Generasi Milenial Harus Jadi Agen Perubahan

Editor: Koko Triarko

411
BEKASI – Ketua Komisi Pemilihan Umun (KPU) Kota Bekasi, Ucu Asmara Sandi, berharap generasi milenial mampu menjadi agen perubahan politik, karena perilaku politik harus memberi contoh yang baik sebagai panutan generasi berikutnya.
“Supaya mereka bisa mengikuti tren yang baik, maka partai politik (parpol) harus menunjukkan perilaku politik yang baik menyambut Pemilu Presiden dan Pemilihan Legislatif 2019, nanti,”ungkap Ucu, sapaan akrab Ketua KPU Kota Bekasi dalam acara ngobrol publik oleh Ikatan Sarjana Rakyat Indonesia (ISRI) di Caffe Radja Ngopi, Bekasi Timur, Sabtu (29/9/2018) malam.
Dikatakan, meningkatnya partisipasi dalam pemilihan cenderung meningkat. Hal itu ditunjukkan dari kenaikan partisipasi jumlah pemilih pada Pilkada serentak pemilihan Wali Kota Bekasi 2018, dari sebelumnya hanya 48 persen menjadi 79 persen.
“Dari jumlah peningkatan itu, didominasi oleh pemilih milenial dan emak-emak. Persentasenya, jumlah pemilih dari umur 17 sampai 35 tahun di Kota Bekasi persentasenya di atas 50 persen. Untuk itu, harus dimanfaatkan peluang apa yang dibutuhkan dengan dunia mereka program itu harus mampu meyakinkan,” ujar Ucu.
Menurut dia, adaptasi pemilih milenial cenderung berubah-ubah. Adaptasi politiknya cepat mengalami perubahan dalam kurun waktu tertentu. Untuk itu, calon anggota legislatif harus bisa mengambil peluang tersebut dengan terlebih dahulu memahami keinginan mereka.
Hal senada juga untuk pemilih emak-emak, lanjut Ucu, pemilih emak-emak cukup mendominasi di Kota Bekasi dengan persentase lebih tinggi dibanding pemilih laki-laki.
Pemilih milenial, berbeda dengan pemilih tua. Biasanya sudah menetapkan pilihan, lebih cenderung kepada partai politik tertentu. Berbeda dengan pemilih milenial tentunya yang cenderung ‘galau’. Pemilih milenial akan menilai dari perilaku di media sosial.
Dia juga mengapresiasi dan berterimakasih kepada caleg, yang terus melakukan sosialisasi, bersaing untuk merebut suara pemilih. Artinya, mereka akan mendatangi langsung pemilih untuk mengajak berpartisipasi dalam Pemilu mendatang.
“Ini adalah kepedulian, yang bahaya jika caleg atau partai politik cuek, tidak peduli dengan pemilih. Untuk itu, diharapkan caleg atau pun  parpol harus memberi contoh cara menang yang baik kepada pemilih milenial,” tegasnya.
Sementara pengamat politik Kota Bekasi, Herman Dirgantara, menambahkan harus ada ruang diskusi, di Kota Bekasi, menyambut Pemilihan Umum 2019.
Hal ini, lanjutnya, harus melibatkan aktor berkompeten untuk memberi pencerahan dan ruang diskusi antarpemilih dan masyarakat.
“Melalui pemilu legislatif dan presiden 2019 mendatang, adalah momentum penentu nasib daerah selama lima tahun ke depan. Untuk itu, harus ada ruang diskusi publik setiap minggu di Kota Bekasi, sebagai pencerahan dalam menentukan pilihan terhadap calon wakilnya di DPRD Kota Bekasi,” harap Herman.
Ngobrol Publik, blak-blakan dengan tema berebut suara pemilih milenial dan emak-emak itu, menghadirkan sejumlah narasumber dari caleg, pemerhati politik dan aktivis perempuan.
Baca Juga
Lihat juga...