Harga Batu Bara Merangkak, Bank Enggan Lirik Pertambangan

Editor: Satmoko Budi Santoso

178

BALIKPAPAN – Kendati harga batu bara mulai merangkak naik dan terus menguat, bank masih berhati-hati membuka peluang kredit besar pada sektor pertambangan di wilayah Kalimantan Timur.

Menurut Vice President Jaringan dan Layanan BNI Kantor Wilayah Banjarmasin, Anton Prasetyo, saat ini yang dilakukan masih menunggu dan melihat. Apalagi dari data Bank Indonesia tercatat NPL tertinggi berasal dari sektor tambang batu bara.

“Kalau ada debitur mengajukan kredit yang diterima debitur existing, dilihat lagi track record-nya. Kami buka hanya pada sektor penunjang, tidak langsung ke penambang,” terangnya, Rabu (26/9/2018).

Dominasi portofolio kredit BNI wilayah kerja Kaltimra dari perdagangan, perkebunan, serta minyak dan gas bumi (migas). Disebutkannya, perdagangan melalui program kredit usaha rakyat (KUR) penetrasinya cukup tinggi. Untuk wilayah Balikpapan tercatat telah melampaui target atau tercapai Rp109 miliar.

“Target Kaltim untuk KUR Rp 246 miliar. Realisasinya baru Rp 212 miliar. KUR masuk kredit kecil atau Rp 25 miliar ke bawah. Realisasi kredit kecil kami Rp 1,3 triliun dari target Rp 1,4 triliun. Di sisa bulan ini kami optimistis mampu merealisasikan target yang dibebankan satu tahun,” harap Anton Prasetyo.

Untuk diketahui, kinerja BNI Kaltimra memberikan kontribusi hingga 40 persen untuk Kalimantan yang ditopang oleh kota Balikpapan dan Samarinda.

Sementara itu, Berdasarkan data Bank Indonesia Perwakilan Balikpapan, Stabilitas Sistem Keuangan (SSK) Balikpapan terpantau relatif aman disertai dengan peningkatan DPK maupun aset pada periode Agustus 2018.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Suharman Tabrani, menjelaskan kendati kredit melambat, namun kredit Agustus 2018 masih tumbuh dibandingkan periode sebelumnya. Sedangkan pertumbuhan aset meningkat dari 6,03 persen (yoy) pada bulan Juli 2018 menjadi 10,20 persen pada bulan Agustus.

“Adapun Dana pihak ketiga tercatat meningkat dari 7,17 persen (yoy) menjadi 8,15 persen (yoy), sementara tren kredit sedikit melambat dari 4,91 persen (yoy) menjadi 4,07 persen,” papar Suharman.

Dia menambahkan, berdasarkan jenis penggunaan peningkatan kredit terjadi pada semua jenis kredit. Meskipun sedikit melambat dibandingkan bulan lalu, dengan rincian Kredit Modal Kerja dari 3,16 persen menjadi 1,50 persen, Kredit Konsumsi dari 5,22 persen menjadi 4,98 persen dan Kredit Investasi melambat dari 6,59 persen menjadi 5,97 persen.

“Kredit ada peningkatan meskipun melambat dibandingkan bulan sebelumnya. Tapi kami yakin masih tetap bertumbuh,” harapnya.

Baca Juga
Lihat juga...