Geliat Pariwisata Banyuwangi, Jadi Penggerak Sentra Ekonomi Baru

Editor: Makmun Hidayat

195

BANYUWANGI — Geliat Pariwisata Banyuwangi dianggap mampu menjadi lokomotif penggerak dan dapat memperkuat daerah tersebut menjadi sentra ekonomi baru di ujung timur Pulau Jawa tersebut.

Itu terbukti dengan derasnya kunjungan ke Banyuwangi, baik untuk berwisata secara umum maupun wisata MICE (meeting, incentive, conference, exhibition), membawa dampak positif ke ekonomi daerah. Hal ini menjadi pemompa semangat para pelaku usaha pariwisata di daerah tersebut untuk terus berkembang.

“Kemajuan wisata Banyuwangi yang pesat bukan hanya berita gembira bagi daerah ini, tapi juga bagi Indonesia. Pariwisata memang menjadi instrumen untuk mengakselerasi dan memeratakan ekonomi,” ujar Kepala Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Agusman saat berkunjung ke Pendopo Sabha Swagata Blambangan, Minggu (16/9/2018).

Lebih jauh Agusman mengatakan, pariwisata Banyuwangi dapat menjadi alternatif terhadap penguatan mata uang rupiah dan devisa negara dengan semakin banyaknya wisatawan mancanegara (wisman) yang berkunjung ke Banyuwangi.

Beberapa destinasi di Banyuwangi yang jadi favorit wisman saat ini adalah Kawah Ijen, Pantai Plengkung, dan Pantai Sukamade. Dan bukan tidak mungkin akan bertambah karena semangat pengembangan pariwisata yang dimiliki dunia usaha hingga kini masih berkembang.

Agusman juga menambahkan, Banyuwangi juga mampu menjadi alternatif destinasi wisata unggulan bagi wisatawan nusantara selain Bali dibandingkan ke luar negeri. Hal ini juga berkorelasi positif untuk mengerem permintaan terhadap mata uang asing, yang pada akhirnya ikut memperkuat rupiah.

“Kita berharap hal positif di Banyuwangi ini terus dipertahankan,” ujar Agusman.

Dalam kesempatan yang sama, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas mengungkapkan, sektor pariwisata memang menjadi salah satu fokus program kerjanya selama memimpin. Banyuwangi dianugerahi bentang alam yang indah nan lengkap serta keanekaragaman seni budaya yang begitu kuat menjadikan modal utama yang harus digali dan dikembangkan secara serius sehingga dapat dijadikan sumber pendapatan ekonomi bagi warga Banyuwangi.

“Sejak awal, kami yakin pariwisata bisa meningkatkan ekonomi daerah, dan itu terbukti di Banyuwangi. Kemiskinan kami menurun pesat menjadi 8,6 persen dari sebelumnya dua digit, dan pendapatan per kapita juga meningkat lebih dari 120 persen menjadi Rp45 juta per orang per tahun,” ungkap Anas.

Kuantitas kunjungan wisatawan yang melancong ke Banyuwangi sendiri terus mengalami peningkatan. Tahun 2017, terdapat 98 ribu wisman yang berkunjung ke daerah berjuluk The Sunrise of Java tersebut, sedangkan wisatawan domestiknya mencapai 4,9 juta.

Anas juga memaparkan, selain memoles berbagai tempat wisata dan atraksi kebudayaan, pihaknya juga telah menyiapkan aksesabilitas dan infrastruktur penunjang, mulai bandara hingga hotel-hotel baru yang terus tumbuh.

“BI selalu melakukan supervisi terhadap upaya-upaya daerah dalam mengelola inflasi, serta membantu daerah dalam memetakan sektor-sektor ekonomi strategis,” ujarnya.

Departemen Komunikasi BI berkunjung ke Banyuwangi dengan membawa 170 orang jajaran dan mitranya untuk menggelar pertemuan dan pendidikan di Banyuwangi selama tiga hari sejak Jumat (14/9/2018). Kunjungan tersebut dapat menambah deretan kunjungan BI dan lembaga lainnya sehingga dapat menambah geliat wisata MICE di Banyuwangi.

Lihat juga...

Isi komentar yuk