Dinkes Papua: Dalam 7 Tahun, Jumlah Kasus Malaria Turun 50 Persen

Kesehatan, ilustrasi -Dok: CDN
JAYAPURA – Dinas Kesehatan Provinsi Papua, menggelar lokakarya persiapan kader malaria di daerahnya, diikuti Kepala Dinas Kesehatan Provinsi, Kepala Balai Penanggulangan ATM/Seksi yang membawahi Malaria, Pengelola Program Malaria, PMD, Pengelola Promkes.
Kemudian Dinas Kesehatan Kabupaten Jayapura, Sarmi, Keerom, Mimika dan Boven Digul, dengan masing-masing peserta, yakni Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten.
Selanjutnya, Kepala Bidang atau Kepala Seksi P2, Pengelola Program Malaria, PMD, dan Pengelola Promkes. Peserta lainnya yakni Perdhaki, Subdit Malaria, dan Lembaga UNICEF.
Kepala Seksi TB dan Malaria Dinkes Papua, Marthen Robaha, mengatakan, lokakarya itu sudah dilakukan sejak 3-6 Juli 2018 di salah satu hotel ternama di Abepura, Kota Jayapura.
Marthen menjelaskan, kegiatan itu mengacu pada kasus malaria di Indonesia mengalami penurunan cukup signifikan, hampir 50 persen dalam kurun waktu tujuh tahun.
Pada 2009, angka kejadian malaria sebesar 418.439 kasus dan pada 2017 turun hampir setengahnya menjadi 261.617 kasus. Sejalan dengan penurunan angka kejadian malaria, dalam periode yang sama tren Annual Parasite Incidence (API) Malaria di Indonesia menunjukkan penurunan, dari 1,85 persen pada 2009, turun menjadi 0,9 pada 2017.
Dia mengatakan, kini sebagian besar penduduk Indonesia tinggal di daerah yang sudah bebas malaria, 272 kabupaten/kota melaporkan tidak terdapat penularan malaria setempat.
Hanya sekitar 32 persen penduduk Indonesia masih tinggal di kabupaten/kota yang berisiko tertular malaria.
Di samping itu, terdapat 166 kabupaten/kota yang masuk dalam strata daerah endemis rendah, 60 daerah endemis sedang dan 41 daerah endemis tinggi.
Distribusi kasus malaria mayoritas terkonsentrasi di kawasan Indonesia Timur. Sekitar 80 persen kasus malaria dilaporkan dari empat provinsi di kawasan tersebut, yang meliputi provinsi Papua, Papua Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Maluku.
Di luar Kawasan Timur Indonesia, kata Marthen, terdapat dua kabupaten/kota endemis tinggi, yaitu Kabupaten Pesawaran di Lampung dan Kabupaten Penajem Paser Utara di Kalimantan Timur.
Strategi akselerasi dijalankan oleh Kabupaten/Kota dengan API>5. Tujuan dari strategi akselerasi ini adalah menurunkan angka kesakitan hingga kurang dari lima, dan menurunkan kematian akibat malaria di seluruh wilayah kabupaten.
Intervensi utama yang diharapkan dari peserta, yakni meningkatkan cakupan LLINs 100 perseb melalui Kampanye Kelambu Masal.
Meningkatkan cakupan IRS (melalui penyemprotan di desa dengan API>20 persen, meningkatkan perlindungan kelompok rentan malaria (ibu hamil dan balita) integrasi dengan program KIA, Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS) dan imunisasi (melalui Skrining ibu hamil K1 pada balita yang demam.
“Selanjutnya, pemberian kelambu rutin pada bayi usia sembilan bulan saat imunisasi campak,” ujarnya.
Mengintensifkan pengendalian vektor lainnya sesuai dengan situasi epidemiologi setempat, melalui Pemetaan perindukan, reseptivitas, perilaku nyamuk dan status kerentanan, melakukan pengendalian vektor terpadu sesuai dengan kondisi setempat.
Meningkatkan cakupan deteksi dini dan pengobatan yang tepat, baik di fasyankes maupun di masyarakat melalui Pencarian kasus secara aktif/ACD, pengobatan radikal/ACT+primaquine, skrining massal dan pengobatan yang tepat.
Memperkuat sistem pelaporan malaria melalui Kelengkapan dan ketepatan laporan, disertai analisis data untuk pengambilan keputusan dan pemetaan kasus serta faktor risiko.
Memperkuat sistem logistik malaria di dalam kerangka Kebijakan Satu Pintu, penguatan sistem kesehatan dengan penambahan sumber daya manusia terlatih pada tingkat desa untuk memberdayakan masyarakat dalam mengenal, mencegah dan menanggulangi malaria di lokasi setempat.
“Kemudian promosi kesehatan yang berkaitan dengan pemberdayaan masyarakat dalam upaya eliminasi malaria,” tambah dia. (Ant)
Lihat juga...