Harga Pakan Impor Tinggi, Peternak Ayam Mengeluh

Editor: Makmun Hidayat

358

SOLO — Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang masih tinggi, membuat peternak ayam petelur di wilayah Karanganyar, Solo, Jawa Tengah kelimpungan. Tingginya dolar mengakibatkan pakan hewan ternak mengalami kenaikan sangat tajam.

Supriyanto, salah satu peternak yang memiliki kandang di Jatipuro, Karanganyar menyebutkan dampak dolar saat ini sangat menyulitkan pelaku ternak, khususnya yang menggantungkan pakan dari impor. Pasalnya, nilai dolar Amerika saat ini masih berada diangka Rp14,936 mengakibatkan harga pakan naik drastis.

“Ini sangat pengaruh, karena konsentrat yang merupakan pakan ternak belinya secara impor. Sementara untuk harga telur kita tidak bisa menaikkan seenaknya sendiri,” keluh dia kepada Cendana News, Senin (10/09/2018).

Hal serupa dikatakan Sumardjo, peternak asal Jumantono, Karanganyar yang mengaku melemahnya rupiah juga meangakibatkan pasar telur lokal juga lesu. Sebab, rupiah yang jatuh mengakibatkan konsumsi telur di masyarakat berkurang. Kondisi ini membuat peternak menjadi tersandera dengan harga pakan yang membumbung tinggi.

“Kalau merugi sih belum. Tapi pakan konsentrat kita ganti dengan pakan lainnya, biar harganya masih bisa menutup,” kata Sumardjo.

Pemilik ribuan ayam petelur ini mengungkapkan, kenaikan harga pakan ternak (konsentrat) bahkan sudah terjadi sejak Agustus 2018 lalu. Melonjaknya dolar juga mengakibatkan harga pakan tak terkendali. Sebab, pakan konsentrat yang semula Rp5.500 per kilogram, saat ini naik tajam menjadi Rp8.000 per kilogram.

“Kalau harga pakan saat ini tidak naik, tapi bisa dibilang ganti harga. Jelas sangat berat bagi kami,” papar Supriyanto.

Yang membuat peternak semakin tersandera karena rendahnya nilai tukar rupiah adalah harga telur di pasaran saat ini tidak naik justru mengalami penurunan. Menurut Supriyanto kondisi ini harus benar-benar disiasati agar peternak tidak gulung tikar.

“Harga telur hari ini Rp17.300 per kilogram, padahal sebelumnya berkisar Rp17.800 per kg,” terangnya.

Upaya yang dilakukan adalah dengan mengganti konsentrat jagung dengan membeli pakan alternatif lainnya. Misalnya dengan meracik pakan alternatif menggunakan dedak dolog dengan dedak bekatul. “Konsentrat tetap diberikan, tapi porsinya dikurangi diganti yang lain. Hanya ini yang biasa kami lakukan,” tandas Sumardjo.

Bagi pelaku ternak, mereka berharap nilai tukar rupiah secepatnya dapat kembali normal. Sebab, jika terus-menerus tinggi dikhawatirkan peternak tidak kuat menahan gempuran nilai dolar yang mengakibatkan harga pakan semakin tak terbeli.

Baca Juga
Lihat juga...