Chaeruddin: Pak Harto Sukses Kembangkan Pertanian

Editor: Mahadeva WS

340
Chaeruddin, mantan wartawan istana negara di masa Presiden Soeharto. Foto : Sri Sugiarti

JAKARTA – Sepuluh tahun menjadi wartawan istana negara pada masa pemerintahaan Presiden ke 2 RI, Jenderal Besar HM Soeharto, Chaeruddin mengaku sangat bangga.

Chaeruddin, selalu meliput kegiatan Pak Harto hingga ke pelosok daerah. Terutama untuk kegiatan yang berhubungan dengan program ketahanan pangan. Apa yang dilakukan Pak Harto untuk ketahanan pangan, memiliki tujuan menjaga stabilitas pembangunan nasional. Dan akhirnya menjadikan Indonesia sukses swasembada pangan lewat pengembangan program pertanian.

Secara konsep, program kerja Pak Harto sangat jelas, karena tertuang di dalam Garis Besar Haluan Negara (GBHN). Dan di lima tahun pertama, menekankan pada pertanian yang intensifikasi.  “Pak Harto ke daerah berbicara selalu menjelaskan mengenai pertanian dan beliau sangat paham sekali,” kata Chaeruddin kepada Cendana News.

Chaeruddin mencontohkan, manakala ada panen raya di suatu daerah, Pak Harto langsung hadir, berbaur dengan petani memotong padi. Pada kesempatan tersebut kerap diadakan temu bicara dengan para petani tanpa setingan alias tidak dibuat-buat. “Temu bicara Pak Harto dengan petani itu tidak dibuat-buat, saya saksi sejarahnya karena selalu meliput kegiatan beliau, seperti Kelompencapir,” ujar mantan wartawan RRI tersebut.

Dalam temu bicara itu, Pak Harto terlihat sangat paham dengan dunia pertanian dan ketahanan pangan. Sangat detail menjelaskan program pertanian kepada para petani. Salah satunya adalah program panen dari delapan ton padi yang dihasilkan dari garapan satu hektar sawah, bisa meningkat menjadi 11 ton padi. “Pak Harto sukses kembangkan program pertanian, dari pemupukan yang teratur, jarak tanam yang agak rapat dan teknis lainnya,” jelas Chaeruddin.

Menurutnya, Pak Harto juga sukses menerapkan program sejuta hektar tanah untuk pertanian. Dalam pelaksanaannya, Kementerian Pekerjaan Umum membuat irigasi sampai ke jaringan tersier. Sementara Kementerian Pertanian membentuk sawahnya. “Jadi ada sinergi antara kementerian, saya menyaksikan karena saat itu meliput program sejuta hektar tanah untuk pertanian di Bengkulu,” tandasnya.

Program tersebut digagas Pak Harto dengan pemikiran yang matang, utamanya terkait dengan jumlah penduduk Indonesia yang setiap tahunnya bertambah. “Jadi itu memang kalau programnya selalu melihat jumlah penduduk tahun sekian akan bertambah sekian, diperhitungkan matang oleh Pak Harto. Jadi pangan itu harus tercukupi, konsepnya sangat luar biasa,” ujar Chaeruddin.

Dengan kegigihan Pak Harto membangun ketahanan pangan, hasil pertanian tidak hanya mencukupi kesejahteraan rakyatnya. Tetapi juga para petani  Indonesia, dibawah kepemimpinan Pak Harto, mampu memberikan bantuan 100.000 ton beras kepada Vietnam, yang saat itu sedang kesulitan stok beras.

Selain Vietnam, ada negara Afrika yang turut dibantu, karena tengah mengalami kesulitan pangan. Peristiwa ini terjadi saat Indonesia mencapai swasembada pangan di 1984. Padahal sebelum swasembada, Indonesia adalah negara pengimpor beras yang jumlahnya cukup besar yakni kisaran dua juta ton pertahun. “Programnya fokus pada pertanian, swasembada pangan tercapai, Pak Harto pun mendapat penghargaan dari Food and Agricultural Organization (FAO) pada tahun 1986,” jelasnya.

Meskipun ketahanan pangan pada pemerintahan sekarang ini ada relevansinya. Chaeruddin mengaku tidak ingin membandingkannya. Karena semua orang bisa melihat bagaimana kondisi ketahanan pangan Indonesia, sekarang ini. “Padahal program yang bagus itu, ya dilanjutkan saja. Tapi kita bangsa yang suka dendam, jadi kalau tidak bikin program baru, ini bukan programnya,” tukasnya.

Konsep ketahanan pangan Pak Harto masih sangat relevan diterapkan oleh pemerintahaan saat ini. Meskipun zamannya sudah berubah dengan gempuran teknologi globalisasi. Pada pemerintahan Pak Harto juga sudah menyadari bahwa zamannya sudah berubah. “Makanya, program kedua, lima tahun berikutnya itu, Pak Harto menekankan pada industri. Pak Habibie mengembangkan pesawat terbang. Pertanian juga bisa dengan industri, misalnya dengan mekanisme kontraktorisasi,” jelasnya.

Chaeruddin berharap buku “Soeharto: Ketahanan Pangan Dalam Pembangunan Nasional” karya Koos Arumdanie,  ini banyak masyarakat yang membacanya. Sehingga bisa melihat sejarah bangsa Indonesia meraih kejayaan pangan. Namun sayangnya, terkadang kita tidak mau melanjutkan atau memilah mana yang bagus untuk tetap diterapkan dalam memajukan bangsa ini.

Chaeruddin, merasa bangga karena program Keluarga Berencana (KB) sukses di masa pemerintahan Pak Harto dan hingga kini masih diterapkan. “Alhamdulillah posyandu itu masih jalan, imunisasi di desa-desa. Ini program PKK bagian dari program KB. Atas program ini Indonesia jadi negara terhormat terpilih tampil pidato di PBB di Jenewa. Saya saksi sejarah, meliput di sana,” tukasnya.

Kembali ke masalah ketahanan pangan. Chaeruddin menegaskan, ketahanan pangan itu melambangkan bahwa kita sebagai negara dan bangsa kuat. Sehingga ketika terjadi berbagai gejolak, akan tetap tahan banting. Ketahanan pangan ini bukan hanya bicara beras, tetapi menyangkut sembilan kebutuhan bahan pokok dalam kehidupan manusia. “Jadi bukan cuma beras, tapi keseluruhan bahan pokok. Makanya, dulu ada Trilogi Pembangunan, yakni satu menjaga stabilitas politik, pertumbuhan ekonomi, dan pemerataan,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...