Hama Kutu Kebul Serang Cabai, Petani tak Bisa Panen

Editor: Satmoko Budi Santoso

209
Salah seorang petani asal Dusun 4 Kanoman, Panjatan, Kulon Progo, Yogyakarta, Suryana menunjukkan tanaman cabai miliknya yang terserang hama Kutu Kebul - Foto Jatmika H Kusmargana

YOGYAKARTA – Sejumlah petani cabai di Kulon Progo mengaku kesulitan mengatasi hama yang biasa disebut Kutu Kebul yang menyerang tanaman mereka. Hama berupa kutu berwarna putih itu diketahui sulit dibasmi hingga mengakibatkan gagal panen.

Seperti diungkapkan salah seorang petani cabai asal Dusun 4 Kanoman, Panjatan, Kulon Progo, Yogyakarta, Suryana. Menanam cabai di lahan seluas 1000 meter persegi, ia mengaku, mengalami gagal panen total. Tanaman cabai miliknya yang berusia 70 hari tak bisa dipanen karena mengalami perlambatan pertumbuhan.

“Hama ini baru muncul kali ini. Berupa kutu berwarna putih yang bisa terbang. Kutu Kebul ini biasa menyerang daun muda. Dia menghisap sari makanan tanaman hingga membuat daun keriting dan batang ros tak bisa memanjang,” ungkapnya, Senin (24/9/2018).

Suryana menyebut, serangan hama ini terjadi saat tanaman cabai mulai tumbuh daun. Bahkan ketika tanaman baru berumur 1 minggu. Selain membuat tanaman mengalami perlambatan pertumbuhan, serangan hama kutu Kebul ini juga membuat sejumlah tanaman mati layu.

“Hama Kutu Kebul ini berbeda dengan virus bule. Namun kutu ini bisa menularkan virus bule. Tanaman yang kena virus bule, apabila dihinggapi kutu kemudian hinggap pada tanaman lain, maka tanaman itu akan ikut kena virus bule. Sehingga penyebaran virus bule akan sangat cepat,” katanya.

Dengan usia tanaman yang semestinya sudah bisa dipanen yakni 70 hari, Suryana mengaku, sampai saat ini belum bisa memanen tanaman cabainya. Ia mendapati, tanaman cabainya mengalami penciutan daun serta pemendekan batang ros tanaman.

“Melihat kondisinya seperti ini, kemungkinan bisa panen sekitar 25 persen saja sudah bagus. Padahal kalau normal seperti tahun lalu, hasil panen bisa mencapai 1 ton,” ungkapnya.

Saat awal serangan hama tersebut, Suryana sendiri mengaku, sudah berupaya mengatasi dengan menyemprotkan berbagai pestisida. Namun, hal itu ternyata tidak mampu membunuh atau sekadar mengurangi serangan hama.

“Pihak PPL mengatakan, kalau serangan Kutu kebul ini memang sulit diobati. Karena kutu ini punya lapisan lilin. Selain itu pertumbuhan kutu ini juga sangat cepat. Apalagi saat musim kemarau seperti saat ini. PPL hanya mengarahkan petani untuk melakukan antisipasi, untuk mengatasi sulit,” jelasnya.

Baca Juga
Lihat juga...