Harga Pakan Ternak Terdampak Pelemahan Rupiah

Editor: Koko Triarko

261
LAMPUNG – Harga pakan ikan pabrikan atau pelet yang dijual sejumlah pedagang, mulai mengalami peningkatan, seiring pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS).
Sumino, pedagang pakan ikan di pasar tradisional Pasuruan, menyebut, pelemahan nilai tukar Rupiah hingga Senin (10/9/2018) mencapai Rp14.882,55 per Dolar AS, dan berdampak pada kenaikan harga pakan ikan dan unggas.
Menurutnya, kenaikan harga pakan ikan berkisar Rp500 hingga Rp1.000, untuk jenis pelet pakan ikan dan pur unggas. Kenaikan harga pakan ikan sudah terjadi saat nilai Rupiah mencapai Rp13.800 per Dolar AS.
Sumino, pedagang pakan ikan dan unggas di pasar tradisional Pasuruan [Foto: Henk Widi]
Ia menyebut, harga tersebut dihitung per kilogram, sementara stok untuk pakan ikan dan unggas dibeli berukuran satu sak atau 50 kilogram. Sebagian besar pelanggan diakuinya membeli dengan sistem eceran untuk kebutuhan pakan.
“Kenaikan harga dari distributor pakan memang sudah terjadi sejak tiga bulan lalu, dihitung per kilogram pakan untuk pakan ikan dan unggas jenis ayam, bebek, entok dan burung kicau,” terang Sumino, saat ditemui Cendana News, Senin (10/9/2018).
Sumino menyebut, harga pakan per sak untuk jenis pakan ikan naik Rp25.000. Pelet ikan lele, nila, emas, patin dengan kualitas sedang dijual seharga Rp6.000 per kilogram, naik menjadi Rp6.500, pelet kualitas medium seharga Rp7.000 naik menjadi Rp8.000 per kilogram, dan pakan kualitas premium semula Rp9.000 menjadi Rp10.000 per kilogram.
Selain pakan jenis pelet ikan, kata Sumino, kenaikan juga terjadi pada pakan konsentrat untuk pakan unggas. Jenis pakan konsentrat pabrikan dengan bahan utama dedak padi, jagung, bubuk ikan asin dijual eceran seharga Rp7.000 per kilogram, naik menjadi Rp7.500.
Jenis pakan untuk ayam pedaging (broiler) dan ayam petelur (layer) tersebut mengalami kenaikan Rp500 hingga Rp1.000 per kilogram. Harga tersebut merata terjadi pada semua jenis pakan yang dijual.
Kenaikan harga pakan tersebut membuat Sumino mengurangi jumlah stok pakan ikan, yang semula sekitar 2 ton menjadi 1 ton untuk kebutuhan satu bulan.
Pengurangan stok dilakukan, karena harga modal mengalami kenaikan. Selain itu, semenjak harga pakan ikan dan unggas mengalami kenaikan, sejumlah konsumen mengurangi pembelian pakan, dan menggunakan pakan alternatif.
Suhar, salah satu pemilik kolam ikan air tawar lele, nila, gurami dan emas mengaku sangat terdampak dengan kenaikan harga pakan. Jenis pakan ikan disebutnya kerap dibeli per satu sak Rp365.000, naik menjadi Rp390.000.
Sebagai bahan tambahan untuk pakan ikan, ia pun menggunakan pakan alami berupa dedak, hijauan daun talas, daun singkong, ubi jalar dan daun pepaya.
“Saat terjadi kenaikan harga pakan di tingkat penjual, saya harus kreatif mencari sumber pakan alternatif,” terang Suhar.
Jenis pakan hijauan berupa daun pepaya kerap digunakan sebagai makanan penyelang untuk mengurangi pakan pabrikan. Ikan lele yang dibudidayakan bisa dipanen sekitar tiga bulan, dan pakan yang dibeli masih menggunakan harga lama.
Kenaikan harga pakan tersebut menaikkan biaya produksi, meski harga ikan masih berkisar Rp17.000 untuk jenis ikan lele dan Rp18.000 per kilogram untuk jenis ikan patin.
Penggunaan pakan alternatif dari daun talas, daun ubi jalar, daun pepaya, dicari dari kebun sebagian ditanam di tepi kolam. Ia juga kerap mempergunakan dedak sisa penggilingan gabah.
Selain kenaikan harga pakan ikan, ia juga menyebut sebagai penghobi burung kicau dan pembudidaya ayam kampung, harga pakan juga naik. Jenis pakan burung kicau dari sorgum dan biji bijian yang dikemas disebutnya naik dari Rp9.000 menjadi Rp10.000 per bungkus berisi 250gram.
Sebagai pelengkap pakan, ia menanam ketan hitam khusus untuk pakan burung di lahan sawah miliknya mengurangi pembelian pakan dari toko.
Khusus untuk pakan ayam kampung, selain pur atau konsentrat yang dijual, Suhar menggunakan dedak. Dedak atau bekatul kerap dibeli dari pabrik penggilingan padi, yang semula seharga Rp30.000 per karung, naik menjadi Rp45.000 per karung.
Baca Juga
Lihat juga...