Elnino Lemah, Hujan di NTB Dimungkinkan Mundur

Editor: Mahadeva WS

169
Kepala Seksi Data dan Informasi, Stasiun Klimatologi, BMKG Kelas l Lombok Barat, Luhur Triwuji Prayitno/foto : Turmuzi

MATARAM – Kemarau panjang dibarengi dengan elnino yang lemah, diperkirakan akan mengakibatkan musim hujan di seluruh wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB) akan mundur dari biasanya.

“Kalau biasanya musim hujan turun bulan September sampai Oktober, tahun ini awal musim hujan diperkirakan akan mulai turun bulan november hingga Desember,” kata Kepala Seksi Data dan Informasi, Stasiun Klimatologi, BMKG Kelas l Lombok Barat, Luhur Triwuji Prayitno, Rabu (19/9/2018).

Selain kondisi elnino lemah, mundurnya musim hujan dari biasanya dipengaruhi oleh kondisi atmosfir. Termasuk juga kondisi suhu permukaan laut di Pasific dan Ekuator. Suhu permukaan di wilayah perairan Indonesia termasuk NTB, saat ini dalam kondisi normal. Hal itu berdampak terjadinya perpanjangan musim kemarau, sehingga musim penghujan mundur. “Secara keseluruhan awal musim hujan dasarian l sampai desember dasarian lll, paling awal Lombok bagian barat dan paling ahir bagian timur NTB, wilayah Bima Sumbawa” jelasnya.

Untuk kondisi kekeringan, Hari Tanpa Hujan (HTH) lebih dari 60 hari, bahkan di beberapa daerah, saat ini sudah mencapai 130 hari. Kondisi tersebut sudah masuk kategori ekstrim. Seperti yang terjadi di Sape, Kabupaten Bima dan beberapa wilayah bagian timur NTB, yang secara meteorologis, diberikan warning kekeringan karena tidak hujan lebih dari 100 hari. “Dibandingkan tahun lalu musim kemarau tahun ini lebih lama  dan luas,” terangnya.

Gubernur NTB, Zainul Majdi meminta, Badan Penanggulanganan Bencana Daerah (BPBD) NTB lebih responsif dan cepat tanggap, mengantisipasi terjadinya bencana kekeringan dan krisis air bersih selama musim kemarau. BPBD juga diminta, melakukan pemetaan wilayah yang selama ini menjadi langganan kekeringan, sehingga ketika masyarakat membutuhkan, air bersih bisa langsung disalurkan.

Baca Juga
Lihat juga...