakan gula aren menjadi bubur rasa manis.

“Bubur yang sudah jadi akan dituangkan dalam wadah daun pisang atau takir dan ditaburi bawang goreng, kacang goreng atau kedelai goreng,” beber Hasanah.

Bubur Suro serta nasi uduk diantar ke pesantren dan terlebih dahulu didoakan. Selain dipersiapkan untuk anak yatim, menu bubur Suro dan nasi uduk pelengkap diantarkan ke semua keluarga di desa tersebut yang disebut dengan tradisi ngeriung.

“Hampir setiap RT di desa Padan bersuku Sunda, Lampung, Jawa membuat bubur Suro sehingga akan saling hantar dan bisa dinikmati oleh semua warga,” terang Hasanah.

Khusus untuk anak yatim yang tinggal di pesantren, selain mengantar bubur Suro, nasi uduk, bingkisan berupa uang juga disertakan. Santunan tersebut disesuaikan dengan jumlah anak yatim yang ada dan sudah dimasukkan dalam amplop hasil iuran kelompok.

Oman, salah satu warga Desa Padan, menyebutkan, bubur Suro menjadi salah satu kuliner istimewa yang hanya muncul setahun sekali. Kuliner ini memiliki rasa khas gurih, pedas dan manis sesuai jenis yang dibuat.

“Bubur tersebu lebih nikmat saat dirasakan dalam kegiatan ngariung atau makan bersama,” tambahnya.

Baca Juga
Lihat juga...