Gas 3 Kg Langka, Nelayan di Lampung Beralih ke Gas Nonsubsidi

Editor: Koko Triarko

1.457
LAMPUNG – Meski telah dilakukan operasi pasar (OP) gas elpiji bersubsidi ukuran 3 Kilogram di wilayah Lampung Selatan, harga gas elpiji masih bertahan mahal di angka Rp30.000. Selain itu juga masih langka ditemukan, sehingga sejumlah nelayan terpaksa menggunakan gas nonsubsidi yang harganya jauh lebih maha
Safri (38), nelayan bagan congkel pencari teri, mengaku sengaja beralih ke gas elpiji nonsubsidi, karena mudah diperoleh. Ia membeli tabung tersebut di salah satu stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) Jalan Lintas Timur.
Tabung gas elpiji ukuran 5,5 kilogram yang dikenal dengan bright gas dibeli pertama kali seharga Rp330.000 berikut isi. Setelah itu, isi ulang tabung elpiji bright gas atau tabung pink tersebut dibeli dengan harga Rp75.000. Selama terjadi kelangkaan elpiji 3 Kg, ia dan sejumlah nelayan lain mengaku tidak pernah mengalami kelangkaan.
Safri, nelayan bagan congkel memilih beralih ke gas nonsubsidi ukuran 5,5 kilogram untuk kebutuhan memasak di kapal [Foto: Henk Widi]
“Harga memang lebih tinggi beberapa kali lipat, namun gas elpiji nonsubsidi bisa digunakan sebulan lebih lama dibandingkan gas subsidi,” terang Safri, Rabu (5/9/2018).
Selain tabung gas elpiji ukuran 5,5 Kilogram, sejumlah nelayan di Muara Piluk Bakauheni juga ada yang menggunakan tabung gas elpiji 12 Kilogram. Isi ulang tabung gas ukuran 12 Kg berkisar Rp140.000 hingga Rp150.000, dan nelayan tidak pernah mengalami kehabisan stok, serta kelangkaan gas saat membeli di agen atau di SPBU penyedia gas elpiji.
Penggunaan tabung gas elpiji nonsubsidi, diakui Safri merupakan inisiatif sendiri dan sekaligus kebutuhan untuk melaut.
Ia sengaja membeli tabung elpiiji nonsubsidi, karena harus membeli tabung gas elpiji ukuran 3 Kg saat operasi pasar menggunakan Kartu Keluarga (KK). Sementara, dirinya yang tinggal di wilayah Lampung Timur dan menjadi nelayan di wilayah Lampung Selatan, tidak membawa KK.
“Saya tentunya tidak mau terganggu hanya karena gas elpiji tidak bisa diperoleh, apalagi saat gas langka dan mahal,” beber Safri.
Sejumlah ibu rumah tangga lain, di Desa Ruguk, Kecamatan Ketapang, menyebut pasca operasi pasar, sejumlah pangkalan mulai mendapat tambahan kuota gas 3 Kg.
Susi (30), ibu rumah tangga menyebut, harga di sejumlah pengecer mulai turun dari semula Rp30.000 per tabung menjadi Rp26.000, dan harga tersebut masih cukup tinggi. Sebelumnya, harga gas masih bertahan pada harga Rp23.000.
Untuk membeli gas, ia pun mengaku harus mengantre untuk menunggu pengiriman dari distributor. Saat distributor datang, biasanya pangkalan dan pengecer akan diberitahu agar bisa mendapatkan gas subsidi.
Santi mengaku belum ingin beralih ke gas nonsubsidi atau bright gas, karena harga yang mahal dan sebagai buruh tani, belum memiliki penghasilan cukup untuk beralih ke gas nonsubsidi.
Lihat juga...

Isi komentar yuk