Dinas Pertanian Sikka, Amankan Anjing Pengidap Rabies

Editor: Mahadeva WS

188

MAUMERE – Bidang Kesehatan Hewan, Dinas Pertanian Sikka, telah menemukan anjing rabies, yang berasal dari induk yang sama, dengan anjing yang menggigit bocah ED (5,5) di Desa Baomekot, Kecamatan Hewokloang. Anjing pengidap rabies tersebut telah dibawa ke Kota Maumere.

“Anjing tersebut sudah ditemukan Rabu (5/9/2018), di wilayah Iligetang, Kelurahan Beru, Kota Maumere, dan sudah dirantai serta diberi vaksin anti rabies oleh petugas kami,” sebut Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Sikka, Hengky Sali, Kamis (6/9/2018).

Hengky menambahkan, seekor anjing lainnya, yang tercatat pernah mencakar korban ED, juga sudah dibawa ke Kecamatan Talibura. Anjing tersebut sudah dicek petugas Dinas Pertanian. Hanya saja, anjing tersebut akhirnya dibunuh oleh pemiliknya, karena bersikap agresif dan hendak menyerang manusia.

“Anjing rabies yang ada di Baomekot itu bukan mengigit tapi mencakar korban dan menimbulkan goresan, namun lukanya tidak dicuci dan anak tersebut dibawa ke puskesmas untuk divaksin. Sementara dua korban lainnya yang juga mengalami hal yang sama, mencuci luka goresan dan disuntik vaksin anti rabies sehingga sehat sampai sekarang,” sebutnya.

Hengky menyesalkan, masih minimnya pemahaman masyarakat mengenai penanganan gigitan anjing, yang diduga terjangkit virus rabies. Hal tersebut mengakibatkan, adanya korban jiwa. “Temuan spesimen positif rabies selama bulan Januari sampai Agustus 2018 ada 29 spesimen. Telah bertambah tiga spesimen positif menjadi 31 spesimen, dari 66 sampel gigitan, dengan total kasus gigitan anjing selama 2018 di Kabupaten Sikka sebanyak 732 kasus,” rincinya.

Direktur Kesehatan Hewan, Dirjen Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian RI, Dr. Fadjar Sumping Tjatur Rasa, usai pertemuan membahas rabies di aula Dinas Pertanian Sikka, Kamis (6/9/2018) sore menjelaskan, Dirinya diutus Dirjen Kesehatan Hewan ke Sikka, setelah mengetahui adanya kasus kematian, akibat gigitan anjing rabies, dari pemberitaan di media massa.

“Saya harapkan kematian akibat digigit anjing rabies  menjadi pelajaran bersama dalam upaya penanggulangan rabies di Flores. Wajar apabila media massa memberitakan soal ini agar semua masyarakat bisa waspada dan bersama pemerintah menanggulanginya,” sebutnya.

Fadjar menambahkan, selama di Sikka, Dirinya turun ke lapangan agar bisa mengetahui secara pasti, kondisi dan situasi yang sebenarnya terjadi, dan upaya apa saja yang telah dilakukan Pemkab Sikka sudah efektif atau tidak. “Saya mengapreasi langkah yang telah ditempuh Pemkab Sikka, namun melihat data, masih adanya kasus rabies setiap tahun, perlu ada terobosan baru untuk menanggulanginya,” pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...