Cut Putri: Ibu Tien Soeharto Bangkitkan Fundamen Kebudayaan

Editor: Satmoko Budi Santoso

177
Kepala Pelaksana Harian Anjungan Aceh TMII, Cut Putri Alyanur. Foto : Sri Sugiarti

JAKARTA – Taman Mini Indonesia Indah (TMII) dibangun atas implementasi pemikiran cemerlang seorang Ibu Negara Tien Soeharto atau bernama lengkap Raden Ayu Fatimah Siti Hartinah, yang ingin memiliki cagar budaya khas Indonesia.

Pemikiran Ibu Tien Soeharto sangat luar biasa, agar Indonesia punya cagar budaya yang mengandung nilai-nilai budaya khas Indonesia. “TMII ini tercipta atas ide cemerlang Ibu Tien, sebagai sejarah panjang pelestarian dan pengembangan seni budaya bangsa Indonesia,” kata Cut Putri Alyanur, Kepala Pelaksana Harian Anjungan Aceh TMII kepada Cendana News, Minggu (9/9/2018).

Sebagai penghormatan, Cut menegaskan, jika dirinya mempunyai empat jempol, maka keempat jempol tersebut akan dia diberikan kepada Ibu Tien Soeharto atas ide cemerlangnya mempersatukan budaya bangsa dalam satu kawasan miniatur Indonesia.

“Kalau saya punya jempol empat, akan saya berikan pada Ibu Tien sebagai penghormatan saya pada beliau,” ungkapnya.

Menurutnya, empat jempol itu mengandung makna penghargaan yang luar biasa bagi pengabdian dan bakti Ibu Tien Soeharto kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Apalagi dia mengaku bahwa sejak dirinya usia 18 tahun sudah berada di barisan terdepan yang mengerti bagaimana Indonesia dan budaya.

“Saya dilahirkan dari Pemuda Pancasila dan KNPI. Saya dilahirkan dari partai besar yang sangat mengerti tentang utuhnya NKRI,” tegas Cut Putri.

Cut Putri mengaku pernah beberapa kali tampil di istana negara dan bertemu Pak Harto, dalam sebuah acara besar kala itu. Namun dengan Ibu Tien, diakui dia sering melihat manakala HUT TMII.

“Saat ultah TMII, Ibu Tien selalu keliling TMII naik bus wisata. Sepanjang jalan, beliau melambaikan tangan sambil tersenyum. Kami menyambutnya dengan kibaran bendera merah putih di tangan,” ujarnya

Cut juga merasa bangga bisa bertemu Pak Harto, di istana negara, dengan sapa dan senyum yang menyejukkan. Menurutnya, Pak Harto adalah Bapak Pembangunan Nasional dan Ibu Tien sebagai penggerak budaya.

“Ibu Tien yang meletakkan landasan dan fundamen rasa orentasi pluralisme kebudayaan itu bukan untuk disatukan, tetapi memang dibiarkan menjadi sebuah keragamaan bhineka tunggal ika,” tandasnya.

Atas landasan itu, Cut mengaku semangat pelestarian budaya bangsa selalu bersemayam dalam hatinya tak pernah luntur. Karena menurutnya, untuk nilai kebangsaan tidak ada sebuah bangsa itu lebih baik dari bangsa yang lain.

“Kalau dulu saya di Aceh, saya masih merasa Acehlah yang paling hebat. Tetapi ketika saya bergabung di TMII, saya mulai menyeimbangkan atau menyetarakan, bahwa Aceh tidak lebih baik dan Aceh tidak terbelakang,” tukasnya.

Ini, ia buktikan dengan Aceh menjadi 10 anjungan terbaik untuk Indonesia pada tahun 2018. “Aceh masuk 10 besar anjungan terbaik 2018, kami rintis sejak 2013 lalu,” ujar insinyur pertanian ini.

Menurutnya, ini sebuah penghargaan dari TMII kepada anjungan Aceh yang telah berjuang melestarikan dan mengembangkan budaya khas Aceh kepada masyarakat Indonesia dan dunia.

Tari Saman, salah satunya telah mendunia. Tarian khas Aceh ini memadukan suara hentakan gerakan tangan untuk menghasilkan sebuah perpaduan gerakan yang menarik dalam satu kesatuan harmoni.

Begitu juga dengan kehidupan masyarakat Aceh sangat menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan budaya. Julukan “Serambi Mekah” menyemat karena Aceh merupakan pintu gerbang utama masuknya agama Islam ke Indonesia.

Nafas Islam sangat kental dalam keseharian rakyat Aceh. Ini terlihat provinsi tersebut merupakan satu-satunya wilayah dengan otonomi daerah yang menjalankan syariat Islam dalam roda keharmonisan masyarakat.

Dalam usia ke 50 Yayasan Harapan Kita (YHK), sebagai yayasan pendiri TMII, Cut Putri berharap senantiasa TMII berkembang dengan inovasi yang tetap berbingkai gagasan cemerlang Ibu Tien Soeharto dalam membangkitkan kecintaan kepada Indonesia.

Menurutnya, Ibu Tien Soeharto, pendiri YHK sangat memuliakan budaya bangsa. Yang kemudian di bawah naungan yayasan itu terbangun taman seluas 150 hektar, digarap untuk menghadirkan wajah Indonesia yang penuh ragam budaya.

Kini, YHK berulang tahun emas dengan menorehkan berbagai prestasi tidak hanya di bidang pelestarian seni budaya, tapi juga kesehatan, pendidikan, pemberdayaan ekonomi, dan lainnya.

Dengan bertajuk “Melanjutkan Membangun Harapan Untuk Indonesia” pada HUT emas YHK ini Cut Putri berharap agar penerusnya yaitu Ketua Umum YHK, Siti Hardiyanti Rukmana atau Mbak Tutut Soeharto dapat mewujudkan cita-cita Ibu Tien Soeharto dalam pelestarian dan pengembangan seni budaya bangsa dengan inovasi gemilang.

Cut Putri pun berharap kepada YHK, meskipun TMII asetnya sudah diserahkan pada negara, namun dalam pemakaian anjungan sebagai aset negara, selayaknya lahan anjungan yang dipinjamkan kepada setiap provinsi dalam mempromosikan budaya daerahnya, tidak dipatok lima tahun.

“Nah, kalau kita bisa berlaku adil, seharusnya proses pinjam pakai aset tanpa sewa ini tidak lima tahun. Supaya kita bisa bernapas, minimal proses pinjam pakai itu 10 tahun bagi seluruh anjungan daerah,” tukasnya.

Anjungan Aceh TMII, berdiri di atas lahan seluas 6.552 hektar. Lahannya adalah aset negara dengan kondisi pembangunan dan pemeliharaan gedung serta listrik dan lainnya ditanggung oleh pemerintah daerah (pemda) masing-masing selama lima tahun ke depan.

Sebagai informasi, belum lama ini proses penandatanganan seluruh pemerintah provinsi Indonesia dengan Kementerian Sekretaris Negara (Kemensetneg) untuk pemakaian lahan anjungan di TMII telah dilakukan.

“Proses pinjam pakai aset ini sudah lepas dari YHK. Tapi kami berharap ada dukungan yayasan agar proses ini tidak 5 tahun, tapi 10 tahun,” tutupnya.

Lihat juga...

Isi komentar yuk