Donny Kesuma, Artis yang Peduli Kemajuan Sofbol-Bisbol Indonesia

OLEH MAKMUN HIDAYAT

259

JAKARTA – Nama seorang selebritas di dunia industri hiburan tentu tidak asing terdengar. Namun siapa sangka di balik popularitasnya lantaran acap nongol di layar kaca atau layar lebar, ternyata juga mengalir jiwa olahragawan? Salah satu seleb unik, seperti itu ada pada diri Donny Kesuma.

Pria bernama lengkap Donny Kesuma Hidayat kelahiran Bandung, 6 Juni 1968 tersebut, ternyata dulunya adalah salah seorang atlet sofbol berprestasi. Dan hingga saat ini ia tak melewatkan kegemaran olahraga yang telah membesarkan namanya hingga kemudian merambah dunia modeling, sinetron, dan keartisan.

Pada sebuah pertemuan di kediaman Siti Hardiyanti Rukmana atau akrab disapa Mbak Tutut di Jalan Yusuf Adiwinata Nomor 14, Menteng, Jakarta Pusat, belum lama ini, pria bertubuh tinggi tegap itu tampak di antara para atlet sofbol-bisbol Asian Games 2018.

Mengenakan baju putih berlingkar hitam di ujung lehernya bertuliskan ‘Indonesia’ warna merah mencolok di bagian dadanya dengan bordiran bendera Merah Putih dan logo Pengurus Besar Perserikatan Baseball-Softball Seluruh Indonesia (PB Perbasasi) di bagian lengan kiri, menunjukkan sang artis memang bagian keluarga besar atlet sofbol-bisbol Indonesia.

Sebelum merambah dunia keartisan, Donny Kesuma mengawali karier sebagai atlet sofbol Indonesia di awal 1990-an. Kepada Cendana News, Donny Kesuma menceritakan bagaimana ia akhirnya jatuh hati dengan olahraga asal Amerika Serikat itu.

“Sebelum terjun di dunia artis, saya mulai dari atlet sofbol dulu. Baru tahun 1987 saya masuk dunia modeling dan tahun 1991 masuk dunia sinetron. Jadi saya memulai karier dari atlet dulu baru kemudian dunia keartisan,” ungkap Donny saat berbincang dengan Cendana News.

Kecintaan Donny pada olahraga sofbol mulai terlihat saat di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Pada masa itu, ia dan teman-teman satu kelasnya berkeinginan membentuk ekstrakurikuler baru olahraga sofbol.

“Dulu waktu SMA, kita sama-sama satu kelas ingin bikin ekstrakurikuler baru. Karena belum ada, kita coba olahraga sofbol itu seperti apa. Dari situ, saya sudah mulai masuk dalam tim sofbol,” jelas Donny.

Sewaktu kelas 1 SMA, Donny yang akrab disapa Mbak Tutut dengan sebutan ‘Anak Gajah’ karena dulu saat dibina masih bertubuh kurus, masuk tim yunior DKI dan pada saat kelas 2 masuk tim senior DKI. Begitu masuk kelas 3 SMA, Donny berada dalam deretan pemain tim nasional (Timnas) Indonesia. Akhirnya Donny secara terus menerus bermain sofbol, olahraga yang ia cintai.

“Saya memang mencintai olahraga sofbol. Waktu SMA, saya pulang sekolah sama pelatih, minta izinin orangtua saya untuk latihan. Orangtua juga mendukung, selama pergaulan lurus apalagi menjadi seorang atlet. Alhamdulillah didukung betul, jadi saya benar-benar mencintai olahraga ini sampai sekarang,” ungkapnya.

Kecintaan Donny pada olahraga sofbol, juga dibuktikan dengan turut membidani kelahiran klub Citra Muda yang digagas oleh Mbak Tutut. Dikatakan Donny, pada 1987-an Mbak Tutut memiliki ide membuat tim sofbol, yang terdiri dari orang-orang yang mempunyai kompetensi kuat di dunia persofbolan atau perbisbolan. Dan di 1989 ide tersebut akhirnya tercapai.

“Kita bisa mendirikan sebuah klub, namanya Citra Muda. Di bawah naungan Mbak Tutut, akhirnya kita punya tim yang cukup solid dan kuat,” tutur Donny.

Di 1989, Citra Muda berangkat ke Hongkong mengikuti kejuaraan Asia Cup dan meraih juara, padahal Citra Muda termasuk salah satu klub yang baru muncul. Timnas sofbol di masa Donny Kesuma, mendapatkan puncak prestasi di Asia pada 1997. Saat itu, berhasil menaklukkan timnas Jepang.

Di bawah pembinaan Mbak Tutut, Citra Muda banyak menorehkan prestasi. Yang paling belakangan, adalah lima kali meraih medali emas secara berturut-turut. Prestasi tersebut ditorehkan salah satu cabang klub Citra Muda, yakni klub Cobra Master Citra Muda Indonesia.

