Gabus Pucung, Kuliner Khas Kota Bekasi

Editor: Koko Triarko

302
BEKASI – Jika berada di Kota Bekasi, ada berbagai makanan khas Kota Patriot ini yang sayang untuk dilewatkan. Salah satunya, Gabus Pucung, kuliner andalan penggugah selera yang sepintas mirip dengan kuah Rawon.
Berbahan dasar ikan Gabus dan kuah mirip rawon, dengan cita rasa asin, gurih dan pedas. Warna hitamnya berasal dari penggunaan pucung atau disebut juga dengan kluwek. Sedangkan gurih kuahnya berasal dari bumbu ulekan kemiri, bawang merah, bawang putih, jahe, lengkuas dan kunyit, lalu daun salam, daun bawang yang dipotong kecil, serai, dan cabai hijau.
“Untuk melengkapi rasa nikmatnya, saat penyajian ditambahkan taburan bawang goreng. Dan, untuk menambah sensasi rasa lebih enak lagi, bisa dimakan dengan lalapan, seperti rebus petai atau bakwan udang,” ujar Tarsih, pemilik rumah makan khas Betawi di Kampung Pamahan, Sabtu (29/9/2018).
Tarsih, pemilik warung Gabus pucung Bang Tamit Riman. –Foto: M Amin
Menurutnya, Gabus Pucung adalah kuliner khas Betawi, yang dahulu selalu dijumpai saat acara besar, seperti pernikahan, acara keluarga, besanan, selamatan dan lainnya, di lngkungan masyarakat Betawi di Kota Bekasi. Tetapi, sekarang kuliner Gabus Pucung bisa ditemukan di berbagai sudut Kota Bekasi.
Dikatakan, proses pembuatan Gabus Pucung memakan waktu cukup lama. Pertama, saat mengolah dan membersihkan ikan. Karenanya, tidak heran jika Gabus Pucung dahulu hanya bisa ditemukan saat acara besar, karena pengerjaannya khusus, mulai dari memisahkan sirip ikan, mengingat tekstur ikan bersisik dan tajam, sehingga harus lebih ekstra hati-hati.
“Setelah ikan gabus dibersihkan, lalu direndam dengan air garam dan diberi jeruk untuk menetralisir bau amis dari ikan. Ini memakan waktu, maka dalam pengerjaannya harus dibantu beberapa orang dengan tugas masing masing, seperti mengolah bumbu, memasak dan memasukkan ikan,” jelasnya.
Tarsih mengaku memiliki resep tersendiri dalam pengolahan Gabus Pucung. Kebanyakan ditemukan ikan Gabus terlebih dahulu digoreng, lalu dimasukkan ke dalam tumisan bumbu yang telah di masak.
Tetapi, di Warung Gabus Bang Tamit Riman, menggunakan metode berbeda, ikan direbus lalu dicampurkan dengan bumbu yang telah ditumis, sehingga badan ikan akan lebih menyerap bumbu.
“Ikan Gabus yang sudah direbus, tunggu tumisan bumbu seperti kluwek dan lainnya mendidih. Kemudian ikan dimasukkan dan tunggu hingga bumbu meresap ke badan ikan, baru ditambahkan air,” katanya, sembari mengaku sudah delapan tahun membuka warung Gabus Pucung.
Menurutnya, Gabus Pucung berbeda dengan rawon. Gabus Pucung lebih kaya rempah, dan untuk menambah kenikmatan bisa ditambahkan santan saat pengolahan.
Untuk bahan baku Ikan Gabus, lanjut Tarsih, bisa didapat dari Pasar Kranggan. Harga Gabus Pucung saat ini mencapai Rp70 ribu per kilogram, dan selalu ada bahan baku ikan itu yang bisa diperoleh dari berbagai daerah, seperti Sumaera, Kalimantan dan daerah Bekasi sendiri.
“Kalau harga jual di Warung Gabus Bang Tamit Riman, bervariasi. Mulai dari Rp20 ribu sampai Rp70 ribu. Harga terendah satu porsi itu biasanya di bagian ekor, dan kepala yang mahal. Itu pun tergantung ukuran ekor, badan atau pun kepala ikannya,” papar Tarsih.
Gabus Pucung sangat nikmat disantap bersama nasi putih hangat. Ketika kuahnya menyentuh lidah, terasa ada rasa menggigit dari serai dipadu pedasnya cabai. Sedangkan rasa ikan gabus ini mirip lele, tapi dagingnya lebih tebal dan bertekstur serta tidak lembek.
Baca Juga
Lihat juga...