Dinkes Sikka Tetapkan ‘Rabies Center’ di Lima Puskesmas

Editor: Koko Triarko

387
MAUMERE – Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka, menetapkan lima Puskesmas menjadi  ‘Rabies Center’ yang disiapkan untuk melayani pemberian suntikan vaksin antirabies kepada masyarakat yang digigit anjing.
“Lima Puskesmas ini setiap  saat memberikan pelayanan suntikan vaksin  antirabis kepada korban gigitan anjing. Saat ini. kita telah mendapat tambahan vaksin antirabies sebanyak seribu dosis dari Dinas Kesehatan Provinsi NTT,” sebut drg. Harlin Hutauruk, kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit  (P2P) Dinas Kesehatan Sikka, Senin (10/9/2018).
Drg. Harlin Hutauruk, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit  (P2P) Dinas Kesehatan kabupaten Sikka. -Foto: Ebed de Rosary
Kelima Rabies Center tersebut, beber Harlin, yakni Puskesmas Watubain  melayani korban dari wilayah  timur kabupaten Sikka, Puskesmas Bola melayani wilayah kecamatan di tengah dan selatan Sikka, Puskesmas Lekebai untuk wilayah  barat, sementara Puskesmas Palue melayani korban gigitan anjing di pulau Palue.
“Kasus gigitan Hewan Penular Rabies (HPR), terutama  anjing, terbanyak  terjadi di kecamatan Nita. Selama Januari sampai akhir Agustus 2018, terjadi 115 kasus  gigitan, dan 96 kasus gigitan yang berisiko tinggi telah disuntik vaksin antirabies,” ungkapnya.
Setelah kecamatan Nita, kata Harlin, Puskesmas Kopeta di kota Maumere menangani 102 kasus yang terjadi di kota Maumere, dan 87 orang telah diberi vaksin, Puskesmas Beru yang juga di kota Maumere melayani 109 kasus gigitan anjing dan 94 kasus telah divaksin rabies.
“Tren gigitan selama hewan penular rabies selama 2018 mengalami  kenaikan. Sampai bulan Juli 2018, terjadi 750 kasus dan diperkirakan sampai bulan Desember bisa terjadi 1.500 kasus. Korban yang menerima suntikan anti rabies sejak Januari sampai Juli sebanyak 622 orang.
“Semua korban gigitan akan dicek terlebih dahulu riwayatnya, dan bila berisiko tinggi terkenan rabies, maka korban gigitan langsung diberi vaksin antirabies,” terangnya.
Sekretaris Komite Rabies Flores dan Lembata, dr. Asep Purnama, mengatakan, meningkatnya kasus gigitan hewan penular rabies, terutama anjing sudah sangat mengkuatirkan. Selama 2017 dan 2018, kasus gigitan mengalami peningkatan.
“Populasi anjing saja di kabupaten Sikka mengalami peningkatan pesat. Jumlahnya telah mencapai sekitar 65 ribu ekor. Untuk itu, harus diambil sebuah langkah yang menyeluruh, agar bisa mengatasi penyakit rabies secara tuntas,” sebutnya.
Selama ini, tandas dokter Asep, penanganan masalah rabies hanya parsial saja, sehingga kasus rabies tidak tuntas ditangani dan terus muncul hingga ada korban yang meninggal, baru semua pihak sibuk membicarakannya.
Baca Juga
Lihat juga...