Gubernur Baru Diminta Langsung Memimpin Pemberantasan Rabies

Editor: Mahadeva WS

204

MBAY – Gubernur NTT yang baru, Viktor Laiskodat, diharapkan langsung membantu warganya berjuang memberantas rabies. Meningkatnya jumlah kasus gigitan hewan terinveksi rabies terhadap manusia selama 20 tahun terakhir, menjadi permasalahan besar di Flores dan Lembata.

Warga membutuhkan pemimpin daerah yang mempunyai komitmen memberantas penyakit tersebut. “Gubernur baru, Viktor Laiskodat, yang baru dilantik 5 September 2018 lalu, harus bisa memimpin langsung pemberantasan rabies di Pulau Flores dan Lembata, yang telah berlangsung selama 20 tahun, dan tanpa ada penanganan serius dari pemerintah,” tegas Sekretaris Komite Rabies Flores dan Lembata (KRFL) dr.Asep Purnama, Jumat (7/9/2018).

Sekertaris Komite Rabies Flores dan Lembata, dr.Asep Purnama. Foto : Ebed de Rosary

Dokter Asep mengatakan, Gubernur NTT harus memimpin langsung, dan melakukan aksi nyata dalam pemberantasan rabies. Tercatat, selama 20 tahun terakhir, sudah 300-an nyawa warga tak berdosa melayang karena rabies. Virus rabies akan menjadi salah satu kendala pengembangan pariwisata NTT.

Gubernur dan Wakil Gubernur NTT yang baru, Viktor Laiskodat dan Josef Nae Soi, memiliki program unggulan sektor pariwisata. “Jika gubernur dan wakil gubernur yang baru mampu membebaskan NTT dari rabies, maka akan merubah NTT (Nyawa Terancam Terus) akibat virus rabies menjadi NTT (New Tourism Teritory),” tandasnya.

Rabies di Flores dan Lembata jika tidak diatasi, virusnya akan berpindah ke Pulau Timor, Alor, Sumba, Sabu Raijua dan Rote Ndao. Hal itu akan menyebabkan wilayah NTT menjadi darurat rabies. Dampaknya, wisatawan akan berpikir dua kali bila may datang ke NTT.

Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Nagekeo, Rufus Raga mengatakan, selama 2018, di Kabupaten Nagekeo terdapat dua orang anak yang meninggal karena digigit hewan pengidap rabies. “Hingga Agustus 2018, terjadi dua kasus kematian akibat rabies, yang disebabkan gigitan anjing yang positif mengidap penyakit rabies. Di Kelurahan Raga, Kecamatan Boawae, menyebabkan kematian seorang anak berusia 12 tahun, pada 22 Maret  2018 lalu,” sebutnya.

Satu kasus kematian lainnya, menimpa seorang anak berusia sembilan tahun di Kampung Adat Wajo, Desa Wajo, Kecamatan Keo Tengah. Anak tersebut digigit anjing pada Januari 2018, dan gejala mulai timbul pada 6 Mei 2018. Korban meninggal dunia pada 8 Mei 2018. “Jumlah kasus gigitan hewan penular rabies di Nagekeo sejak Januari sampai Juli 2018 ada 1.113 kasus. Rinciannya, 1.060 orang digigit anjing, 49 orang digigit kucing dan empat orang digigit monyet,” rincinya.

Rufus menyebut, saat ini masih tersedia vaksin anti rabies di dua Puskesmas yakni Puskesmas Danga dan Puskesmas Nangaroro. Warga yang memiliki hewan peliharaan seperti anjing, kucing dan monyet agar segara memvaksin hewan peliharaannya.

Lihat juga...

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.