Daftar Tunggu Tersangka Baru Korupsi Pertamina

Editor: Satmoko Budi Santoso

192
Jaksa Agung HM Prasetyo - Foto M Hajoran Pulungan

JAKARTA – Kejaksaan Agung (Kejagung) terus melakukan pengembangan kasus dugaan korupsi investasi PT Pertamina (Persero) di Blok Basker Manta Gummy (BMG), Australia, tahun 2009 yang merugikan negara Rp568 miliar. Dari hasil pengembangan itu, ada calon tersangka lain, dari empat tersangka yang sudah ditetapkan.

“Sampai saat ini kita masih terus mendalami keterlibatan pihak kain, sekarang ada empat orang tersangka. Calon tersangka lagi ada, dan akan berlanjut terus hingga tuntas,” kata Jaksa Agung HM Prasetyo kepada wartawan di Gedung Kejaksaan Agung, Jakarta, Jumat (21/9/2018).

Namun sayang, Prasetyo enggan menyebutkan nama tersangka baru dalam kasus yang melibatkan mantan Dirut Pertamina Karen Agustiawan.

“Belum bisa dipublikasikan sekarang, nanti kalau sudah waktunya, tentu akan disampaikan, sabar saja dulu,” ujarnya.

Lebih jauh Prasetyo mengungkapkan, untuk menangani suatu proses perkara, apalagi kasus yang besar dan sulit, tentu dibutuhkan kecermatan dan kehati-hatian supaya hasilnya maksimal.

“Kita ketahui, penanganan proses perkara harus cermat dan hati-hati. Tidak bisa sembarangan dan sembrono, karena kita berharap hasilnya bisa maksimal. Untuk itu, kita terus melakukan pendalaman kasus ini,” jelasnya.

 

Sebagaimana diketahui, mantan Direktur Utama PT Pertamina, Karen Agustiawan, telah ditetapkan sebagai tersangka oleh tim penyidik Kejaksaan Agung sejak 22 Maret 2018. Namun, sejak ditetapkan sebagai tersangka, Karen tidak pernah diperiksa kembali sebagai tersangka oleh tim penyidik.

Pada perkara dugaan tindak pidana korupsi investasi perusahaan di Blok Basker Manta Gummy Australia tahun 2009 itu, tim penyidik Kejaksaan Agung juga menetapkan Chief Legal Councel and Compliance PT Pertamina Genades Panjaitan dan Direktur Keuangan Pertamina Frederik Siahaan sebagai tersangka.

Karen Agustiawan dan dua tersangka lainnya itu sudah dikenakan status pencegahan bepergian ke luar negeri pada 22 Maret 2018. Sedangkan mantan Manager Merger dan Investasi (MNA) pada Direktorat Hulu PT Pertamina (Persero) Bayu Kristanto sudah ditetapkan sebagai tersangka lebih dulu dan langsung ditahan selama 20 hari oleh tim penyidik.

Kasus ini sendiri terjadi pada 2009, di mana Pertamina melalui anak perusahaannya, PT Pertamina Hulu Energi (PHE) melakukan akui­sisi saham sebesar 10% terhadap ROC Oil Ltd, untuk menggarap Blok BMG. Perjanjian dengan ROC Oil atau Agreement for Sale and Purchase -BMG Project diteken pada 27 Mei 2009. Nilai transak­sinya mencapai US$31 juta.

Akibat akuisisi itu, Pertamina harus menanggung biaya yang timbul lainnya (cash call) dari Blok BMG sebesar US$26 juta. Melalui dana yang sudah dikeluarkan setara Rp 568 miliar itu, Pertamina berharap Blok BMG bisa memproduksi minyak hingga sebanyak 812 barel per hari.

Baca Juga
Lihat juga...