Giri Basuki, Ungkap Kedamaian yang Hilang

Editor: Satmoko Budi Santoso

169

JAKARTA – Giri Basuki termasuk seniman yang cukup aktif berpameran, baik pameran lukisan tunggal maupun pameran lukisan bersama. Ia gelisah dengan keadaan sekarang yang tidak karuan, yang terlihat dari lukisan yang dipamerkan. Dari lukisan abstrak, ia kini ke Mooi Indie mengungkapkan kedamaian yang hilang.

“Dalam pikiran saya Mooi Indie itu adalah kondisi kita dulu disebut sebagai negara yang indah, Mooi itu indah dan Indie itu Indonesia,“ kata pelukis Giri Basuki kepada Cendana News di Pameran Lukisan Tunggal Mooi Indie karya Giri Basuki di Galeri Cipta III, Taman Ismail Marzuki (TIM), Cikini, Jakarta Pusat, Jumat (14/9/2018).

Lelaki kelahiran Boja, Kendal, 11 Maret 1969 itu, membeberkan kenapa dirinya sekarang mengangkat Mooi Indie karena seperti membalikkan telapak tangan saja. Selama ini karyanya lukisan abstrak jadi tidak ada figur di dalamnya.

“Lukisan abstrak itu kekuatannya adalah cipratan dan emosi, tapi tidak ada figur,” beber Pemenang Lomba Poster “Hak Azasi Manusia’, Elsam, Jakarta (1997). Giri mengaku jenuh karena itu kemudian ia merindukan sesuatu yang damai.

“Ketika saya jenuh di lukisan abstrak yang notabene cara kerja melukis abstrak awut-awutan, seperti hari ini banyak bersliweran berita-berita yang tidak karuan, hoax, saya balik ke belakang ke tanaman yang indah-indah,” paparnya.

Lalu Giri bertemu dengan Shorgum, pohon yang dulu bernama Burgul.

“Dalam sejarah pernah berperan, ketika kita kekurangan pangan, pohon itu yang menyelamatkan,“ ungkapnya.

Menurut Giri, Mooi Indie dalam pengertiannya yaitu sebuah kedamaian yang hilang.

“Mudah-mudahan kita bisa kembali lagi ke suasana yang damai itu, kita tahu hari ini suasana di luar sana tak karuan, “ harapnya.

Giri merindukan kedamaian, maka ia buat karya yang sebenarnya sangat berisiko. Selama ini dirinya dikenal sebagai pelukis abstrak, tiba-tiba melukis dengan figur.

“Kalau saya gagal secara teknis membentuk figur, banyak orang menganggap bunuh diri,“ simpulnya.

Ada pula karya Giri yang berbentuk instalasi yang memperlihatkan padi-padi yang digantung.

“Ini respon dari beras kita, sebenarnya tumbuh dari tanah kita, tapi ini datang dari luar, impor, maka padinya digantung. Itu tidak boleh maka bentuknya silang,“ tegasnya.

Menurut Giri, pangan bagi negara itu sangat penting.

“Kita boleh tidak punya apa-apa, tapi jangan sampai kelaparan. Ada sebuah negara yang saling membunuh gara-gara ingin sekadar makan, kita tidak mau seperti itu,“ tandasnya.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.