Dua Mahasiswa UB Ciptakan Alat Pendeteksi Bencana

Editor: Mahadeva WS

146

MALANG – Dua mahasiswa Teknik Elektro Universitas Brawijaya (FT UB) sukses menciptakan alat Disaster Detection System of Forest Fire and Landslide (DESFOLA). Alat tersebut digunakan untuk mendeteksi potensi terjadinya bencana.

Kedua mahasiswa tersebut adalah, Rizka Sisna Riyanti dan Bagas Priyo Hadi Wibowo. Inovasi yang diciptakan membuat keduanya, memperoleh medali perak pada ajang International Research Innovation, Invention, and Solution Exposition (IRIISE) 2018, di University of Malaya, Kuala Lumpur, Malaysia.

Rizka menyebut, Indonesia memiliki wilayah hutan yang luas. Potensi terjadinya bencana kebakaran hutan maupun tanah longsor juga cukup besar. Musim hujan berpotensi menimbulkan tanah longsor, sementara musim kemarau berpotensi menimbulkan kebakaran. “Jadi kami berpikir, bagaimana caranya informasi kondisi status yang ada di hutan tersebut bisa langsung tersampaikan kepada masyarakat. Kami mengagas Desfola, untuk mengantisipasi dan memberi peringatan awal agar bencana tersebut tidak meluas,” tuturnya, Kamis (13/9/2018).

Bagas menambahkan, Desfola terdiri dua komponen. Bagian utama berupa sensor yang diletakkan di beberapa titik di area hutan. Kemudian bagian kedua adalah server yang ditempatkan di pemukiman warga, yang memiliki koneksi internet. “Bagian server menggunakan frekuensi radio, yang bisa mencakup puluhan kilometer. Dan untuk memaksimalkan per bagian titik tersebut, kami menggunakan sistem point to point, yakni dari sensor ke satu dikirim ke sensor ke dua hingga ke server,” jelasnya.

Dari server, informasi akan di upload ke database, dan dari database bisa di tampilkan di HP. Terdapat tiga parameter yang digunakan untuk mengetahui status potensi terjadinya bencana kebakaran hutan yakni nyala api (flame sensor), kandungan gas karbon (CO) dan temperature sensor. “Tampilan yang muncul berupa data-data parameter, dan kondisi hutan terkini. Hutan akan dinyatakan berpotensi bencana jika memiliki nilai flame sensor kurang dari 40 sentimeter, kandungan gas CO lebih dari 80 ppm dan temperature sensor lebih dari 45 derajat celsius,” rincinya.

Sedangkan untuk mengamati potensi bencana longsor, bisa dilihat dari parameter Moisture Sensor, yang disesuaikan antara kelembaban tanah dengan posisi kemiringan tanah.

Proses membuat Desfola,  menghabiskan waktu dua minggu, sebelum mengikuti lomba IRIISE. “Alhamdulillah inovasi Desfola berhasil meraih medali perak di ajang IRIISE yang diikuti 150 tim dari berbagai negara,” jelas Bagas.

Ke depan, diharapkan karya tersebut bisa direspon oleh instansi terkait, termasuk Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Terutama dalam pengaplikasian deteksi sedini potensi kebakaran dan tanah lonsor.

Lihat juga...

Isi komentar yuk