Festival Dalang, Ciptakan Regenerasi Dalang Masa Depan

Editor: Satmoko Budi Santoso

253

JAKARTA – Guna melestarikan budaya Indonesia, Taman Mini Indonesia Indah (TMII) menggelar Festival Dalang Bocah dan Dalang Muda 2018. Festival ini bertujuan untuk merangsang generasi muda belajar mendalang dalam upaya pelestarian budaya tradisi.

Perhelatan yang melibatkan Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) dalam rangkaian perayaan 1 Muharram 1440 Hijriah ini digelar di Candi Bentar dan panggung Putro Pandowo TMII, Jakarta, pada 20-23 September 2018.

Ketua Pepadi, Kondang Sutrisno mengatakan, festival Dalang Bocah dan Dalang Muda bertujuan untuk menumbuhkan bibit-bibit generasi penerus dalang di masa depan. Termasuk juga menjadi sarana sosialisasi sejak usia dini kepada anak-anak tentang seni tradisi wayang.

Ketua PEPADI, Kondang Sutrisno pada pembukaan Festival Dalang Cilik dan Dalang Muda di Candi Bentar TMII, Jakarta, Kamis (20/9/2018). Foto : Sri Sugiarti.

“Festival ini bertujuan untuk menumbuhkan regenerasi dalang masa depan. Juga untuk menghadirkan wayang sebagai seni hiburan, khususnya bagi kawula muda, bahwa wayang tak kalah populer dengan budaya lainnya,” kata Kondang pada pembukaan Festival Dalang Cilik dan Dalang Muda 2018 di Candi Bentar TMII, Jakarta, Kamis (20/9/2018).

Kondang menegaskan, pendidikan budi pekerti sangatlah penting dalam kehidupan masa depan generasi muda. Nilai-nilai wayang akan menjadi sarana pendidikan budi pekerti bagi anak–anak bangsa.

Dengan budi pekerti yang unggul diharapkan Indonesia mampu mengejar ketertinggalan dengan bangsa-bangsa lain. “Diharapkan agar nilai-nilai dalam wayang ikut andil dalam membentuk karakter bangsa sehingga generasi muda bisa menjadi manusia seutuhnya,” tandasnya.

Deputi IV KSP, Eko Sulistyo (batik hitam) saat pembukaan Festival Dalang Cilik dan Dalang Muda 2018 di Candi Bentar TMII, Jakarta, Kamis (20/9/2018). Foto : Sri Sugiarti.

Pada kesempatan ini, Deputi VI Kantor Staf Presiden (KSP), Eko Sulistyo menambahkan, wayang adalah warisan budaya bangsa yang harus dilestarikan sehingga seni pedalangan bisa dikenal oleh masyarakat Indonesia, khususnya generasi masa depan.

“Festival dalang ini sarana sosialisasi sejak usia dini kepada anak-anak tentang wayang sebagai warisan budaya bangsa,” ujarnya.

Dalam pelestarian budaya tradisi warisan nenek moyang, Eko berharap seni pewayangan bisa masuk kurikulum sekolah sehingga anak-anak bisa lebih mengenal budaya bangsa. Lewat festival ini dia juga berharap akan tumbuh regenerasi dalang masa depan yang mumpuni.

“Seni pewayangan menjadi simpul ikatan batin manusia Indonesia. Itu harapan saya, sehingga dimana pun diaspora masyarakat Indonesia berada selalu mencintai budaya wayang,” tukasnya.

Festival ini diikuti 59 peserta, terbagi dari 30 dalang muda dan 29 dalang cilik berprestasi. Untuk kriteria dalang cilik adalah dalang-dalang yang sedang mengenyam pendidikan di tingkat SD, SMP yakni usia antara 8-12 tahun (kelompok A), dan usia 13-15 tahun (kelompok B). Sedangkan kriteria dalang muda yakni kelas 1 SMA-mahasiswa, antara usia 17-20 tahun (kelompok A) dan usia 21-30 tahun (kelompok B).

Festival ini merupakan pergelaran berbagai ragam wayang antara lain, wayang kulit Purwa (gagak Surakarta, Yogyakarta), wayang kulit Jawatimuran, wayang kulit Banyumasan, wayang kulit Cirebonan, wayang kulit Betawi, wayang Golek Purwa, wayang Golek Cepak, wayang kulit Indramayu dan wayang Banjar.

Festival Dalang Cilik dan Dalang Muda 2018 ini merupakan agenda tetap PEPADI yang didukung oleh TMII dan Kementerian/Lembaga serta stake holder.

M. Setyo Mukti Wicaksono, peserta Festival Dalang Muda 2018, asal Lampung. Foto: Sri Sugiarti.

M. Setyo Mukti Wicaksono, salah satu peserta festival dalang muda asal Lampung mengaku, sejak kelas 5 SD sudah berlatih seni dalang. Dia juga sudah sering mengikuti lomba dalang di berbagai daerah di Indonesia.

“Saya tertarik wayang karena pelestarian budaya tradisi. Alhamdulillah saya didukung orang tua, padahal mereka bukan orang seni,” ujarnya kepada Cendana News.

Pada festival ini, Setyo membawakan lakon bertema “Amarta Binangun” yang menonjolkan tokoh Bratasena. Sang Permadi itulah nama dari penengah Pandawa, saat Bratasena melakukan babad Wanamarta.

Baca Juga
Lihat juga...