Delapan WPA di Sikka Dibentuk dengan Dana Desa

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

196
Pelatihan yang diberikan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) kepada kelompok Warga Peduli AIDS (WPA). Foto : Ebed de Rosary

MAUMERE — Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) kabupaten Sikka membetuk 37 kelompok Warga Peduli AIDS (WPA) yang tersebar di 37 desa dan kelurahan yang ada di 12 kecamatan untuk membantu mencegah dan memberantas HIV dan AIDS.

“Ada 29 WPA dibentuk menggunakan dana global fund dan APBD Sikka tahun 2014 dan tahun 2015, sementara sisanya dibentuk menggunakan dana desa,” sebut Yuyun D, Baetal, pengelola program HIV dan AIDS KPA Sikka, Jumat (7/9/2018).

Dikatakan Yuyun, delapan desa yang merelakan dana desanya dipergunakan untuk membantu penanggulangan HIV dan AIDS di wilayahnya yakni desa Lepolima dan Watugong di kecamatan Alok Timur, Desa Umagera kecamatan Kewapante serta desa Dobo dan Dobo Nua Pu’u di kecamatan Mego.

Yuyun Darti Baetal ketua program penanggulangan HIV dan AIDS KPA kabupaten Sikka. Foto : Ebed de Rosary

“Selain itu ada WPA di desa Masebewa di kecamatan Paga, WPA desa Paubekor dan desa Ribang di kecamatan Koting. Ini adalah sebuah kemajuan dimana pihak desa juga mulai sadar dan mendukung gerakan penanggulangan HIV dan AIDS di desa mereka,” tuturnya.

Sementara itu, sekertaris KPA kabupaten Sikka, Yohanes Siga menjelaskan,untuk mencegah penularan di kalangan pelajar yang juga terus mengalami peningkatan, pihaknya melakukan pelatihan kepada 37 orang guru di berbagai sekolah.

“Dalam kurun waktu 2003 hingga 2018, ada 10 pelajar di kabupaten Sikka yang telah tertular HIV dan AIDS. Ini menjadi sebuah keprihatinan,” sebutnya.

Dengan adanya pelatihan ini, kata Yohanes, KPA mengharapkan agar para guru yang telah mendapatkan pelatihan bisa menularkan pengetahuan dengan memberikan pencerahan dan edukasi kepada para pelajar.

Kami juga bermitra dengan yayasan Yankestra membentuk Forum Remaja Peduli Sikka (Forsapa) sehingga bisa menjadi wadah berkumpulnya para pelajar untuk berbagi dan menimba ilmu tentang HIV dan AIDS, tuturnya.

Melalui Forsapa, para remaja melakukan banyak hal melalui kegiatan nyata seperti kampanye, diskusi agar ke depannya para remaja bisa terbebas dari penyakit HIV dan AIDS.

Baca Juga
Lihat juga...