Harga Naik, Panen Melimpah, Pemilik Kebun Petai Sumringah

Editor: Mahadeva WS

302

LAMPUNG – Musim kemarau kali ini menjadi berkah bagi sejumlah petani pemilik kebun petai di Lampung Selatan. Petai mulai panen di awal Agustus lalu, dan saat ini harganya sedang naik signifikan.

Hamdan, salah satu pemilik kebun petai di Desa Taman Baru, Kecamatan Penengahan menyebut, saat para petani terimbas kekeringan, petai di kebun miliknya menjadi emas hijau yang bernilai ekonomis tinggi. Tanaman tersebut, banyak ditanam sebagai penaung tanaman kakao di kebun.

Harga buah petai saat ini sedang naik signifikan. Harga petai cukup bervariasi dengan rata rata per empong (berisi 100 keris atau petai), dibeli dari petani Rp110.000 hingga Rp120.000. Nilainya naik cukup banyak, karena sebelumnya hanya dihargai Rp60.000 hingga Rp70.000 per empong. “Harga petai naik karena musim kemarau banyak pohon yang meranggas sehingga buah petai minim, kalaupun ada yang berbuah, petani sudah menjual dengan harga mahal,” terang Hamdan saat ditemui Cendana News, Kamis (13/9/2018).

Sebagian tanaman petai jenis hibrida berbatang pendek milik warga Penengahan yang mulai dipanen [Foto: Henk Widi]
Harga Rp110.000 per empong dibeli dari petani dengan sistem tebas dua bulan sebelum panen. Sistem tebas atau ijon, menjadi cara agar petani tidak menjual ke pedagang lain. Separuh uang akan diberikan kepada pemilik kebun, dan akan dilunasi setelah proses pemanenan.

Saat dijual ke pengecer, harga pe empong petai sudah mencapai Rp150.000. Konsumen pembelian dalam jumlah banyak adalah pemilik usaha rumah makan. Dikebun miliknya, Hamdan bisa mendapatkan sekira 20 empong petai pada kali ini. Dari 10 pohon petai yang dimiliki kali ini, pendapatan yang bisa dikantongi mencapai Rp2 juta.

Meski sebagian berbuah lebat, sebagian bunga petai banyak yang rontok dan tidak menjadi buah. Hama pengganggu berupa bajing dan kelelawar, membuat sebagian petai miliknya rusak, sehingga harus dilakukan proses penyortiran. Panen petai yang cukup menjanjikan, menjadi penutup kerugian akibat anjloknya harga kakao.

Sistem penanaman beragam yang dilakukan, mampu menjadikan kebun milik Hamdan masih bernilai ekonomis. Dari kebunnya, Hamdan bisa menjual beli buah kakao, jengkol, kelapa, termasuk petai. “Sebagian pemilik kebun memang memilih menjual karena pasti tidak habis dikonsumsi sendiri, cukup satu pohon disisakan untuk kebutuhan keluarga,” tandas Hamdan.

Mistiatun, pemilik enam pohon petai di daerah yang sama menyebut, bisa memanen petai cukup banyak di tahun ini. Satu batang pohon dibeli tebas Hamdan seharga Rp700ribu. Dari panen kali ini, Mistiatun mendapatkan uang Rp3,5juta, karena satu pohon sengaja akan digunakan untuk oleh-oleh kerabatnya.

Musim buah petai setahun sekali diakui Mistiatun memberi hasil yang cukup lumayan baginya karena petai tidak membutuhkan perawatan khusus. “Pohon yang ada di kebun bahkan sebagian tumbuh alami, hanya jenis petai hibrida yang sengaja ditaman dengan membeli bibit dari pedagang bibit keliling,” sebut Mistiatun.

Harga petai per empong yang mencapai Rp110.000 hingga Rp120.000, disebutnya jauh lebih tinggi dibandingkan musim sebelumnya. Kondisi tersebut cukup menguntungkan, dan menjadi berkah. Uang hasil penjualan petai bisa digunakan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari dan ditabung untuk keperluan pendidikan anak.

Baca Juga
Lihat juga...