Hapus Stigma Negatif pada ODHA dengan Informasi Akurat

Redaktur: ME. Bijo Dirajo

223

JAKARTA — Target pemerintah Indonesia untuk mencapai target nol infeksi baru, nol kematian yang disebabkan AIDS dan nol-stigma diskriminasi terkait HIV AIDS pada 2030, menurut Penggiat Kesehatan Reproduksi Dr. Maya Tri Siswanti, MKM dapat tercapai jika semua pihak yang terkait dapat bekerja sama.

“Sudah cukup baik kinerja pemerintah, hanya untuk anggarannya memang masih banyak ditunjang oleh global fund. Tapi ada progres bahwa obat ARV sekarang sudah masuk dalam program APBN, sehingga bisa dapat gratis. Kalau dulu awalnya obat ini Rp3 juta per bulan, kalau sekarang tidak sampai,” kata Dr. Maya kepada Cendana News, Minggu (23/9/2018).

Dr. Maya menyampaikan bahwa tingkat penderita ODHA (Orang dengan HIV Aids) sesuai data ASIAN Epidemic Models tahun 2016 adalah sekitar 600 ribu orang. Sementara berdasarkan laporan dari Kementerian Kesehatan pada triwulan pertama 2018 hanya 200 ribuan orang.

Perbedaan yang signifikan ini terjadi karena beberapa sebab. Pertama, kasus yang terjadi belum terlaporkan. Ada orang mengidap HIV tapi tidak mau berobat, atau kedua, terindikasi mengidap tapi tidak mau periksa. Tudak sedikit yang tidak tahu jika dirinya terinfeksi. Sehingga data yang didapat pun menjadi tidak lengkap.

“Kenapa ini bisa terjadi, karena orang takut dengan stigma negatif maupun perlakuan diskriminasi yang diperoleh ODHA jika diketahui mengidap penyakit ini,” paparnya.

Stigma negatif ini bisa ditemukan baik di perkotaan maupun pedesaan. Tapi memang wilayah perkotaan memiliki persentase lebih kecil dalam hal stigma negatif dan diskriminasi dibandingkan wilayah pedesaan.

Ini terlihat saat kita melakukan edukasi atau wawancara ODHA. Masyarakat di kota besar lebih memiliki akses informasi yang akurat, sehingga mereka pun bisa menghilangkan stigma itu.

“Tapi tidak halnya dengan orang di daerah. Inilah yang menjadi alasan pentingnya edukasi secara terus menerus, sehingga masyarakat bisa mengerti dan mengubah sikapnya,” ujar Dr. Maya

Untuk menghilangkan rasa takut masyarakat akan penularan HIV Aids, Dr. Maya kembali menegaskan bahwa penularan itu sama sekali tidak mudah.

Yang pertama, penularan melalui hubungan seksual yang berisiko. Karena virusnya terdapat pada cairan sperma dan cairan vagina. Yang kedua, melalui jarum suntik yang tidak steril (terutama pada pengguna narkoba suntik).

“Ini pun sudah banyak menurun tingkat penularannya sejak tiga tahun terakhir. Karena orang semakin mengerti akan bahayanya jarum suntik yang dipakai bergantian dan juga karena sudah semakin susah untuk mendapatkan narkoba yang menggunakan jarum suntik,” urai Dr. Maya.

Cara penularan yang ketiga adalah melalui transfusi darah. Tapi, Dr. Maya menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu takut jika mendapatkan dari Palang Merah Indonesia (PMI).

“Tidak perlu takut, karena PMI itu punya SOP sendiri yang memastikan bahwa semua kantong darah yang dikelola tidak akan terkontaminasi virus HIV AIDS,” tegasnya.

Penularan yang berikutnya adalah dari ibu kepada anaknya. Dr. Maya menjelaskan ada proses yang menyebabkan dapat menular.

Pertama saat janin, dimana penularan akan terjadi melalui pembuluh darah. Yang kedua melalui proses persalinan dan yang ketiga melalui ASI.

“Jadi seorang ibu yang terdiagnosa HIV AIDS saat hamil, akan diberi Anti Retro Viral untuk menekan tingkat penularan,” ujar Dr. Maya.

ARV ini merupakan suatu obat yang berfungsi untuk menekan perkembangan virus agar tidak bertambah banyak.

Untuk menular, jumlah virus itu harus cukup banyak dan ganas. Dan ada akses bagi virus untuk masuk atau keluar pembuluh darah.

“Sehingga dengan menekan jumlah virus yang ada maka akan menekan juga persentase penularannya,” terangnya.

Berdasarkan penelitian, jika tidak menggunakan ARV tingkat penularan dapat mencapai 25-45 persen. Tapi jika menggunakan, maka persentasenya hanya di bawah 8 persen.

“Bahkan pada beberapa kasus dapat mencapai 2 persen,” kata Dr. Maya menjelaskan.

Pemberian ARV ini, kata Dr. Maya, bukan hanya pada ibu hamil tapi juga pada semua ODHA yg telah memenuhi kriteria.

“Dengan pemeriksaan CD4, maka akan ditentukan ODHA itu perlu ARV atau tidak. Jika hasilnya di bawah 350, maka harus. Tapi jika di atas, belum perlu. Kecuali untuk orang-orang yang masuk dalam populasi kunci ya, kalau ini pasti dikasih,” katanya.

Yang termasuk dalam populasi kunci ini adalah para pekerja seks dan pelanggannya, waria, lelaki yang seks dengan lelaki, orang dengan perilaku seks berisiko dan pengguna narkoba suntik.

Dr. Maya mengharapkan agar ke depannya tidak ada lagi infeksi baru, sehingga akan menurunkan angka penularan. Pengidapnya juga harus patuh mengkonsumsi ARV sehingga tidak ada lagi kasus orang meninggal karena HIV AIDS.

 

Baca Juga
Lihat juga...