Dandang Produk Aceh Barat Sepi Pembeli

164
Ilustrasi dandang aluminium - Dokumentasi CDN

MEULABOH – Daya saing produk alat tradisional, seperti dandang berbahan aluminium di Kabupaten Aceh Barat, Provinsi Aceh terus anjlok. Produk tersebut terus mengalami sepi pembeli, seiring bermunculan produk elektronik modern.

“Paling saya mendapat permintaan saat momen tertentu seperti perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. Di luar momen itu selalu sepi,” kata pemilik usaha produk alat dapur rumah tangga di Meulaboh, Abu Bakar, Selasa (11/9/2018).

Walau harga dari bahan baku dari produk yang dibuat secara manual itu tidak semahal harga barang yang sudah modern, kecenderungan masyarakat saat ini lebih suka yang praktis, dan tidak membutuhkan waktu lama. Hanya saja, meski hampir terpuruk dalam usaha industri skala rumah tangga, Abu Bakar, tetap optimis menggeluti usaha tersebut.

Upaya untuk mencari peluang pasar, dengan menawarkannya kepada toko kelontong dan penjualan di kios – kios terus dilakukan. “Apalagi ini adalah usaha turun temurun keluarga saya, tidak mungkin saya buang. Saya masih yakin masih ada masyarakat yang membutuhkan peralatan manual seperti ini, terutama untuk kita di Aceh yang masyarakatnya banyak menengah bawah,” sebutnya.

Tempat usaha di Jalan Blang Pulo, Kecamatan Johan Pahlawan, memproduksi alat dapur rumah tangga seperti dandang nasi, alat warung kopi, wajan roti, sendok wajan, dan sejenis peralatan yang masih digunakan oleh pengusaha warung kopi. Harga yang ditawarkan tidak begitu tinggi, mulai dari harga termurah untuk dandang ukuran kecil seharga Rp25.000 per unit, hingga harga termahal Rp650.000 per unit untuk kapasitas menanak nasi 3,2 kilogram beras hingga 30 kilogram beras.

Abu Bakar menyebut, dandang tradisional dapat disimpan dalam waktu lama, dan dapat dipergunakan sesuai kehendak dan kebutuhan. Hal itulah yang membuat penanak nasi tradisional, masih ditemukan di rumah-rumah warga walaupun sudah ada penanak elektrik.

Dandang tradisional dapat dibeli dengan tidak mahal. Selain itu, produk bermotif barang lama ini, bisa dibuat sesuai kebutuhan, dengan bahan yang aman dan bisa digunakan untuk menanak nasi dalam jumlah banyak. “Sebenarnya dandang tradisional itu tidak akan hilang begitu saja, sebab barang-barang demikian sudah lebih awal digunakan masyarakat, walapun sudah banyak peralatan yang lebih canggih menggunakan sumber energi listrik,” pungkasnya. (Ant)

Baca Juga
Jelang Idul Adha, Harga Daging di Aceh, Melonjak IDI - Harga daging pada hari meugang (motong) menjelang Lebaran Idul Adha 1439 hijriah di Kabupaten Aceh Timur mencapai Rp180 ribu atau melonjak hingg...
Bulog Lhokseumawe Jual Sembako, Stabilkan Harga LHOKSEUMAWE - Badan Usaha Logistik (Bulog) Sub Divre Lhokseumawe, menjual sejumlah kebutuhan pokok dengan harga murah, sebagai upaya untuk menstabilis...
Koperasi Petani Kopi Gayo Keluhkan Pajak Domestik BANDA ACEH --- Sejumlah Koperasi Petani Kopi Gayo mengeluhkan besarnya pajak pertambahan nilai yang harus dibayar untuk setiap transaksi domestik atau...
BI: Perbankan Syariah di Aceh Belum Optimal SABANG --- Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Aceh menyatakan pertumbuhan perbankan syariah di Aceh belum optimal sehingga perlu ditingkat...
Meulaboh Tuan Rumah Hari Koperasi Nasional 2018 MEULABOH - Meulaboh, ibu kota Kabupaten Aceh Barat, menjadi tuan rumah perayaan Hari Koperasi Nasional (Harkopnas) Provinsi Aceh, 22-27 Juli 2018. ...
Harga Telur Naik 50 Persen di Aceh Timur IDI, ACEH --- Harga telur ayam ras di pasaran di Kabupaten Aceh Timur, melonjak hingga 50 persen, yakni dari Rp1.000 menjadi Rp1.500 per butir, karena...
163 Koperasi di Bener Meriah Terancam Bubar ACEH  - Sebanyak 163 unit koperasi di Kabupaten Bener Meriah terancam dibubarkan akibat tidak aktif menjalankan roda organisasi seperti ketentuan yang...