Hadapi Revolusi Industri, Institusi Pendidikan Pertanian Diminta Lakukan Perubahan

Editor: Satmoko Budi Santoso

208

YOGYAKARTA – Direktur Jenderal (Dirjen) Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian RI, Sumarjo Gatot Irianto, menilai, institusi pendidikan pertanian di Indonesia perlu mengambil peran lebih dan melakukan perubahan besar dalam menghadapi disrupsi teknologi di era revolusi industri 4.0.

Ia menyebut, untuk menghadapi ketidakpastian di sektor pertanian, diperlukan aktor atau pemain-pemain baru dari kalangan generasi milenial yang dianggap memiliki kaya inovasi dan keberanian lebih dibanding generasi tua.

“Sejarah membuktikan bahwa pionir selalu datang dari generasi muda yang tidak puas dengan kemapanan. Bukan generasi tua yang nyaman dengan kemapanan,” kata Dirjen Sumarjo Gatot Irianto saat menyampaikan pidato ilmiah pada Rapat Senat Terbuka Upacara Dies Natalis ke-72, Fakultas Pertanian UGM, Kamis (27/9/2018).

Sumarjo pun mengajak setiap generasi muda khususnya lulusan sarjana pertanian agar mengambil peluang yakni sebagai pemain di dalamnya, dan bukan sebagai penerima manfaat saja. Sebab hal itu akan menjadikan dunia pertanian Indonesia tertinggal dan terpinggirkan.

Selain itu, Sumarjo juga menilai, konsep pengajaran pendidikan pertanian masih mengandalkan diktat kuliah. Maka, saat ini perlu diubah, untuk menyesuaikan dengan perkembangan zaman.

“Saat ini sudah banyak pendidikan gratis yang bisa didapatkan generasi muda lewat dunia digital. Tumbuhnya internet of thing (IoT) dan konektivitas, membuat keputusan pertanian saat ini sudah bersumber pada data, dan bukan lagi keputusan subjektif manajer pertanian,” katanya.

Ia mencontohkan, saat ini salah satu perusahaan swasta di Australia tidak lagi menggunakan lahan luas dalam mengelola pertanian. Mereka telah mampu memanfaatkan kelimpahan air laut dalam bidang pertanian berkelanjutan.

“Mereka menanam sayuran dan buah-buahan secara hidroponik dengan menggunakan destilasi air laut serta energi surya sehingga minim penggunaan pupuk,” katanya.

Bahkan dengan ditemukannya teknologi sensor kelembaban tanah dan suhu, saat ini jumlah dosis dan interval irigasi termasuk waktu pengendalian hama dan penyakit bisa ditentukan melalui alat. Dengan begitu, efisiensi dan efektivitas penggunaan air bisa dilakukan.

“Saya berharap, fakultas pertanian dapat bekerja sama dengan fakultas teknik dalam upaya pengembangan sensor berbagai komoditas termasuk dalam interkoneksi alat untuk mekanisasi pertanian,” ungkapnya.

Baca Juga
Lihat juga...