Dampak Kemarau, Produsen Batu Bata di Palas Terpaksa Gunakan Sumur Bor

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

238

LAMPUNG — Pemilik usaha batu bata di wilayah Lampung Selatan ikut terimbas dari musim kemarau yang melanda daerah tersebut. Mereka terpaksa mengeluarkan biaya tambahan dalam mendapatkan air untuk proses pengadukan tanah (molen).

Zunaidi (45) salah satu perajin di Desa Sukamulya, Kecamatan Palas menyebutkan,  selama kemarau, ia terpaksa membeli air Rp150 ribu untuk kebutuhan pengadukan tanah. Bahkan ia terpaksa membuat sumur bor untuk menekan pengeluaran.

“Selama kemarau proses pengeringan batu bata memang lebih cepat namun saya juga kesulitan mencari air. Sebagai efisiensi saya memilih untuk membuat sumur bor,” terang Zunaidisaat ditemui Cendana News, Sabtu (22/9/2018).

Perhitungan penggunaan sumur bor diakui lebih hemat, meski pada tahap awal harus mengeluarkan biaya cukup besar, sekitar Rp5 juta. Namun keberadaannya juga dapat digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.

Subardi dan istri melakukan proses pembuatan batu bata [Foto: Henk Widi]
Selain air, ia juga mengeluhkan harga yang mulai menurun. Kondisi tersebut berbeda dengan sesudah pembebasan lahan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) banyak warga membangun rumah hingga akhir 2017.

“Harga batu bata memang menurun karena berkurangnya permintaan, meski tetap ada yang membutuhkannya,”terang Zunaidi.

Pasangan suami istri produsen batu bata lain di Dusun Blora Desa Sukamulya, Subardi (50) dan Suminah (49) menyebutkan, selain membeli air, ia juga mempergunakan sumur gali yang difungsikan dengan mesin sedot.

Selain membeli air dari penyedotan di sungai, Subardi juga kerap membeli air dari pemilik sumur bor. Selain lebih dekat, air dari sumur bor yang dibeli bisa disalurkan ke tower penampungan sehingga bisa dipergunakan untuk mandi dan mencuci selain sebagai kebutuhan membuat batu bata.

Permintaan batu bata yang mulai menurun meski kondisi cuaca mendukung untuk pengeringan tidak lantas mengurungkan niatnya memproduksi batu bata.

Ia memastikan batu bata yang sudah diproduksi bisa disimpan di ruang penyimpanan (tobong bata) sehingga bisa dikirimkan ke pemesan sewaktu waktu.

“Permintaan biasanya akan kembali meningkat sesudah masa panen padi,” tambahnya.

Baca Juga
Lihat juga...