G30S/PKI, Film Milik Rakyat

Editor: Satmoko Budi Santoso

281

JAKARTA – Kabar baik, perusahaan pemilik SCTV dan Indosiar mengembalikan hak tayang film ‘Pengkhianatan G30S/PKI’ ke Perusahaan Film Negara (PFN). Dengan demikian, stasiun televisi swasta lainnya bebas berkesempatan untuk menayangkan.

Setelah sekian lama tidak tayang, film ‘Pengkhianatan G30S/PKI’ akan kembali tayang pada tanggal 30 September 2018, baik di televisi maupun di berbagai tempat mengadakan nonton bareng (nobar), seperti di antaranya di Gedung Pusat Perfilman H Usmar Ismail (OOHUI) di daerah Kuningan, Jakarta Selatan.

Bahkan acara nobar bersama Titiek Soeharto dan Tommy Soeharto juga akan memutar film ‘Pengkhianatan G 30 S/ PKI’ berupa film asli dengan durasi panjang sekitar 4,6 jam tanpa ada pemotongan.

“Film negara artinya film milik rakyat. Harus dijaga agar tidak rusak dan dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya manfaat sesuai kegunaannya,“ kata Embie C. Noer, penata musik film ‘Pengkhianatan G30S/PKI’, kepada Cendana News, Jumat (28/9/2018).

Poster nobar film Pengkhianatan G30S/PKI bersama Titiek Soeharto dan Tommy Soeharto – Foto Ist

Embie menyambut baik film ‘Pengkhianatan G30S/PKI’ akan diputar kembali.

“Bagus. Agar komunisme sebagai ideologi terlarang di NKRI, tetap diwaspadai kehadirannya dalam segala bentuk, pola dan caranya,“ ungkapnya.

Pada era Orde Baru, film ‘Pengkhianatan G30S/PKI’ menjadi tontonan wajib para pelajar menonton di bioskop, Embie mengaku belum pernah nonton film G30S/PKI di bioskop.

“Tapi sudah puluhan kali nonton saat proses pengerjaan film itu,“ ujarnya mengenang masa syuting.

Adapun kesan tersendiri saat proses pengerjaan film ‘Pengkhianatan G30S/PKI’, bagi Embie, yang paling berkesan merasakan proses kerja kreatif yang solid karena sutradara yang sangat kuat mengarahkan seluruh tim. Untuk melakukan yang terbaik dalam pembuatan film politik yang begitu penting.

“Terlebih pemerintah saat itu sangat percaya pada media film dan kreativitas seni yang memiliki kekuatan dahsyat dalam pembangunan karakter budaya bangsa,“ kenangnya.

Menurut Embie, ada pesan moral yang penting dalam film ‘Pengkhianatan G30S/PKI’.

“Dinamika politik kekuasaan jika tidak dilandasi nilai ketuhanan yang Maha Pengasih dan Penyayang, dapat menjadi perilaku jahat, sadis dan tidak berperikemanusiaan,“ paparnya.

Bagi Embie, film sejarah membutuhkan kompetensi prima dalam bidang teknik dan artistik.

“Karena hanya dengan kompetensi tinggilah teks sejarah dapat dipersembahkan dengan meyakinkan, baik sebagai hiburan maupun dalam memberikan penggambaran nyata. Sehingga penonton dapat menikmati keajaiban sinematografi,“ simpulnya.

Mengenai sosok Pak Harto, Embie menyamakan seperti juga Bung Karno, tipikal yang tepat untuk memimpin bangsa Indonesia yang heterogen dalam mengembangkan potensi budaya.

“Keberhasilan Pak Harto dalam memegang tampuk kepemimpinan di Indonesia yang lamanya mampu melebihi Bung Karno, menunjukkan secara gamblang dan nyata, bahwa Pak Harto lebih kuat dari Bung Karno dalam kemampuan memimpin bangsa,“ tegasnya.

Embie berharap ke depan, Indonesia mempunyai sosok pemimpin seperti Pak Harto.

“Semoga akan lahir pemimpin yang bisa melampaui kekuatan Pak Harto. Karena Indonesia tidak membutuhkan pemimpin eceran, bangsa Indonesia membutuhkan sesuatu yang gagah, besar, kuat, dan cerdas,“ pungkasnya.

Baca Juga
Lihat juga...