Es Tape Gosrok Mbah Kismo, tak Lekang Digilas Zaman

Editor: Satmoko Budi Santoso

233

YOGYAKARTA – Siapa yang tak mengenal es tape, es gosrok atau es cendol? Minuman ini memang sudah begitu populer di tengah masyarakat sejak lama.

Menikmati minuman es ini di tengah cuaca terik musim kemarau memang selalu membawa kesegaran tersendiri.

Pada era tahun 1980-an, di Yogyakarta, banyak sekali terdapat jenis minuman es semacam ini. Hampir setiap warung es selalu laris manis diserbu pembeli.

Namun, seiring berlalunya zaman, sejumlah minuman es tradisional seperti es tape, es gosrok atau es cendol saat ini memang sudah semakin ditinggalkan.

Mbah Kismo tengah melayani pembeli – Foto Jatmika H Kusmargana

Ternyata ada salah satu kuliner lawas yang masih dapat dijumpai di Yogyakarta hingga saat ini. Ialah es tape gosrok Mbah Kismo yang ada di sekitar kawasan Notoprajan, Ngampilan, Yogyakarta.

Berbeda dengan es biasanya, es Mbah Kismo memadukan tiga jenis es yakni es gosrok, es tape dan es campur. Ditemui Cendana News belum lama ini, lelaki bernama lengkap Kismo Wiharjo mengaku sudah mulai berjualan es sejak tahun 1980.

“Ada yang menyebut ini es tape, ada juga yang bilang es gosrok. Karena memang saya padukan semua,” kata lelaki berusia 76 tahun itu.

Es racikan Mbah Kismo memang memiliki ciri khas tersendiri. Dari atas, sepintas es Mbah Kismo nampak seperti es gosrok pada umumnya. Gundukan es batu yang diserut dengan lelehan susu kental manis coklat dan sirup merah nampak begitu menggoda.

Di bawah serutan es gosrok tersebut, terdapat selembar roti tawar putih khas es tape. Sementara kuah es terdiri dari tape, serta campuran kelapa muda, nanas, dan kolang kaling. Tak heran bila es ini juga sering disebut es campur.

Rasa manis tape, dan susu kental manis yang berpadu dengan asam nanas serta segarnya kelapa muda terasa begitu lezat untuk dinikmati. Terlebih, adanya roti tawar menjadikan es ini tak hanya menyegarkan namun juga cukup mengenyangkan.

Dengan porsi yang cukup banyak, es Mbah Kismo hanya dibandrol dengan harga Rp6000. Setiap hari Mbah Kismo membuka lapak dagangan es di jalan KH Wachid Hasyim tepatnya di sebelah utara Kecamatan Ngampilan.

“Dulu tahun 1980-an, masih jarang sekali yang jualan es seperti ini. Jadi hampir tiap hari pembeli tak pernah sepi. Selalu saja ramai tak pernah berhenti,” kenang Mbah Kismo yang tinggal di kampung Gendingan, Notoprajan, Ngampilan tak jauh dari lokasinya berjualan.

Baca Juga
Lihat juga...