Gamelan Setiyo Laras, Memadukan Musik Tradisional dan Modern

Editor: Makmun Hidayat

271

LAMPUNG — Keberadaan musik tradisional yang dikenal dengan gamelan masih dipertahankan oleh masyarakat di Lampung Selatan keturunan Jawa.

Subekti, salah satu generasi kedua dari warga keturunan Jawa yang menetap di Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan menyebut mulai mengenal gamelan sejak kecil.

Salah satu grup kesenian yang masih mempertahankan gamelan di desa tersebut bernama Setiyo Laras. Sesuai namanya, Setiyo Laras bermakna setia pada keselarasan terutama dalam musik tradisional gamelan.

Seiring perkembangan zaman tergerus oleh modernisasi, instrumen musik tradisional jenis gamelan disebut Subekti mulai jarang dimainkan. Alat musik tradisional tersebut bahkan sebagian hanya ditemukan sebagai pelengkap kesenian tradisional kuda kepang atau jaranan.

Kelompok kesenian campursari atau karawitan yang kerap manggung bahkan masih bertahan dengan terus berlatih bermain musik sekaligus melestarikan kesenian tradisional tersebut. Tantangan kesukaan generasi muda akan musik modern sehingga musik tradisional yang menjadi salah satu budaya leluhur bahkan disiasati dengan memadukan dua jenis alat musik tersebut.

Subekti menyebut kolaborasi tersebut dilakukan dengan menggandeng pecinta seni yang bisa bermain alat musik keyboard, gitar bas. Sementara jenis musik tradisional masih dipertahankan berupa kendang, bonang, demung, saron, kenong, gambang, gong serta alat musik milik grup kesenian Setiyo Laras.

“Pada zaman orangtua saya, bermain musik di grup kesenian Setiyo Laras kerap dilakukan pada malam tertentu sekaligus untuk melekan atau tirakatan terutama bulan Suro sekaligus menembangkan lagu lagu Jawa penuh filosofi,” terang Subekti, salah satu warga desa Pasuruan yang setia bermain alat musik tradisional saat ditemui Cendana News baru-baru ini.

Subekti menyebut, beberapa tahun sempat vacum tanpa latihan, membuat sejumlah alat musik tradisional tidak pernah disentuh. Keinginan untuk nguri-nguri tradisi serta melestarikan kesenian tradisional berpadu dengan semangat sejumlah generasi di desa tersebut.

Ia menyebut sejumlah alat musik tradisional bahkan sudah memasuki usia puluhan tahun beberapa diantaranya sudah dikeramatkan. Memasuki bulan Muharam atau bulan Suro alat musik gong bahkan harus menjalani ritual penyucian atau jamasan.

“Gayung bersambut antara generasi muda penyuka musik modern dan generasi tua yang masih setia dengan Setiyo Laras sehingga kerap dilakukan latihan,” beber Subekti.

Subekti (paling kiri) menabuh kendang mengiringi lagu-lagu bahasa Jawa dan lagu hits kekinian, gamelan dipadukan dengan musik keyboard yang dimainkan Krisman – Foto: Henk Widi

Ia menyebut kerap berlatih dengan sejumlah anak muda dan memadukan alat musik keyboard dengan gamelan. Kecintaan akan musik tradisional tersebut didukung oleh salah satu generasi yang lebih tua bernama Sukamto sebagai tempat menyimpan semua peralatan gamelan. Sebagai salah satu anggota dan pengurus Paguyuban Keluarga Yogyakarta (PKY) Sukamto bahkan selalu mengajak generasi muda untuk bisa berlatih musik gamelan.

Musik gamelan sebagai alat musik tradisional bahkan mulai dikolaborasikan dengan musik modern tanpa meninggalkan ciri khas Setiyo Laras. Krisman, selaku pemain musik keyboard bahkan menyebut tanpa meninggalkan ciri khas musik tradisional, perpaduan musik tradisional dan modern menciptakan suasana berbeda untuk didengar. Sejumlah lagu-lagu bernuansa Jawa dan lagu lagu hits kekinian bahkan semakin menarik saat dipadukan antara gamelan dan musik modern.

“Harus butuh latihan terus menerus untuk menyelaraskan alat musik tradisional dan modern, hasilnya sejumlah lagu bisa lebih menarik didengarkan,” beber Krisman.

Lagu lagu berbahasa Jawa hits seperti Lingsir Wengi, Kelinci Ucul, Sampak Manyuro Slendro, Playon Lasem, Sampak Pelok bahkan bisa dipadukan dengan musik modern. Lagu lagu hits yang dipopulerkan oleh Via Valen bahkan menjadi lebih tradisional dengan iringan gamelan saat dinyanyikan oleh penyanyi yang kerap disebut sinden. Latihan berkali-kali dengan sejumlah lagu wajib termasuk lagu mars Paguyuban Keluarga Yogyakarta membuat sejumlah pemain musik bisa berimprovisasi.

Krisman menyebut meski alat musik tradisional berupa gamelan milik Setiyo Laras nyaris tergerus, namun keinginan memadukan musik tradisional dan modern membuat keduanya bisa saling melengkapi. Tanpa mengurangi estetika sekaligus makna dari kesenian yang ditampilkan dalam musik dan lagu, Setiyo Laras masih tetap bisa eksis dan urung disimpan dalam gudang. Krisman menyebut secara rutin menyesuaikan waktu luang hampir setiap pekan pemain musik gamelan, penyanyi akan berlatih.

“Selama bulan Suro ini dengan menghayati tradisi Jawa untuk rajin tirakat atau melekan sembari mendengarkan musik kita terus melakukan latihan,” terang Krisman.

Sebagian pecinta musik gamelan diakui Krisman sebagian merupakan generasi usia 50 hingga 60 tahun. Meski demikian generasi muda usia 20 tahun ke atas diantaranya Sugeng Hariyono menyebut mengapresiasi sejumlah pihak yang menghidupkan kembali Setiyo Laras. Sebagai sebuah grup kesenian desa yang nyaris punah, kepedulian generasi muda meski dengan memadukan alat musik modern membuat Setiyo Laras kembali lestari.

Suasana malam yang dihiasi dengan gending sekaligus iringan musik dan lagu Jawa bahkan sekaligus mengingatkan Sugeng Hariyono akan kota Ponorogo kota kelahirannya. Meski tinggal di Lampung, Pulau Sumatera namun kepedulian untuk melestarikan musik tradisional gamelan membuat ia masih berada dalam suasana di Pulau Jawa. Perpaduan alat musik tradisional gamelan dan keyboard tersebut sekaligus menarik generasi muda akan musik dan budaya leluhur.

Baca Juga
Lihat juga...