Coconut Climber Equipment, Alat Sederhana Memudahkan Memanjat Kelapa

Editor: Mahadeva WS

1.307

MAUMERE –  Sekelompok instruktur atau dosen dan mahasiswa, Politeknik ATMI Surakarta, Kampus Cristo Re Maumere, menciptakan alat pemanjat kelapa (Coconut Climber Equipment). Sebuah alat sederhana untuk memudahkan masyarakat memanjat kelapa.

Yoseph Adrian Wohangara pengajar di kampus Politeknik ATMI Surakarta kampus Cristo Re Maumere. Foto : Ebed de Rosary

“Ide awal pembuatan alat ini muncul ketika melihat masyarakat Kabupaten Sikka yang bermata pencaharian petani kopra. Mencoba memberikan kemudahan untuk masyarakat memanjat pohon kelapa, tanpa harus bergantungan pada pohon,” sebut Yoseph Adrian Wohangara, pengajar di kampus Cristo Re Maumere, Kamis (13/9/2018).

Pada awalnya, diminta untuk membuat inovasi alat yang dibutuhkan masyarakat dalam keseharian. Alat yang bersifat sederhana, dan harganya terjangkau, namun bisa dimanfaatkan oleh masyarakat petani. “Awalnya kami buat satu buah saja sebagai uji coba, dan sekarang sudah ada tiga buah dan yang membuatnya mahasiswa. Pertama kali yang mengerjakan semua  instruktur di kampus Cristo Re, disesuaikan dengan bagiannya masing-masing. Jadi kalau las yang mengerjakan instruktur las, kalau bubut dikerjakan oleh instruktur bubut dan lainnya,” jelasnya.

Setelah dicoba dan diperbaiki ternyata alat pemanjat kelapa tersebut, bisa dipergunakan. Yoseph mendisain alat tersebut, dengan mencari berbagai referensi, kemudian disesuaikan dengan kondisi wilayah, keberadaan material, serta kebutuhan masyarakat. Alat pemanjat kelapa tersebut sangat mudah pengoperasiannya. Harga jualnya-pun terjangkau, pada awalnya dijual Rp450 ribu, sebagai promosi agar bisa dikenal masyarakat. Kini harga jual alat tersebut Rp600 ribu.

Alat ini terdiri atas dua bagian utama. Bagian atas terdapat tempat duduk dari sadel sepeda, untuk menopang berat tubuh dan memberikan rasa nyaman, mirip dengan rangka sepeda. Di bagian bawah, digerakan oleh kaki yang dikaitkan pada alat. “Agar bisa bergantungan dengan kuat pada batang kelapa, maka digunakan sling yang dililitkan pada batang kelapa. Sling juga dilengkapi dengan mekanisme pengaturan kencang dan longgar, sehingga dapat disesuaikan dengan diameter batang kelapa,” terangnya.

Prinsip kerja alatnya, semakin ditekan, makin akan semakin kuat cengkraman sling pada batang kelapa. Saat dipergunakan untuk memanjat, sling bagian atas alat akan mengendur sehingga alat bagian atas bisa digerakan. Saat bersamaan, alat bagian bawah yang menjadi pijak kaki ditekan kuat sehingga akan mencengkram batang kelapa dengan kuat. “Lalu bergantian alat bagian atas menopang berat badan saat bagian bawah alat digerakan naik,” ungkapnya.

Bagi pemula, dibutuhkan butuh waktu sekira lima sampai 10 menit, untuk menyetel di pohon kelapa. Sementara bagi yang sudah mahir, proses penyetelan hanya membutuhkan waktu dua menit saja.

Menggunakan alat karya civitas kampus Cristo Re tersebut, petani bisa lebih menghemat tenaga saat memanjat dan memetik buah kelapa. “Saat ini semakin jarang orang yang memanjat kelapa. apalagi pohonnya tinggi. Dan memang bila dibandingkan dengan orang yang memanjat, mungkin lebih cepat orangnya sebab menggunakan alat ini butuh waktu, karena dilakukan secara bertahap dan harus memindahkan alatnya dari bawah ke atas dan seterusnya,” tutur Frederikus Michael, instruktur lainnya.

Namun saat menggunakan alat tersebut, pemanjat tidak akan kesulitan saat memetik kelapa. Selain bisa memetik dengan duduk, alat tersebut bisa diputar 360 derajat, sehingga semua kelapa yang hendak dipetik bisa diturunkan dari tandannya.

Baca Juga
Lihat juga...