Dosen UB Olah Susu Kambing Etawa jadi Jelly dan Effervescent

Editor: Koko Triarko

203
MALANG – Dibandingkan dengan susu sapi, susu kambing memang masih jarang dikonsumsi masyarakat, karena aroma khasnya yang kurang disukai. Namun, susu kambing etawa memiliki banyak manfaat bagi kesehatan.
Hal inilah yang kemudian mendasari empat orang dosen Universitas Brawijaya (UB) Dr. Masdiana C Padaga, drh., M.App.Sc. (FKH), Drh. Ajeng Erika Prihastuti Haskito, M.Si., (FKH), Ar Rohman Taufiq Hidayat, S.T., M.Agr.Sc (FT), dan Kartika Putri Kumalasari, SE., MSA.Ak.Ca (FIA) membuat suplemen makanan dari Susu Kambing Etawa berbentuk jelly dan effervescent.
Drh. Ajeng Erika Prihastuti Haskito, M.Si., menunjukkan produk olahan susu segar kambing etawa. –Foto: Agus Nurchaliq
“Banyak sekali penelitian yang sudah dilakukan terkait susu kambing yang ternyata memiliki banyak sekali manfaat, khususnya bagi penderita kolesterol, maupun diabetes. Namun kelemahannya, susu kambing ini memiliki aroma khas yang kurang disukai orang,” jelas Drh. Ajeng, kepada Cendana News, Senin (3/9/2018).
Ia mengatakan, akan sangat disayangkan jika susu kambing yang memiliki banyak manfaat ini tidak dioptimalkan hanya karena baunya. Untuk itu, mereka berempat dengan tugasnya masing-masing sepakat membuat sebuah suplemen makanan berbentuk jelly dan effervescent berbahan dasar olahan susu kambing segar.
“Akhirnya kita olah susu kambing segar tersebut menjadi jelly dan effervescent ‘Yogokase’, tapi dengan tetap menjaga kandungan gizi yang terdapat pada susu,” akunya.
Lebih lanjut, Ajeng menceritakan, pembuatan jelly dan effervescent semuanya berasal dari susu kambing segar, yang kemudian di pasteurisasi dengan teknik HTST, untuk menghilangkan kandungan mikroorganisme yang merugikan pada susu. Selanjutnya, dilakukan fermentasi dengan menambahkan starter yoghurt selama 24 jam.
Setelah menjadi yoghurt, katanya, kemudian kita ambil bagian kasein untuk diisolasi. Selanjutnya, kasein dikeringkan menggunakan pan drying atau oven pada suhu 20 derajat, hingga terbentuk serbuk yang bertujuan untuk memperpanjang masa simpan. Setelah didapatkan bubuk kasein, baru diproses kembali dan ditambahkan beberapa bahan tambahan hingga menjadi jelly dan effervescent.
“Dari 10 liter susu kambing bisa menghasilkan 1 Kg Kasein dan untuk menghilangkan bau susu kambingnya, kita tambahkan essence makanan,” ucapnya.
Produk ‘Yogokase’ ini tanpa menggunakan campuran bahan pengawet dan bisa bertahan lebih dari 1 bulan.
Disebutkan, nilai gizi kasein yoghurt susu kambing mengandung protein 31,59 persen, lemak 31,87 persen, air 4,98 persen, abu 2,99 persen, dan karbohidrat 28,57 persen.
Menurutnya, sampai saat ini belum ada produk jelly lain yang menggunakan bahan dasar kasein dari yougurt, karena kebanyakan produk jelly memakai sari buah.
“Selain dipasarkan di intern UB, jelly Yogokase juga dipasarkan melalui media sosial dan website dengan harga lima ribu rupiah per kemasan,” pungkasnya.
Lihat juga...

Isi komentar yuk