Dolar Melambung, Perajin Tas Kualitas Ekspor Tak Rasakan Untung

Editor: Mahadeva WS

207

YOGYAKARTA – Naiknya nilai tukar dolar Amerika Serikat yang mencapai hampir Rp15ribu sejak beberapa waktu terakhir, tidak menambah keuntungan pelaku usaha kecil, kerajinan tas kualitas ekspor, di daerah Nanggulan, Kulonprogo, Yogyakarta. 

Hal itu disebabkan, perajin maupun penyuplai kerajinan, tidak mampu mengekspor produk hasil kerajinan mereka secara mandiri. Mereka masih mengekspor produk kerajinan yang dihasilkan melalui sebuah perusahaan eksportir. “Memang mestinya jika dolar naik, keuntungan kita meninggat. Tapi kenyataannya, tetap sama saja. Harga jual produk baik di tingkat perajin atau penyuplai tetap sama. Jadi yang untung ya hanya perusahaan. Mereka ambil barang dari kita dengan harga normal, namun bisa jual dengan harga tinggi,” ujar salah seorang perajin sekaligus penyuplai kerajinan tas bahan alam, Tumijo, Jumat (21/9/2018).

Warga Tanjungharjo, Nanggulan, Kulonprogo itu, mengakui ketidakmampuan para perajin tas untuk menjual sendiri produk mereka ke luar negeri. Hal itu masih tetap menjadi persoalan utama. Mayoritas perajin maupun penyuplai kerajinan tas bahan alam di daerahnya, hanya memasok produk kerajinan ke perusahaan-perusahaan besar untuk diekspor.

“Disini para perajin kecil memproduksi tas hingga setengah jadi. Mereka ambil semua bahan baku dari penyuplai. Setelah itu di tingkat penyuplai proses produksi dilanjutkan. Lalu dari penyuplai barang dikirim ke perusahaan untuk finishing,” jelasnya.

Penghasilan para perajin kecil diperoleh dari upah tenaga. Setiap perajin hanya mendapatkan bayaran, sesuai jumlah produk yang mereka kerjakan atau hasilkan. Sementara untuk harga jual di tingkat penyuplai, ditetapkan oleh masing-masing penyuplai.

Perusahaan pengekspor akan memesan produk kerajinan pada penyuplai yang berani menjual produk dengan harga lebih rendah.  “Persoalan lain, di sini tidak ada standar harga satu pintu. Masing-masing penyuplai bisa menentukan harga jual sendiri. Sehingga terjadi persaingan tidak sehat. Mestinya dibuat semacam kelompok atau paguyuban, sehingga bisa mengontrol harga. Namun susah sekali,” kesahnya.

Daerah Nanggulan di Kabupaten Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta, selama ini dikenal sebagai sentra penghasil kerajinan bahan alam. Sejumlah produk kerajinan mulai dari tas, kursi, dan barang rumah tangga berbahan baku alam seperti daun pandan, enceng gondok, banyak diproduksi di daerah tersebut.

Saat ini sedikitnya terdapat 30 penyuplai kerajinan, dan ribuan perajin kecil kerajinan bahan alam. Mereka tersebar di lima desa di Kecamatan Nanggulan. Salah satu desa yang menjadi cikal bakal munculnya perajin kerajinan bahan alam ini adalah Desa Tanjungharjo.

Baca Juga
Lihat juga...