Dua Pelaku Sejarah Ikuti Doa Bersama di Lubang Buaya

Editor: Koko Triarko

591
CIPAYUNG — Komando Daerah Militer Jaya/Jayakarta, menggelar doa bersama memperingati Hari Kesaktian Pancasila, di monumen Pancasila Lubang Buaya, Cipayung, Jakarta Timur, dipimpin Pangdam Jaya Mayjend TNI. Joni Supriyanto, Minggu (30/9/2018) malam.
Doa bersama yang diadakan Keluarga Besar Pangdam Jaya dimulai sejal selepas salat maghrib dan dilanjutkan setelah salat Isya berjemaah.
Hadir dalam kegiatan ini, perwakilan keluarga besar korban keganasan G 30 S PKI dan dua saksi pelaku sejarah yang turut serta mengangkat jenazah dari lubang buaya, yakni, Ven Kandow dan Soegimin, yang datang langsung dari Yogyakarta dan Banyu Wangi, Jawa Timur.
“Hikmah yang bisa diambil, adalah bagaimana bangsa ini, terutama generasi penerus untuk tidak melupakan perjalanan kelam bangsa Indonesia dari pemberontakan G 30 S PKI,” ungkap Pangdam Jaya, Joni SP.
Diakatakan, peringatan Hari Kesaktian Pancasila menjadi bagian sejarah kelam bangsa Indonesia di masa lalu. Untuk itu, semua anak bangsa wajib mengetahui, agar tidak melupakan keganasan para pemberontak sadis.
“Generasi penerus tentu harus mewaspadai setiap  hal yang kemungkinan akan membahayakan bangsa dan negara. Intinya, semua yang masih hidup tentu turut berduka dan berterima kasih kepada para pahlawan bangsa,  karena telah menjaga, melindungi negeri ini dari bahaya laten komunis pada waktu itu,” tegas Joni.
Mayjend TNI Joni, SP., bersama keluarga korban keganasan PKI dan pelaku sejarah. –Foto: M Amin
Dalam kesempatan ini, dia sempat menyinggung soal nonton bareng film G 30 S PKI. Menurutnya, Panglima TNI sudah mempersilahkan nonton kapan saja. Tidak mesti sekarang, kapan saja boleh nonton, karena semua rakyat  Indonesia, bahkan dunia sekali pun wajib tahu sejarah kekejaman PKI yang pernah terjadi di Republik Indonesia.
Sementara, pelaku sejarah, Ven Kandow, memgaku sengaja diundang dari Banyuwangi, untuk ikut doa bersama di Lubang Buaya. Dia pun mengisahkan, bahwa dirinya turut mengangkat tujuh jenazah di dalam Lubang Buaya.
“Saat itu, kami sedang ditugaskan di Jakarta, dan saat kejadian heboh tentang pembunuhan jenderal. Kami sudah berada di depan Lubang Buaya, atas permintaan langsung Panglima Kostrad, Mayjend Soeharto, kala itu. Pak Harto memerintahkan Kapten Kusendar untuk meminta kami mengangkat jenazah dari dalam Lubang Buaya,” tutur Kandow.
Menurutnya, saat kejadian kondisi Jakarta darurat dan tidak diketahui kawan dan lawan.
“Kami sampai di lokasi, oleh RPKAD tidak diperbolehkan masuk ke lokasi Lubang Buaya. Kami sempat menunggu dua jam. Setelah Pak Harto, datang, baru kami diminta masuk,” kisahnya, seraya mengingat pengangkatan jenazah dari Lubang Buaya dipimpin langsung Panglima Kostrad Mayjend Soeharto.
Hal senada disampaikan Soegimin, bahwa ketika proses pengangkatan mayat, ia menunggu bersama tim dokter dari RSPAD,  guna mengidentifikasi jenazah yang telah berhasil dibawa keluar dari dalam Lubang Buaya.
Dua pelaku sejarah ini sepakat berpesan kepada seluruh generasi muda Indonesia, untuk tidak melupakan peristiwa yang sangat keji yang dilakukan para pemberontak PKI.
“Ini kejadian luar biasa, enam jenderal yang meninggal dalam satu hari secara bersamaan. Dan, ini tidak pernah terjadi dari perang dunia pertama sampai perang dunia kedua. Dalam satu hari, enam jenderal hilang bersamaan. Untuk itu, peristiwa ini harus terus dikenang sepanjang zaman,” pungkas Kandow, sembari menahan air matanya.
Baca Juga
Lihat juga...