Dukung Kurikulum 2013, Sejumlah Sekolah Butuh Sarana Memadai

Editor: Satmoko Budi Santoso

175

YOGYAKARTA – Meski sudah berjalan sejak beberapa tahun terakhir, belum semua sekolah di kota Yogyakarta khususnya tingkat Sekolah Dasar Negeri (SDN) diketahui memiliki fasilitas sarana dan prasarana (sarpras) yang mendukung proses pembelajaran menggunakan kurikulum 2013.

Salah satunya adalah sarana-prasarana vital di dalam ruangan kelas berupa bangku bagi para siswa. Dari sekitar 160 lebih SD Negeri di kota Yogyakarta, tercatat sekitar 30 persen sekolah masih menggunakan bangku model lama berukuran besar yang cukup berat.

Hal itu dinilai menyulitkan kegiatan moving class yang biasa diterapkan dalam kurikulum 2013.

“Dalam kurikulum 2013, proses pembelajaran memang memungkinkan anak untuk lebih mobile. Sehingga tempat duduk siswa juga harus bisa mobile. Karena dalam kurikulum 2013, proses pembelajaran biasa dilakukan dengan diskusi atau kerja kelompok. Jadi tidak seperti dulu. Maka, mau tidak mau, sarpras juga harus mengikuti,” ungkap Kepala Bidang Pembinaan SD Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta, Rochmat.

Kepala Bidang Pembinaan SD Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta Rochmat – Foto Jatmika H Kusmargana

Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta sendiri, diketahui selama ini sudah berupaya memperbaharui sejumlah sarpras dengan pengadaan bangku di tingkat SD secara bertahap. Dengan memanfaatkan anggaran yang ada, Disdik tercatat mampu melakukan pengadaan sekitar 1000 bangku setiap tahun. Namun jumlah tersebut, dinilai masih relatif kecil karena total ada sekitar 22 ribu bangku di seluruh sekolah tingkat SD.

“Kalau kita hanya mengganti sekitar 1000 bangku per tahun, maka setidaknya kan butuh 20 tahun untuk mengganti seluruh bangku di semua SD. Itu kan terlalu lama, maka kita membutuhkan penambahan jumlah alokasi pengadaan bangku,” ungkapnya.

Selain bangku yang dapat dengan mudah dipindah, standarisasi sarpras sekolah untuk mendukung kurikulum 2013 dikatakan juga terkait fasilitas pendukung lain, seperti penyediaan jaringan internet di tiap sekolah, serta media pembelajaran berupa layar LCD di tiap kelas.

Hal itu diperlukan agar proses belajar-mengajar dengan kurikulum 2013 dapat bejalan maksimal.

“Selain bangku model baru, standarisasi sarpras untuk K13 juga menyangkut ketersediaan jaringan internet atau WiFi di tiap sekolah. Ini diperlukan agar setiap guru maupun siswa dapat memanfaatkan internet untuk mendukung proses belajar mengajar. Termasuk juga ketersediaan LCD di tiap kelas yang memudahkan penyampaian materi pelajaran,” katanya.

Untuk dua sarana prasarana tersebut, Rochmat sendiri menyebut, mayoritas sekolah tingkat SD Negeri di Yogyakarta sudah memiliki. Sehingga standarisasi yang diperlukan hanya menyangkut pembaharuan, baik itu model, jenis, maupun tingkat kemampuan setiap sarana prasarana tersebut.

Baca Juga
Lihat juga...