DKP Sulteng: ‘SLIN’ Perkecil Kesenjangan Harga Ikan

136
Pasar ikan, ilustrasi -Dok: CDN
PALU – Sistem Logsitik Ikan Nasional yang mulai dikembangkan di Sulawesi Tengah, berhasil menekan secara cukup signifikan kesenjangan harga ikan di tingkat nelayan dan pasar, terutama pada saat paceklik hasil tangkapan.
“Karena itu, program SLIN ini akan terus dikembangkan, karena pengaruhnya sangat luas. Mulai dari menjaga stabilitas suplai ikan ke pasar umum dan industri, mengendalikan inflasi serta meningkatkan kesejahteraan nelayan,” kata Hasanuddin Atjo, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Sulteng, yang dihubungi di Palu, Senin (24/9/2018).
Ia mengemukakan, sejak 2007, investasi yang ditanam pemerintah untuk pengembangan SLIN di daerah ini sudah mencapai Rp200 miliar.
Kegiatannya meliputi pembangunan dermaga yang memiliki atap, sarana dan prasarana penangkapan ikan, fasilitas kepelabuhanan, seperti pabrik es, gudang pendingin, gudang pembekuan, air, listrik, stasiun pengisian bahan bakar untuk nelayan, rumah nelayan bahkan asuransi nelayan.
“Nilai transaksi perikanan yang terjadi setelah investasi itu dimanfaatkan (dihitung berdasarkan tahun dasar 2017), sudah mencapai Rp232 miliar. Ini berarti transaksi itu sudah lebih besar dari investasi dalam rangka SLIN yang sudah dikeluarkan,” ujarnya.
Dari sisi harga ikan, kata Atjo, terjadi penurunan yang signifikan pada kesenjangan harga ikan antara musim paceklik dan musim ikan, saat sebelum dan sesudah proyek-proyek SLIN beroperasi.
Ia memberi contoh, di Pelabuhan Pendaratan Ikan (PPI) Donggala pada 2017, saat musim paceklik, harga ikan yang paling banyak dikonsumsi rakyat seperti layang dan katombo, sebelum SLIN mencapai Rp15.500/kg dan saat musim ikan hanya Rp6.000/kg.
Bahkan pada saat itu, masih banyak nelayan yang terpaksa membuang ikan ke laut, karena banyaknya tangkapan, sementara es balok tidak cukup dan gudang pendingin tidak tersedia.
Namun saat SLIN berjalan, katanya, harga ikan saat paceklik mencapai Rp16.000/kg, tetapi saat musim ikan masih bertahan pada tingkat yang signifikan bagi nelayan, yakni Rp12.000/kg.
Kesenjangannya semakin kecil, karena nelayan telah memiliki fasilitas pengawetan dan penyimpanan stok yang memadai saat musim ikan melimpah, sehingga nelayan tidak perlu buru-buru melempar ke pasar dengan harga sangat murah, karena takut ikannya membusuk.
SLIN, kata Atjo, juga memberikan kontribusi yang cukup signifikan terhadap peningkatan kesejahteraan nelayan, yang indikasinya terlihat pada nilai tukar petani (NTP) sektor kelautan dan perikanan Sulawesi Tengah, yang pada 2014 baru mencapai pada 100,8, naik menjadi 117,1 pada 2017.
“Secara nasional, NTP nelayan Sulteng ini berada pada posisi kelima di Indonesia setelah Sulawesi Tenggara, Banten, Riau dan Jawa Timur,” ujarnya. (Ant)
Baca Juga
Lihat juga...