Klub yang awal mula berdirinya dicetuskan Mbak Tutut tersebut, kini menjadi salah satu klub terbesar yang ada di Indonesia.

Sebagai atlet senior, tugas Donny Kesuma bukan lagi terjun dalam berbagai event kejuaraan, melainkan mendorong dan mencetak atlet-atlet muda berbakat menjadi atlet nasional secara berkesinambungan. Donny juga melakukan pembinaan bagi tumbuh kembangnya olahraga sofbol-bisbol di daerah.

Menurut Donny olahraga sofbol kini mulai populer di Indonesia. Dari 34 provinsi yang ada, disebutkan Donny, semua daerah sudah mempunyai tim sofbol-bisbol. “Jadi sebenarnya di daerah-daerah sudah mulai berkembang,” tandasnya.

Dia menjelaskan, pembinaan olahraga sofbol-bisbol bahkan sudah memasuki dunia pendidikan di tingkatan pelajar SD. “Sekarang di daerah-daerah juga sudah banyak yang menggelar pelatihan, hampir lebih 50 persen daerah di Indonesia sudah mempunyai pemain anak-anak level SD,” ujar Donny bangga melihat perkembangan sofbol yang begitu pesat.

Dalam olahraga sofbol, disebutkan Donny Kesuma, dibutuhkan kecepatan mengambil keputusan, dan itu ia terapkan dalam kehidupan sehari-hari. “Di olahraga ini saya melatih untuk bisa mengambil keputusan cepat dan tepat dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Olahraga sofbol memang boleh dibilang mengandalkan kerja otak sekaligus fisik, sehingga dapat melatih bagaimana mengambil keputusan secara cepat. Donny membandingkan 60-40 persen, kerja fisik 60 persen dan 40 persen lebih cenderung ke permainan otak.

“Ini hampir lebih dominan pada kecerdasan, karena kita harus mengambil keputusan dari sepersekian detik untuk bisa mengambil keputusan. Jadi memang olahraga ini tidak seperti olahraga lainnya, di sofbol dalam sepersekian detik kita harus mengambil keputusan dan harus memutuskan untuk bisa mematikan lawan atau kita membuat angka. Kecepatan dan kecerdasan sangat diperlukan dalam olahraga ini,” tandasnya.

Beda Sofbol dan Bisbol

Olahraga sofbol-bisbol dari Amerika Latin yang pada awalnya bernama roger, menurut Donny mulai dikenal luas di Indonesia jauh sebelum dirinya dilahirkan pada 1968. Dia menjelaskan olahraga bisbol diperuntukkan atlet putra, sedangkan untuk atlet putri adalah sofbol.

Sebelumnya, pada 1987 pernah terjadi kecelakaan dalam kejuaran di Singapura hingga kemudian di Asia olahraga bisbol tidak berkembang. Sebaliknya, yang berkembang adalah sofbol putra. “Belakangan ini bisbol mulai berkembang lagi dan memasuki ke tahap dunia,” ujar Donny.

Adapun lapangan sofbol lebih kecil, dan bolanya lebih besar. Sementara lapangan bisbol lebih besar, bola lebih kecil, dan lebih banyak atlet laki-laki.

Disebutkan Donny, jumlah seluruh pemain sofbol maupun bisbol sama, dalam satu tim ada 15 atlet. Tetapi yang bermain di lapangan 9 atlet. “Jadi basic pemainnya ada 15 sampai 17 termasuk pemain cadangan, yang bermain 9 orang,” jelas Donny.

Pada permainan sofbol-bisbol, sembilan pemain yang mendapat giliran bermain, dijelaskan Donny, mempunyai posisi yang berbeda satu dengan lainnya. Yakni picher (pelempar bola), catcher (penangkap bola di belakang pemukul), first base (penjaga base satu), second base, third day, short stop (penjaga antara base dua dan tiga), righ fielder (penjaga lapangan kanan), center fielder (penjaga lapangan tengah), dan left fielder (penjaga lapangan kiri).

Dalam permainan sofbol terdiri dari tujuh inning atau ronde. Satu inning itu satu kali ganti dan satu kali menyerang. Sementara di bisbol sembilan inning.

Donny Kesuma juga berbagi tips yang didapat dari pelatihnya dulu. Disebutkan Donny, dalam permainan olahraga tidak boleh meremehkan atau menganggap lawan tandingnya jelek. Karena begitu meremehkan lawan akan terbalik lengah.

“Dalam olahraga sofbol, lengah adalah kelemahan terberat. Jadi kita tidak boleh sembarangan, siapa pun lawannya tidak boleh dianggap paling lemah,” kata Donny.

Disebutkan Donny, pelatih dia pernah menyatakan tidak boleh menganggap tim lawan satu level di bawah. “Semua anggap lawan adalah lawan kita terberat. Jadi kita akan berusaha melakukan semampu kita yang terbaik,” pungkasnya berbagi tips.

Baca Juga
Lihat juga...