Fuad Bawazier : Pak Harto Kenalkan Metode Pembangunan Dinamis 

Editor: Mahadeva WS

433
Fuad Bawazier – Foto Sri Sugiarti

JAKARTA – Mantan Menteri Keuangan (Menkeu) pada era Orde Baru, Fuad Bawazier menyebut, Indonesia tidak boleh melupakan jasa Presiden ke-2, Jenderal Besar HM Soeharto. Begitu banyak hasil pembangunan yang dicapai oleh Pak Harto untuk Indonesia.

“Pak Harto itu pemimpin yang punya andil sangat besar memperkenalkan Indonesia kepada pembangunan yang dinamis dan teratur. Pak Harto pemimpin Asia yang berwibawa,” kata Fuad usai menghadiri haul ke-11 Presiden Soeharto, Kamis (27/9/2018) malam.

Fuad berharap, Indonesia bisa melanjutkan peninggalan-peninggalan baik, dari kepemimpinan Pak Harto, untuk memajukan bangsa dan negara. Pak Harto, mengajarkan segala sesuatu mulai dari yang sangat pribadi. “Seperti Mikul Jero Mendem Dhuwur, artinya, memuliakan orang dan melupakan hal-hal yang jelek. Sifat Pak Harto yang selalu memuliakan orang itu bikin kita dewasa dalam semua lini,” tandas Fuad.

Pak Harto juga selalu mengingatkan, harga sembilan kebutuhan pokok atau sembako harus murah dan terjangkau oleh masyarakat. Hal itu dikarenakan, jika masyarakat perutnya kenyang, maka masyarakat akan bisa berpikir dengan tenang. Hal itulah yang menurut Fuad, selama Pak Harto memimpin, semua masyarakat menyebut harga-harga kebutuhan pokok terjangkau, stabil dan murah.

Kondisinya disebut Fuad, sangat berbeda dengan saat ini. “Sekarang sangat sulit, karena harga kebutuhan pokok meroket. Jadi, Pak Harto menekankan kebutuhan sandang, pangan dan papan.Itu dimulai dari keamanan, kestabilan dan pangan,” ucapnya.

Setelah keamanan dan stabilitas negara terjaga, baru memikirkan pangan terkendali, murah. Sandang teratasi dengan baik, papan dan ketentuannya pun demikian tercapai. “Kalau sekarang, tidak ada lagi yang memikirkan rakyat miskin. Kalau dulu dalam arti benar-benar dipraktekkan, bukan hanya slogan atau retorika. Itu zaman Pak Harto,” tukasnya.

Pada pemerintahan sekarang ini menurut Fuad, pertumbuhan ekonomi menurun. Dan yang paling dikeluhkan masyarakat, daya beli untuk kebutuhan pokok terasa sangat merepotkan. Harga naik tidak terjangkau karena tergantung pada impor. Padahal pada kepemimpinan Pak Harto, Indonesia bisa melakukan swasembada beras.

“Sekarang beras, kedelai, garam, dan buah-buahan impor. Jadi makin tergantung kepada kepentingan luar. Kan repot bangsa besar kalau tergantung pada kebutuhan pokok itu dari luar. Itu kan kemunduran,” pungkas anggota Dewan Pembina Gerindra tersebut.

Baca Juga
Lihat juga...